Sat, 13 June 2026

Catatan Kecil, Mimpi Besar, dan Perjalanan Fadilla Menjadi Mahasiswa Berprestasi

Reporter: FATHIYA HANIN ZAHRANI QOLBI | Redaktur: RIANITARI LATIFA | Dibaca 368 kali

Sumber : Dokumentasi Pribadi

JURNALPOSMEDIA.COM- “Musuh terberat itu sebenarnya diri sendiri.”

Kalimat itu keluar tenang dari Siti Fadillatul Romdoni, yang akrab disapa Fadilla, saat ditanya tentang tantangan terberat selama menjalani proses menjadi mahasiswa berprestasi. Jawabannya singkat, tapi cukup menggambarkan perjalanan panjang yang selama ini ia jalani.

Di tengah ramainya lorong kampus pagi itu, mahasiswi semester enam Program Studi Ilmu Komunikasi Konsentrasi Jurnalistik UIN Bandung tersebut tampak sibuk membuka kalender dan catatan digital di ponselnya. Jadwal kuliah, kegiatan organisasi, hingga target pribadi yang harus diselesaikan hari itu tersusun rapi di sana. Bagi Fadilla, memulai hari tanpa memastikan agenda hampir tidak pernah terjadi.

Di balik kebiasaan kecil itu, ada proses yang ternyata tidak selalu mudah. Fadilla pernah berada di titik ketika rasa lelah datang bersamaan dengan hilangnya semangat. Tugas menumpuk, tanggung jawab datang hampir tanpa jeda, hingga muncul keinginan untuk berhenti sejenak dari semuanya.

“Kalau udah ketemu situasi kayak gitu, biasanya kita jadi orang yang enggak bergerak sama sekali. Enggak berproses, enggak berprogres,” ujarnya dalam wawancara via WhatsApp, Sabtu (16/5/2026).

Fadilla menyadari bahwa hidupnya memang tidak dimulai dengan banyak kemudahan. Ia bukan berasal dari keluarga berada, bukan juga datang dari lingkungan yang membuat semuanya terasa mudah dijalani.

“Fadilla enggak punya privilege apa pun. Orang tua Fadilla bukan siapa-siapa, dan Fadilla juga enggak kuliah di kampus top pada umumnya,” tuturnya.

Namun, justru dari situlah Fadilla belajar bahwa sesuatu yang terlihat biasa pun tetap dapat memiliki nilai selama terus diasah dan diperjuangkan. Ia percaya, setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang, meski jalannya mungkin lebih panjang dibanding yang lain.

Kesadaran itu akhirnya membentuk kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus ia jaga hingga sekarang. Untuk menjaga konsistensi, Fadilla terbiasa melakukan scheduling dan noting di kalender, notes, maupun memo di ponselnya. Semua agenda, mulai dari jadwal kuliah, kegiatan organisasi, sampai daftar pekerjaan harian, selalu ia susun agar tetap terarah.

“Karena itu ngebantu banget buat remind kita punya agenda apa, punya to-do apa setiap hari,” katanya.

Namun, ada satu kalimat sederhana yang diam-diam selalu jadi pengingat untuk dirinya sendiri saat rasa malas datang.

“Jangan malas, bapak kau bukan presiden.”

Kalimat itu terdengar seperti candaan, tetapi justru menjadi cara Fadilla menyadarkan dirinya sendiri bahwa hidup tetap harus berjalan, meski terkadang rasa lelah datang bertubi-tubi.

Meski begitu, Fadilla juga memahami bahwa manusia memiliki batas. Saat tubuh terasa terlalu lelah atau pikirannya mulai penuh, ia memilih berhenti sejenak, mengambil jarak dari riuhnya aktivitas, lalu kembali mengingat alasan kenapa semua proses itu dimulai.

“Biasanya aku refleksi. Ingat lagi alasan kita memulai semua ini untuk apa,” tuturnya.

Refleksi itu pula yang membantunya bertahan ketika kegagalan datang berkali-kali. Sejak 2023, Fadilla mulai memberanikan diri mendaftarkan berbagai program, beasiswa, hingga kesempatan internasional. Satu demi satu formulir dikirim, satu demi satu harapan disimpan. Namun, hasilnya tidak selalu sesuai yang diinginkan. Dari belasan program yang ia coba, banyak diantaranya berakhir dengan penolakan.

Rasa lelah tentu  pernah datang. Keinginan untuk menyerah juga pernah. Ada masa ketika semuanya terasa terlalu padat dan melelahkan. Namun, Fadilla tahu bahwa jika ia  berhenti di tengah jalan, semua proses panjang yang sudah ia jalani juga akan berhenti begitu saja.

Hingga akhirnya, keberanian untuk terus mencoba membawanya pada berbagai kesempatan yang dulu hanya ia simpan sebagai mimpi. Fadilla berhasil mengikuti program internship internasional di Youth Break the Boundaries sebagai Head of News Writer dan menulis lebih dari 100 artikel serta berita berorientasi global dalam bahasa Inggris. Dari program tersebut, ia juga mendapat kesempatan mengikuti kegiatan internasional hingga ke Malaysia dan Thailand.

Perjalanan itu kemudian membuka lebih banyak kesempatan lain. Fadilla berhasil lolos sebagai Google Student Ambassador 2026 dan meraih Best Digital Impact Award dalam Womenspirasi Summit 4.0 bersama 160 delegasi nasional. Di bidang jurnalistik, ia juga pernah menjalani internship di CNN Indonesia Biro Jawa Barat, mengikuti liputan lapangan, melakukan wawancara, hingga menghasilkan berbagai paket berita.

Namun, bagi Fadilla, semua pencapaian itu bukan tentang siapa yang paling cepat sampai tujuan. Semua itu lahir dari proses panjang, dari rasa capek yang tetap dipaksa berjalan, dan dari keberanian untuk mencoba lagi meski sebelumnya berkali-kali gagal.

“Kalau misalnya kita enggak keras sama diri sendiri, kita enggak akan kuat lawan kerasnya kehidupan,” ujarnya.

Dan mungkin, dari semua perjalanan itu, Fadilla sedang membuktikan satu hal sederhana: mimpi memang tidak selalu datang ke orang yang paling cepat, tapi sering kali datang ke mereka yang memilih tetap bertahan.

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama