Thu, 20 June 2024

Menyambut Ramadhan 2020 Ditengah Pandemi Covid-19

Reporter: Sintamia | Redaktur: Rais Maulana Ihsan | Dibaca 196 kali

Tue, 21 April 2020
Ramadhan 2020 akan terasa berbeda seperti sebelmnya. (Fatmala Dewiningsih/Kontributor)

]JURNALPOSMEDIA.COM Ramadhan adalah bulan suci yang paling dinantikan oleh seluruh umat Muslim di dunia, keistimewaanya tidak akan dijumpai di bulan lainnya, Segala amal kebaikan akan mendapat pahala yang dilipatgandakan. Adapula ibadah yang hanya dilaksanakan pada bulan ini saja seperti puasa wajib dan salat tarawih. Tentu saja hal tersebut hanya dapat dirasakan satu tahun sekali.

Karena sangat dinantikan, beragam tradisi dilakukan oleh umat Muslim dalam menyambut bulan penuh berkah ini. Di Indonesia ada beberapa tradisi yang biasa dilakukan, contohnya buka puasa bersama (bukber), sahur on the road, berburu takjil di pasar kaget, ngaji pasaran (kajian kitab kuning), hingga takbir keliling di malam terakhir bulan Ramadhan.

Namun, mengingat pandemi Covid-19 yang hingga saat ini masih terus meningkat penyebarannya. Sepertinya tradisi-tradisi tersebut akan sulit untuk dilakukan seperti biasanya, dengan kata lain ditiadakan untuk sementara waktu. Hal tersebut dikarenakan adanya kebijakan Physical Distancing, anjuran di rumah saja, dan PSBB di beberapa kota.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, mengimbau umat Muslim di Indonesia agar tidak melakukan buka puasa bersama. Lalu, meminta melakukan kegiatan di rumah saja selama Ramadhan termasuk dalam hal beribadah, pada siaran langsung konferensi persnya, Jum’at (17/04/2020).

Sebelumnya pada Senin, (06/04/2020), Kementrian Agama sudah mengeluarkan Surat Edaran No. 6 Tahun 2020 tentang panduan ibadah Ramadhan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441 H di tengah pandemi wabah covid-19. Dalam surat tersebut, diantaranya umat Islam diimbau agar menjalankan ibadah di rumah. Selain itu, meniadakan salat Idul Fitri baik itu di masjid maupun lapangan, dan menunggu Fatwa MUI menjelang waktunya.

Tentunya hal tersebut dilaksanakan jika situasi dan kondisi masih tidak memungkinkan. Surat edaran tersebut dibuat dan diedarkan jauh-jauh hari sebelum bulan Ramadhan tiba, agar umat Muslim di Indonesia bisa mempersiapkan diri.

Bulan Ramadhan tahun ini akan terasa berbeda dari yang telah kita lalui sebelumnya. Melalui ibadah dan tradisi di bulan suci sejatinya dapat menjadi ajang silaturahmi dengan tetangga atau orang-orang yang jarang bertemu sebelumnya. Akan tetapi, bukan berarti menyurutkan semangat kita dalam beribadah, justru harus menunjukkan bahwa kita termasuk golongan orang yang sabar, takwa, serta tawakal.

Sebagaimana dikatakan Kamaruddin Amin, dalam siaran langsung konferensi persnya bahwa kualitas ibadah tidak hanya ditentukan oleh lokasi di mana kita beribadah. Tetapi yang tidak kalah pentingnya juga ditentukan oleh keikhlasan, kekhusyu’an, dan kesucian jiwa.

Pernyataan Amin tersebut, bukan berdasarkan pemikiran sepihak akan tetapi memang berdasarkan dalil. Terlebih lagi ada udzur/alasan yang mewajibkan kita untuk sebaiknya tetap berada dan beribadah di rumah.

Akan sangat dirasakan kerinduan sholat tarawih berjama’ah di masjid, tadarus bersama setelahnya, dan berbagai kegiatan lainnya. Kenikmatan dari Allah tersebut sering kali dilupakan atau bahkan tidak disadari, karena awalnya kita anggap biasa saja/sudah menjadi rutinitas yang nanti bisa dirasakan kembali.

Kerinduan tersebut harus bisa menjadi pemacu semangat dan menyadarkan kita akan pentingnya memanfaatkan waktu dan nikmat dari Allah dengan sebaik-baiknya. Karena ternyata kita tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi nanti, esok atau bahkan sedetik kemudian.

Di rumah saja, bukan berarti tidak bisa mengikuti ngaji pasaran, pesantren kilat ramadhan, dan bersilaturahmi. Walaupun tidak bisa secara langsung/tatap muka sebagaimana biasanya, kita masih bisa melakukan hal tersebut via daring/media online.

Walaupun sebelum ada ujian ini kita terlalu sibuk dengan dunia, hingga tak menyempatkan diri untuk dekat kepada Allah atau bahkan hanya untuk berdo’a kepada-Nya. Sudah seharusnya saat ini kita isi waktu luang selama di rumah untuk beribadah, berdo’a, bermuhasabah, yang intinya untuk membuat kita lebih dekat dengan Sang Pencipta.

Perlu diingat, dibalik musibah juga terdapat kenikmatan yang Allah berikan, yakni menjadikan lebih banyak waktu bersama keluarga, yang sebelumnya jarang bertemu atau sibuk sendiri-sendiri. Selagi berkumpul, hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk quality time bersama mereka, termasuk dalam hal beribadah.

Bagikan :
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments