Fri, 15 May 2026

Tetap Ramai Sejak Dulu, Pangyam Elang Jadi Ikon Lampu Pecah

Reporter: AZZAHRA FADILAH FUTRI | Redaktur: RIANITARI LATIFA | Dibaca 11 kali

Sumber Foto: Syahrul Ramadan/Kontributor

JURNALPOSMEDIA.COM Suasana teduh langsung terasa ketika memasuki kawasan Lampu Pecah (LP) di UIN Bandung. Di tengah rindangnya pohon, kursi-kursi panjang di sekitar kantin dipenuhi mahasiswa yang duduk santai menikmati jajanan. Suara obrolan dan tawa terdengar dari beberapa kelompok mahasiswa yang sedang berdiskusi maupun bercanda bersama teman. 

Salah satu tempat yang paling ramai dikunjungi adalah gerobak Pangyam Elang. Meski terlihat sederhana, gerobak tersebut hampir tidak pernah sepi pembeli karena menjadi tempat berkumpul mahasiswa setiap hari.

Pangyam merupakan jajanan yang memiliki rasa gurih dan sedikit pedas dengan perpaduan bumbu yang khas dan tekstur mienya yang lembut serta ringan saat dimakan.  Rasanya yang sederhana tetapi nikmat membuat pangyam menjadi salah satu jajanan favorit mahasiswa di kawasan LP.

Penjual pangyam, Elang, mengatakan dirinya mulai berjualan di kawasan LP setelah masa COVID-19. Sebelumnya ia sudah lama berjualan di area dalam kantin sejak zaman UIN Bandung masih berstatus IAIN.

“Kalau disini mah nyaman, anak-anak bisa nongkrong, ngobrol, dan suasana lebih terbuka,” ujar Elang saat diwawancarai Jurnalposmedia, Selasa (12/5/2026).

Menu favorit mahasiswa di tempat tersebut adalah pangyam original seharga Rp10.000 dengan isian mie, pangsit, sayur, hingga suwiran ayam. Selain itu, tersedia varian lain seperti pangyam komplit seharga Rp15.000, pangyam dimsum, pangyam keju, dan pangyam bakso dengan harga Rp12.000. Namun, pangyam original dengan harga yang lebih terjangkau tetap menjadi menu yang paling banyak dibeli mahasiswa.

Untuk jam operasional, pangyam Elang biasanya buka mulai pukul 9 siang hingga pukul 5 sore. Waktu paling ramai pengunjung biasanya sekitar pukul 12 sampai 2 siang.

Bagi mahasiswa Jurnalistik, LP bukan hanya kantin biasa. Tempat ini sudah lama dikenal sebagai ruang berkumpul mahasiswa lintas angkatan. Bahkan alumni pun sering datang sekadar untuk berbincang dan bernostalgia.

Salah satu mahasiswa Jurnalistik, Muhammad Afrija Firdiansyah, mengatakan kawasan LP sudah menjadi tempat tongkrongan mahasiswa Jurnalistik sejak lama. 

“Karena dari dulu tempat ini memang sudah jadi tempat nongkrong anak-anak Jurnalistik,” katanya saat diwawancarai di kawasan LP. 

Menurut Afrija, suasana LP terasa berbeda dibanding tempat lain di kampus karena nyaman dan terbuka. Ia juga mengatakan bahwa tempat tersebut bukan hanya membuat perut kenyang, tetapi juga menambah wawasan. Dari obrolan tersebut, mahasiswa sering mendapatkan pengalaman baru seputar dunia Jurnalistik maupun kehidupan kampus. 

Selain suasana yang nyaman, keramahan para penjual menjadi alasan mahasiswa betah berlama-lama di LP. Elang dikenal dekat dengan mahasiswa dan seru diajak bercanda bersama para pembeli. 

“Yang paling spesial itu pedagangnya, karena lucu dan seru diajak bercanda,” ungkap Afrija.

Meski identik dengan mahasiswa Jurnalistik, LP terbuka untuk semua mahasiswa  dari jurusan dan fakultas manapun. Tempat ini menjadi salah satu ruang sosial di lingkungan kampus yang menghadirkan suasana yang hangat dan akrab bagi mahasiswa.

Kedepannya Elang berharap tempat jualannya semakin ramai dan tetap menjadi tempat nyaman bagi mahasiswa untuk berkumpul dan berbagi cerita.

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama