Tue, 9 June 2026

Menu Favorit Mahasiswa di Kantin Merah UIN Bandung: Nasi Tutug Oncom Warung Nasi Bunda Gorowok

Reporter: SITI NURUNNAJMI ZAKIAH | Redaktur: RIANITARI LATIFA | Dibaca 122 kali

Sumber Foto: Siti Nurunnajmi Zakiah

JURNALPOSMEDIA.COM – Di tengah ramainya warung makan sederhana yang murah meriah yang ramai karena mahasiswa, warung “Bunda Gorowok” hadir menjadi salah satu warung nasi di kantin kampus UIN Bandung yang rugi jika dilewatkan. Aroma khas dari ayam geprek dan nasi tutug oncom lalu dipadukan dengan sambal hijau atau merah yang kaya akan rasa, membuat nafsu makan melonjak dan seolah menjadi penarik bagi pelanggan yang datang, terutama saat jam makan siang.

Menu yang banyak diminati dan menjadi andalan di warung ini adalah nasi tutug oncom atau yang biasa disebut nasi TO, dipadukan dengan ayam geprek bercita rasa pedas khas racikan sang pemilik. Menurut Bunda Julia, mayoritas pelanggan yang datang adalah mahasiswa yang sudah berlangganan sejak lama.

Menu andalan disini adalah nasi tutug oncom dan ayam geprek dengan sambelnya yang nendang, karena rata-rata mahasiswa yang beli disini tuh, beli laginya ayam geprek ditambah nasi tutug oncomnya,ujarnya saat diwawancarai Jurnalposmedia, Rabu (13/5/2026)

Usaha ini adalah ide yang direalisasikan sendiri oleh sang pemilik sejak tahun 2013. Sebelum warung tersebut bernama “Bunda Gorowok”, sang pemilik awalnya menamai usaha tersebut dengan “Ayam Gorowok”. Namun seiring waktu, nama itu diubah menjadi “Bunda Gorowok” dengan tujuan supaya lebih mudah diingat dan dikenal.

Usaha Bunda Gorowok ini tidak terus berjalan dengan lancar, sebelum menetap di lokasi sekarang, Bunda sempat berjualan di kantin atas atau biasa dikenal mahasiswa dengan sebutan kantin ijo. Pada awalnya ia mengira akan berjalan lancar dan laris manis, dan ternyata bunda pernah tidak mendapatkan uang sepeserpun. Saat ia memutuskan berpindah lokasi di kantin merah, ternyata usahanya ini lebih ramai dibanding di tempat sebelumnya. Dan ia akhirnya memutuskan untuk bertahan dan mengembangkan usahanya di sana.

“Dulu bunda kira bakal banyak yang beli, tapi ternyata salah, bahkan ga dapet uang sepeserpun. Tapi Alhamdulillah berkat konsisten dan bertahan,  sekarang sehari bisa sampai habis 15 kg ayam,” kenangnya haru. 

Disaat harga bahan pokok hingga kemasan plastik sekarang sedang naik, warung ini menetapkan harga makanan yang murah dan porsi yang melimpah. Bunda Julia mengaku harus pintar memutar dan mengatur keuntungan agar harga nya tetap murah.

Salah satu hal yang membuat pelanggan terus kembali dan berlangganan adalah rasa yang tetap konsisten dan dipertahankan sejak awal warung ini buka. Resep masakan yang dipakai tidak diubah setetes pun, termasuk sambal khas yang dikenal pedas dan “nendang”. Selain rasa, kebersihan warung juga menjadi hal yang paling penting. Menurut Bunda Julia,  tempat makan yang bersih membuat pelanggan merasa nyaman dan lebih tertarik untuk datang kembali.

Popularitas warung ini juga diakui langsung oleh para pelanggan dengan nama warungnya yang mudah diingat. Salah satu pelanggan, Kiki mengatakan pertama kali mengetahui warung tersebut dari teman-temannya dan langsung merasa cocok dengan seleranya setelah mencobanya.

“Waktu pertama kali beli, kayak enak banget, ga nyangka ini enak. Awalnya aku tau dari teman, eh ternyata worth it banget kalau mau beli, karena harganya affordable jadi cocok buat kita anak mahasiswa dan anak kos,” ungkap Kiki.

Kiki menyebutkan alasan warung ini cepat dikenal di kalangan mahasiswa, yaitu karena rekomendasi dari satu teman ke teman lainnya. Ramainya pembeli menjadi rutinitas sehari-hari di warung ini, terutama saat jam istirahat kampus. Antrean yang panjang sering terjadi ketika waktu makan siang tiba.

Bagi pelanggan setia warung ini,  salah satu menu  utama yang menjadi daya tarik  dari warung ini adalah nasi tutug oncomnya yang dianggap autentik dengan cita rasa khas Sunda.

Karena kan tutug oncom itu asli Sunda ya, dan menurut aku ini tuh cocok banget di lidah aku yang emang suka masakan Sunda, apalagi kadang susah nyari nasi tutug oncom yang enak tapi murah,” tutur Kiki.

Tak hanya soal rasa dari masakannya,  pelayanan yang ramah membuat pelanggan terus kembali. Pemilik warung ini yaitu “Bunda”  dinilai memiliki sikap hangat yang membuat mahasiswa merasa nyaman karena selalu disambut dengan hangat. 

Meski telah memiliki banyak pelanggan setia, dan dikenal banyak mahasiswa, Bunda tetap mengharapkan hal-hal sederhana untuk usahanya ke depan. Harapan warungnya terus ramai, semakin dikenal banyak orang, dan biaya sewa tempat tidak semakin mahal agar usaha kecilnya tetap bertahan adalah hal sederhana yang selalu menjadi doa Bunda  setiap harinya.

Di balik sederhananya warung nasi ini, ada cerita yang selalu tersimpan dalam ingatannya. Perjuangan panjang tentang ketekunan, konsistensi rasa, dan semangat untuk terus bertahan demi para pelanggan setianya.

Kini, setelah 13 tahun lamanya berjualan, usaha Bunda Gorowok berkembang pesat. Saat dulu dagangannya yang sepi pelanggan, tidak banyak dikenal orang, hingga pernah  hanya menjual air gelas, tetapi kini karena ambisi nya, ia berhasil mencapai dalam sehari bisa menghabiskan hingga 15 kilogram ayam. Bunda Julia berhasil membuktikan bahwa ia akan berhasil dan bisa mencapai semua harapannya, yang dulu mungkin hanya sebuah angan saja.

 

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama