JURNALPOSMEDIA.COM – Sejumlah ekonom dan media nasional mulai mengingatkan publik terhadap risiko nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Pada Selasa (28/4/2026) nilai tukar rupiah melemah 12 poin atau 0,07 persen dari yang sebelumnya berada di level Rp17.211 menjadi Rp17.223.
Dilansir Kompas.com Ekonom Senior Universitas Paramadina sekaligus praktisi kebijakan publik, Wijayanto Samirin, menyebut terdapat sejumlah dampak yang dapat terjadi jika nilai tukar kian melemah.
“Tidak diharapkan 1 USD mencapai Rp20.000 dalam waktu dekat. Namun jika itu terjadi, dampaknya akan segera terasa,” ujarnya saat dimintai pandangan oleh Kompas.com.
Salah satu dampak yang paling terasa adalah kenaikan harga barang impor. Karena mayoritas bahan baku dan peralatan produksi, seperti bahan kimia, suku cadang dan peralatan elektronik diimpor dalam bentuk dolar, biaya produksi akan naik. Dan kenaikan itu akan berpotensi diteruskan ke konsumen melalui harga yang lebih tinggi.
Selain itu, utang negara dan korporasi berbasis dolar juga akan semakin mahal seiring melemahnya nilai tukar rupiah. Hal ini dapat memicu tekanan terhadap anggaran negara, belanja pemerintah, bahkan investor swasta. Di sisi lain, capital outflow (arus keluar modal) berpotensi meningkat akibat menurunnya kepercayaan terhadap rupiah, yang pada akhirnya dapat menekan nilai tukar lebih dalam.
Wijayanto mengatakan, bahwa terdapat komunikasi yang buruk dari pemerintah, terkhusus dari Menteri Keuangan dalam 1 hingga 2 minggu terakhir.
“Misalnya terkait ide menjajaki Selat Malaka dan menolak tawaran utang Dana Moneter Internasional (IMF),” ungkapnya.
Menurutnya, hal ini justru mengindikasikan bahwa IMF menilai Indonesia mengalami kesulitan fiskal hingga menawarkan utang tersebut.
Dikutip dari Kontan.co, dengan demikian defisit primary income yang membesar menunjukkan bahwa Indonesia mengeluarkan banyak devisa untuk membayar imbalan kepada investor asing berupa dividen dan bunga investasi. Kondisi ini menambah tekanan pada neraca pembayaran dan membuat nilai tukar rupiah lebih rentan terhadap arus modal keluar.
Oleh karena itu, penting untuk mendorong investasi produktif yang menghasilkan nilai tambah lebih besar. Langkah ini dapat membantu mengurangi ketergantungan pada modal asing dan memperkuat ketahanan perekonomian Indonesia di tengah gejolak global.
















