JURNALPOSMEDIA.COM – Berawal dari hobi yang digemari hingga menjadi usaha yang menguntungkan. Hobi memasak mengantarkan Mubadi (68) membangun usaha kuliner di Kantin Merah (Kanmer) UIN Bandung. Pria asal Yogyakarta tersebut merintis usaha sejak 2016. Usaha ini berhasil menarik perhatian mahasiswa UIN Bandung dengan keunikan yang terpancar dari tampilan nasi gorengnya itu sendiri.
“Apa yang kita senangi, itulah yang kita usahakan dan tekuni,” ujar Mubadi saat diwawancarai Jurnalposmedia di Kanmer, Rabu (13/5/2026).
Mubadi mengaku memiliki hobi memasak sejak kecil. Ia juga sering mencoba berbagai makanan.
“Saya itu orangnya suka jajan dan suka masak dari kecil,” ujarnya gembira.
Berbagai percobaan dan penilaiannya terhadap berbagai makanan yang pernah ia cicipi, berhasil menumbuhkan ide dan keinginan untuk membuka usaha sendiri dengan cita rasa yang berbeda dan unik sesuai dengan seleranya. Hal tersebut mendorongnya untuk membuka usaha kuliner sendiri.
Kanmer UIN menjadi tempat awal ia memulai usaha kuliner. Selain tempatnya yang strategis, ramainya pelanggan menjadi alasan tempat ini tertanam harapan dan impian di dalamnya. Dalam menjalankan usahanya, ia tidak hanya sendiri, melainkan ditemani dengan sang istri tercinta, Mutia (65).
“Dia itu teman saya dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga jadi Sales Promotion Girl (SPG) dan juga teman sekampung,” ujarnya.
Pasangan tersebut menggunakan nama “Kantin UIN Pakde” sebagai identitas usaha. Nama tersebut berhasil memberikan kesan familiar dan sederhana, tetapi mudah diingat dan dikenang mahasiswa UIN Bandung.
Dari usaha yang dibangunnya, ada beberapa menu yang tersedia, salah satunya adalah nasi goreng. Namun, nasi goreng buatan milik sepasang suami-istri ini berbeda dibanding menu sejenis lainnya, terutama pada tampilannya yang unik dan estetik serta pelayanannya yang ramah dan hangat.
Nasi goreng cantik dan nasi goreng kampung adalah menu andalan dan paling diminati mahasiswa UIN Bandung. Disajikan dengan balutan telur dadar yang menutupi nasi goreng dan membentuk seperti bunga sehingga memberikan kesan cantik dan estetik, itulah alasannya disebut dengan “Nasi Goreng Cantik.”
“Nasi goreng milik saya yaitu ‘Nasi Goreng Cantik’ jelas penampilannya cantik. Namanya juga nasi goreng cantik, udah pasti yang belinya juga cantik dan rasanya juga bisa dibandingkan dengan nasi goreng lainnya alias enak,” ujarnya.
Ada juga “Nasi Goreng Kampung” dengan ciri khasnya menggunakan kencur dan tidak menggunakan sosis, tetapi menggunakan daging ayam sebagai penggantinya, serta disajikan dengan cita rasa dan tampilan khas ala kampung yang autentik.
“Nasi goreng tersebut boleh dikatakan disukai oleh anak mahasiswa maupun non-mahasiswa. Bahkan, kemarin ada dosen UIN yang satu jamaah dengan saya di masjid, beliau datang ke sini hanya ingin membuktikan nasi goreng kampung saya dan alhamdulillah-nya dia bilang ‘Top Pak kapan-kapan saya ke sini lagi.’ begitu,” ungkapnya dengan penuh semangat.
Nasi Goreng Cantik dan Nasi Goreng Kampung dijual dengan harga yang sama yaitu seharga Rp13.000. Dengan harga tersebut, kualitas makanan yang dihidangkan dan tempat yang nyaman untuk sekadar istirahat dan makan sejenak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Salah satu pelanggan, Laila Srianjani, menilai harga nasi goreng tersebut sesuai dengan tampilan dan porsinya. Ia mengaku tertarik dengan bentuk penyajian menu yang berbeda dari nasi goreng pada umumnya.
“Sebanding banget, karena telurnya itu dicampur dengan nasi gorengnya terus ada telur lagi di atasnya yang membentuk seperti bunga. Estetik banget. Namanya juga Nasi Goreng Cantik, yang beli pasti cantik,” ujarnya sambil tertawa.
Kantin UIN Pakde ini biasanya buka pada pukul 07.30-15.30 WIB untuk hari Senin-Jumat. Pada hari Sabtu-Minggu, buka seperti biasa, tetapi hanya hingga waktu dzuhur.
Selain memberikan cita rasa dan keunikan yang berbeda, pelayanan ramah pasangan suami-istri tersebut juga memberikan kesan bagi pelanggan. Laila Srianjani mengaku merasa nyaman saat membeli nasi goreng di Kantin UIN Pakde.
“Apalagi suami-istri yang jualannya. Jadi, kita sebagai pembeli atau konsumen itu kayak mereka mengerti love-language kita terpenuhi di sana, secara langsung mereka tutupi makanan kita pas aku lagi beli minuman karena takut ada lalat dan nawarin juga mau ditambah apa di dalam nasi gorengnya,” ujarnya sambil tersipu malu.
Tampilan menu yang khas serta pelayanan hangat membuat Kantin UIN Pakde tetap menarik perhatian mahasiswa UIN Bandung. Keunikan tampilan nasi goreng dan pelayanan ramah membuat Kantin UIN Pakde tetap diminati mahasiswa.
















