JURNALPOSMEDIA.COM – Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus sering dijustifikasi sebagai ritual penting dalam pembentukan karakter, pengenalan budaya kampus, dan pembentukan solidaritas antarangkatan. Namun, ketika praktiknya terlalu menekankan kontrol, hukuman kolektif, atau pemaksaan aktivitas yang tidak manusiawi, maka tujuan itu berubah menjadi sesuatu yang merugikan: bukan adaptasi, melainkan trauma. Dari pengalaman pribadi hingga berita-berita yang mencuat di media nasional, pola ini bukan sekadar anekdot; ia menunjukkan masalah struktural yang perlu dievaluasi dengan serius.
Dalam artikel yang diunggah Jurnalposmedia (https://jurnalposmedia.com/mawar-dan-luka-yang-tertinggal-setelah-ospek/). Sebut saja Mawar, mahasiswa semester tiga dengan pengalaman orientasi yang membuatnya berubah total. Alih-alih menjadi mahasiswa yang aktif dalam kegiatan jurusan, kini ia memilih mundur, menghindar dari interaksi sosial, dan meminimalkan aktivitas kampus karena sisa trauma dari ospek. Dari laporan lapangan, rangkaian kegiatan orientasi yang melibatkan tekanan verbal, bentakan dekat muka, dan pemaksaan aktivitas diluar batas kemampuan membuatnya mengambil keputusan untuk mencari pendampingan psikologis demi menjaga kesehatan mentalnya. Pengalaman itu tak hanya meninggalkan kapok; ia meninggalkan keraguan untuk kembali terlibat dalam komunitas akademik yang semula ia cita-citakan.
Kisah Mawar menunjukkan satu hal penting: orientasi yang seharusnya menjadi fase transisi yang positif bisa bertransformasi menjadi pengalaman yang justru membuat mahasiswa merasa tidak aman di lingkungan yang baru ia pilih sebagai tempat menimba ilmu.
Di lain tempat, sejumlah laporan media nasional mencatat beberapa kasus orientasi mahasiswa baru yang berujung tragedi. Dalam rangkuman yang diolah oleh Indozone (https://news.indozone.id/tau-gak-sih/911473347/5-kasus-ospek-di-indonesia-yang-berujung-maut), setidaknya lima insiden ospek di perguruan tinggi di Indonesia berujung pada kematian mahasiswa baru, seperti kasus Jonoly Untayanadi di IPDN Sulawesi Utara, dua maba yang tewas di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta Utara, serta beberapa mahasiswa lain di kampus berbeda yang kehilangan nyawa saat kegiatan ospek berlangsung atau seusai mengikuti rangkaian orientasi. Kasus-kasus ini memperlihatkan bahwa praktik orientasi yang seharusnya mendukung adaptasi bisa membawa konsekuensi paling fatal: tidak hanya trauma, tetapi juga hilangnya nyawa generasi muda yang baru memulai perjalanan akademiknya.
Dampak psikologis yang ditinggalkan juga tidak bisa diabaikan. Mengetahui rekan seperjuangan atau senior yang mengalami cedera berat atau meninggal saat orientasi dapat memicu kecemasan, ketakutan berlebih, dan mengubah persepsi maba terhadap lingkungan kampus sebagai sesuatu yang tidak lagi aman.
Selain itu, beberapa kejadian lain juga mencerminkan tradisi orientasi yang bermasalah. Misalnya, di masa lalu beredar video viral mahasiswa senior membentak mahasiswa baru secara keras saat kegiatan orientasi di sebuah universitas di Surabaya, sebuah bentuk tekanan verbal yang kemudian mendapat perhatian publik dan evaluasi dari pihak kampus setempat. (https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-5173716/kronologi-mahasiswa-senior-unesa-bentak-bentak-maba-saat-ospek?utm_)
Meskipun kejadian tersebut terjadi beberapa tahun lalu, keberadaannya masih relevan saat ini karena ia menggambarkan pola kekuasaan senioritas yang bisa membawa dampak negatif kepada mahasiswa baru.
Dari ospek yang berujung kematian hingga bentakan verbal, praktik-praktik yang seharusnya tidak mencerminkan semangat pembelajaran justru menunjukkan adanya budaya menekan junior yang belum sepenuhnya dihapus dalam praktik orientasi.
Untuk memperkuat gambaran dampak yang dialami mahasiswa baru, opini ini juga didasarkan pada kuesioner daring yang disusun oleh Tim Redaksi Divisi Online Jurnalposmedia (https://jurnalposmedia.com/survei-jurnalposmedia-877-persen-mahasiswa-sepakat-perubahan-ospek-menyeluruh/). Kuesioner tersebut disebarkan melalui Google Form pada periode 14 – 24 November 2025 dan berisi 18 pertanyaan yang mencakup pengalaman orientasi, tekanan psikologis, dan dampaknya setelah kegiatan usai.
