JURNALPOSMEDIA.COM – Seorang pria mempertahankan sang legenda ‘Mie Sakura’ yang populer pada tahun 1990-2000, namun karena budaya masyarakat yang kian maju, mie ini tetap menyajikan nostalgia bagi anak muda.
Di bawah rindangnya pepohonan Taman Maluku, Kota Bandung, sebuah gerobak sederhana berdiri di pinggir jalan, ditemani payung merah-putih yang setia menaungi dagangan dari terik matahari. Asap tipis mengepul dari panci kecil, seolah menjadi sinyal undangan hangat bagi siapa pun yang melintas.
Aroma mie rebus perlahan menyebar. Harumnya khas, membawa ingatan banyak orang kembali ke masa sekolah. Dinamakan ‘Mie Gaul’, gerobak ini menarik perhatian karena berjualan mie yang sangat akrab bagi generasi millenial, ‘Mie Sakura’.
Pedagang Mie Gaul, Sudirman, mengungkapkan sudah malang melintang sejak 2007, berdiri sibuk melayani pembeli. Tangannya cekatan meracik mie, seperti seorang peracik rasa yang paham betul bagaimana menyulap sesuatu yang biasa menjadi luar biasa.
Baginya berjualan bukan sekadar mencari nafkah. Ada perjuangan yang dibungkus dengan ketekunan. Pandemi Covid-19 sempat membuatnya terhenti, seperti api kompor yang tiba-tiba padam. Namun setelah badai berlalu, Sudirman kembali menyalakan harapan dan kini gerobaknya kembali ramai didatangi pelanggan.
“Saya berjualan Mie Gaul ini sudah lama dari 2007, namun pernah berhenti berjualan saat Covid-19 karena jualan saya jadi sepi, tapi alhamdulillah makin sini banyak yang beli, namanya juga usaha kadang turun naik,” ujarnya saat diwawancarai, Kamis (12/2/2026).
Menariknya, mie yang dijual Sudirman bukanlah mie modern dengan varian rasa kekinian atau topping berlimpah. Ia memilih ‘Mie Sakura’ karena seperti ‘legenda kecil’ yang bertahan melawan gempuran rasa-rasa baru.
“Saya jualan mie cuma merek sakura aja, mungkin buat sekarang banyak yang bilang mie jadul meskipun nama gerobak bapak Mie Gaul. Mie sakura ini memang populer tahun 90-an, bisa dibilang rasanya khas. Apalagi sekarang anak muda suka cari makanan jadul jadi sekalian nostalgia,” ujarnya.
Sudirman membuka lapaknya dari pukul 11.00-17.00 WIB. Tidak ada jadwal pasti hari apa harus berjualan, karena baginya hidup pedagang adalah tentang menyesuaikan keadaan.
Meski sederhana, Mie Gaul miliknya memiliki harga yang ramah di kantong. Kini dibanderol seharga Rp5.000, namun harga bukan satu-satunya alasan orang datang. Banyak pembeli penasaran dengan rasa mie jadul yang mulai langka, bahkan ingin mengulang kenangan lama seperti merasakan masa kecil yang terselip dalam semangkuk mie hangat.
Salah satu pembeli, Ikhsan Nur, menjelaskan bahwa saat nongkrong atau sekedar lewat ke Taman Maluku, ia selalu membeli Mie Gaul karena rasanya yang khas dan nostalgia, apalagi enak dimakan saat masih hangat.
“Aku udah dari lama langganan Mie Sakura ini, karena rasanya kaya nostalgia aja apalagi pas dimakan hangat dan harganya juga murah kalo dijual di Taman Maluku ini,”
Di tengah gempuran makanan kekinian, Mie Gaul Sudirman tetap berdiri dengan sederhana. Tidak banyak variasi dan gaya. Namun justru dari kesederhanaan itulah ia menjadi istimewa.















