Mon, 16 February 2026

Mawar dan Luka yang Tertinggal setelah Ospek

Reporter: ANGGIA ANANDA SAFITRI & NADWA DWI NURCAHYO | Redaktur: KHOIRUNNISA FEBRIANI SOFWAN | Dibaca 1526 kali

(Ilustrasi: Anggia Ananda Safitri/Jurnalposmedia)

JURNALPOSMEDIA.COM – Sebut saja Mawar, seorang mahasiswa yang hingga kini masih menyimpan trauma setelah mengikuti ospek. Jam menunjukkan hampir pukul tiga dini hari ketika Mawar berdiri di tepi kolam. Udara dingin menusuk kulit, air terlihat keruh, dan suasana ospek terasa asing. Di tengah gelap malam, suara bentakan senior terdengar lebih keras dari detak jantungnya sendiri. Malam itu, Mawar tahu, ada sesuatu dalam dirinya yang berubah.

Ospek yang seharusnya menjadi pintu awal kehidupan kampus justru meninggalkan luka. Mawar bukan tipe orang yang tahan dengan tekanan verbal. Ia mengaku, “Lu tahu kan gue orangnya nggak bisa dibentak? Gue bisa langsung panik atau gemeteran,” ujarnya ketika diwawancarai Jurnalposmedia pada Rabu (19/11/2025). Namun kondisi itu seakan tak berarti saat kegiatan ospek berlangsung.

Bentakan senior diterimanya secara langsung, dari jarak yang sangat dekat. Mawar dipaksa tetap berdiri tegap meski tubuhnya gemetar. “Senior bentak-bentak gue kenceng banget tepat di depan muka. Gue takut banget waktu itu, tapi dipaksa buat tetap tegap. Itu rasanya sakit banget di hati dan bikin gue drop,” ungkapnya.

Trauma itu tidak berhenti di situ. Puncaknya terjadi saat ospek luar ruangan pada dini hari. Mawar masih mengingat jelas perintah yang diterimanya. “Jam 3 pagi, disuruh nyebur air kotor, sambil dibentak-bentak senior,” katanya. Dalam kondisi gelap, dingin, dan penuh tekanan, Mawar merasa kehilangan kendali atas dirinya sendiri. “Gue ngerasa nggak berdaya banget di situ,” ungkapnya.

Saat ia mengingat kembali rangkaian kejadian tersebut, Mawar terlihat tidak nyaman. Ia beberapa kali terdiam dan mengalihkan pandangan, seolah berusaha menjauh dari ingatan yang masih terasa berat. Pembicaraan tentang ospek membuat jawabannya semakin singkat, dan tersirat keinginan untuk segera mengakhiri cerita itu. Bagi Mawar, mengingat kembali pengalaman tersebut bukan sekadar menceritakan masa lalu, melainkan membuka kembali luka yang belum sepenuhnya sembuh.

Sejak kejadian itu, rasa takut terus menghantui. Bukan hanya saat mengingat ospek, tetapi juga dalam kehidupan kampus sehari-hari. “Sejak kejadian itu gue jadi ketakutan kalau liat kakak tingkat,” ujarnya. Kampus yang dulu terasa biasa kini menjadi ruang yang memicu kecemasan.

Dampak ospek itu perlahan merembet ke kondisi mentalnya. Mawar akhirnya memutuskan mencari bantuan profesional. “Gue sampai harus ke psikolog buat konsultasi sama terapi,” ungkapnya. Keputusan itu tidak mudah, apalagi dengan biaya yang harus ditanggung. “Mahal banget. Duit gue habis banyak cuma buat benerin mental gara-gara ospek doang. Gue stres berat,” tuturnya.

Dampak dari ospek tersebut nyatanya sangat mahal. Pasca ospek, Mawar didiagnosis mengalami gejala tics, yakni gerakan otot wajah atau mata yang kadang tidak terkontrol sebagai respons tubuh terhadap stres berat yang dialaminya.

Lebih dari sekadar kelelahan, Mawar membawa pulang perasaan kehilangan martabat. “Gue merasa nggak dihargain sebagai manusia pas kegiatan itu,” ujarnya. Kalimat itu menjadi cerminan luka yang tak kasat mata, namun nyata dampaknya.

Perubahan sikap Mawar pun terlihat jelas. Mahasiswa yang sebelumnya aktif kini memilih menarik diri. “Gue males. Gue takut ketemu senior yang dulu bentak-bentak gue. Mending gue fokus kuliah aja, beres kelas langsung pulang, terus nutup diri dari kegiatan kampus. Gue udah ilfeel parah,” katanya.

Menutup diri menjadi cara Mawar bertahan. Ia memilih diam, menjauh, dan membatasi ruang geraknya sendiri demi rasa aman. Kampus yang seharusnya menjadi tempat tumbuh perlahan berubah menjadi ruang yang mengingatkannya pada rasa takut dan ketidakberdayaan.

Mawar hanyalah satu potret dari banyak cerita yang jarang terdengar. Di balik label tradisi dan pembentukan mental, ada mahasiswa yang pulang membawa luka. Ia tidak menuntut apa pun, selain satu hal sederhana: diperlakukan sebagai manusia, yang punya batas, rasa takut, dan hak untuk merasa aman.

Bagikan :
guest
0 Komentar
Terlama
Terbaru Suara Banyak
Inline Feedbacks
View all comments