Hingga periode pengambilan data, terdapat 65 responden mahasiswa dari berbagai universitas yang mengisi formulir secara sukarela melalui metode convenience sampling. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa 66,2% responden menyatakan setuju bahwa ospek jurusan lebih sering meninggalkan bekas trauma psikologis yang mendalam, sementara 73,8% responden menilai rasa segan atau takut kepada senior bukan didasari rasa hormat, melainkan sisa tekanan psikologis yang dialami saat ospek. Selain itu, 75,4% responden juga menyatakan bahwa efek tekanan psikologis tersebut bertahan lama setelah kegiatan ospek selesai. Temuan ini mengindikasikan bahwa dampak psikologis ospek tidak berhenti ketika rangkaian kegiatan berakhir, melainkan berlanjut dalam relasi mahasiswa baru dengan lingkungan kampusnya.



Karena sampel ditentukan secara non-probabilistik dan tidak mewakili seluruh populasi mahasiswa Indonesia, temuan ini bersifat indikatif, bukan inferensial. Namun demikian, data ini memberi sinyal kuat bahwa pengalaman negatif selama orientasi bukan kejadian aneh atau langka, melainkan fenomena yang banyak dialami mahasiswa baru.
Menurut seorang psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, praktik ospek yang menerapkan kekerasan verbal dan tekanan yang berlebihan tidak efektif dalam membentuk disiplin atau mental mahasiswa baru, dan justru dapat menimbulkan perpecahan dan rasa dendam dalam relasi sosial mereka. Ia menegaskan bahwa orientasi mahasiswa seharusnya membantu mahasiswa baru mengenali kehidupan kampus, bukan menciptakan ketakutan atau respons defensif yang berkepanjangan, pengalaman yang justru merugikan proses adaptasi awal mereka. (komentar Dra Ratna Djuwita, Dipl. Psych dalam analisis psikolog soal ospek keras) (https://psikologi.ui.ac.id/2020/09/24/benarkah-ospek-keras-bantu-membentuk-mental-maba-ini-kata-psikolog/?utm_)
Penelitian tentang praktik ospek (https://jurnal.umtapsel.ac.id/index.php/nusantara/article/view/19930/11586) menunjukkan bahwa kegiatan orientasi mahasiswa baru kerap mengandung kekerasan simbolik yang menempatkan mahasiswa baru dalam posisi subordinat terhadap senior. Tekanan tersebut tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga dapat berdampak pada kondisi psikologis dan pembentukan identitas mahasiswa, terutama ketika ospek dijalankan dengan pola relasi yang otoriter. Temuan ini memperkuat bahwa dampak ospek tidak selalu berakhir sebagai pengalaman adaptif, melainkan dapat meninggalkan tekanan dan persepsi negatif terhadap lingkungan kampus bagi mahasiswa baru.
Perlu diakui, tujuan orientasi mahasiswa baru tetap sahih: memperkenalkan budaya akademik, membangun solidaritas, dan membantu mahasiswa menavigasi lingkungan baru. Banyak kampus telah mengadopsi praktik orientasi yang konstruktif dan suportif, fokus pada mentoring, pengenalan akademik, kegiatan sosial yang kolaboratif, dan kegiatan yang menguatkan jaringan sosial tanpa tekanan yang merugikan.
Namun keberadaan kasus-kasus yang eksplosif seperti tekanan psikologis dan bentakan menunjukkan bahwa pelaksanaan orientasi masih sangat bergantung pada tradisi lama dan budaya senioritas yang belum dirombak secara menyeluruh.
Jika kampus sungguh-sungguh ingin menjaga martabat mahasiswa baru tanpa meniadakan nilai positif orientasi, maka evaluasi menyeluruh perlu dilakukan. Standarisasi pedoman ospek harus menegaskan prinsip non-kekerasan dan keselamatan mental, disertai pelatihan panitia agar mampu mendampingi peserta secara etis dan inklusif. Selain itu, kampus perlu menyediakan mekanisme pengaduan yang aman, transparan, serta akses layanan konseling psikologis selama dan setelah ospek berlangsung. Transparansi kepada orang tua atau wali mahasiswa mengenai tujuan dan pelaksanaan orientasi juga penting, agar praktik yang dijalankan dapat diawasi bersama. Seluruh proses ini idealnya ditutup dengan audit dan evaluasi tahunan yang dipublikasikan sebagai bentuk akuntabilitas institusi.
Kasus-kasus seperti yang dialami Mawar dan mahasiswa lainnya merupakan panggilan untuk merenung. Tradisi orientasi tidak perlu dihapus, tetapi realitas praktiknya harus dirombak agar tujuan yang sahih tidak berubah menjadi pengalaman yang menyisakan trauma. Bila kita ingin mencetak generasi mahasiswa yang tangguh, maka metode yang dipilih harus menghormati martabat dan keselamatan mereka, bukan merendahkannya.
















