Sat, 24 February 2024

Merasa Tak Pintar Sebab Tak Baca Buku, Apakah Budaya Literasi Indonesia Rendah?

Reporter: Rafi Mufti Wijaya/Kontributor | Redaktur: Siti Barkah | Dibaca 118 kali

Fri, 15 April 2022
Sumber Gambar : Freepik.com

JURNALPOSMEDIA.COM – Berbicara mengenai budaya literasi, pada tahun 2021 Perpustakaan Kementerian Dalam Negeri merilis artikel yang berjudul “Tingkat Literasi Indonesia di Dunia Rendah, Ranking 62 dari 70 Negara”.

Bersumber dari hasil survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, Indonesia menempati peringkat 62 dari 70 negara dengan budaya literasi rendah.

Setelah membaca artikel tersebut, dalam pikiran saya bertanya-tanya. Apakah benar jika Indonesia serendah itu dalam bidang literasi?

Budaya literasi yang biasa digaungkan oleh pegiat literasi, kebiasaan manusia dalam hal membaca dan menulis serta berpikir kritis. Ketika berbicara budaya membaca, hal yang terlintas dibenak kita semua tentu aktivitas membaca buku, novel, majalah, atau sebagainya.

Semua itu memang benar. Aktivitas tersebut juga termasuk ke dalam kegiatan literasi. Namun, apakah kita sedangkal itu memaknai kata ‘membaca’?

Poin utama yang akan saya ulas dalam tulisan ini adalah memaknai kata ‘membaca’.

Ketika kita merujuk pada sejarah ‘perintah pertama Tuhan (Allah SWT) kepada Nabi Muhammad SAW’, maka jawabannya adalah ‘Iqro’ atau yang artinya ‘bacalah’.

Apakah pernah kita berimajinasi ke zaman Rasulullah, dengan memikirkan terkait apa yang mereka baca pada zaman itu? Apakah sudah ada buku? Apakah sudah ada website? dan ketika kita merujuk cerita-cerita guru kita tentang Nabi Muhammad SAW, beliau mengatakan bahwa Nabi Muhammad tidak bisa membaca dan menulis.

Lantas tujuan Tuhan memberi perintah kepada Nabi Muhammad SAW untuk membaca. Apa yang akan dibaca Nabi?

Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, munculah kesimpulan yang belum tentu benar. Kesimpulan itu datang dari hasil cerita teman-teman saya di tongkrongan. Jawabannya terletak pada bagaimana kita dapat membaca situasi, keadaan, fenomena, atau dalam istilah lain adalah ‘ayat-ayat Tuhan yang tak tertulis’.

Maka dari itu, apakah sudah tepat ketika mengukur ‘budaya literasi’, dengan cara menghitung jumlah buku yang dibaca oleh setiap individu? Coba anda bayangkan berapa banyak orang yang membaca buku di Indonesia. Apakah sudah tepat? Itu terserah kalian dalam memaknai kata membaca.

Menurut saya, membaca buku adalah sama halnya dengan membaca suatu fenomena atau keadaan dari sudut pandang lain (penulis buku). Maka dari itu, ketika setiap individu mampu membaca suatu fenomena, situasi, atau ayat-ayat Tuhan yang tak tertulis dari berbagai sudut pandang (dalam dirinya), sama halnya dengan kalian membaca buku atau menciptakan buku dari dalam diri kalian sendiri.

Saran saya untuk kalian yang membaca tulisan ini. Jangan merasa bodoh, jangan merasa tidak pintar, tetap santai, nikmati setiap detik hidup kalian, dan beri ‘makna’ dalam setiap detik tersebut.

Bagikan :
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments