JURNALPOSMEDIA.COM – Banyak mahasiswa baru masih menggambarkan ospek sebagai kegiatan penuh tradisi lama yang tak lagi relevan, seperti bentakan yang tidak jelas tujuannya, senioritas yang dibuat-buat, hingga berbagai kegiatan fisik memberatkan. Di tengah tuntutan generasi sekarang yang lebih kritis dan sadar kesehatan mental, praktik seperti ini bukan hanya ketinggalan zaman tetapi juga kontra-produktif.
Berdasarkan hasil kuesioner daring yang disusun oleh Tim Redaksi Divisi Online Jurnalposmedia (https://jurnalposmedia.com/survei-jurnalposmedia-877-persen-mahasiswa-sepakat-perubahan-ospek-menyeluruh/), yang disebarkan melalui Google Form pada periode 14 – 24 November 2025 dan berisi 18 pertanyaan yang mencakup pengalaman orientasi, tekanan psikologis, dan dampaknya setelah kegiatan usai. Hingga periode pengambilan data, terdapat 65 responden mahasiswa dari berbagai universitas yang mengisi formulir secara sukarela melalui metode convenience sampling.
Berdasarkan hasil kuisioner, 87,7% responden menuntut adanya perubahan model ospek secara menyeluruh oleh pihak universitas. Perubahan model ospek perlu dilakukan secara menyeluruh oleh pihak universitas, bukan sekadar penyesuaian teknis di tingkat pelaksana. Tanpa komitmen institusional yang jelas, praktik orientasi berisiko terus mengulang pola lama yang memberatkan mahasiswa baru. Universitas memiliki peran kunci untuk memastikan ospek berjalan sebagai ruang edukasi dan adaptasi yang aman, bermakna, serta selaras dengan nilai-nilai akademik.

Dari hasil wawancara dengan dua mahasiswa dari Kampus Unikom dan UIN secara eksplisit menyatakan, ospek seharusnya diarahkan sepenuhnya pada edukasi, bukan intimidasi. Mereka menekankan, materi ospek paling berguna adalah yang mengedukasi, seperti pengenalan administrasi kampus, bijak bersosial media, seminar akademik, hingga workshop proyek yang melatih berpikir kritis. Pendapat ini sejalan dengan salah satu narasumber yang menegaskan bahwa ospek yang benar-benar edukatif terasa “sangat bermanfaat dan terpakai di dunia perkuliahan” bukan sekadar pertunjukan kekuasaan senior.
Pendapat mahasiswa di atas juga didukung oleh pernyataan salah seorang masyarakat di luar akademisi yang juga memberikan suara yang sama. Ospek yang paling efektif menurutnya adalah yang dipenuhi sharing session, seminar resmi dari kakak tingkat, mentoring, dan kegiatan kolaboratif. Ia menilai, pendekatan ini lebih leluasa dan tidak kaku, sementara salah seorang mahasiswa UIN menegaskan, inti ospek modern adalah suasana setara tidak ada superioritas, tidak ada bentak-bentak, tidak ada perpeloncoan. Ketika senior berhenti menjadi “aktor otoriter” dan berubah menjadi rekan belajar, ospek justru menjadi ruang adaptasi yang sehat.
Pandangan serupa juga datang dari orang tua mahasiswa yang anaknya mengikuti ospek tahun lalu. Ia menyebut bahwa mereka membutuhkan orientasi yang relevan seperti workshop jurusan, simulasi belajar, proyek kolaboratif, pelatihan etika digital, seminar fakultas, hingga kegiatan soft skill yang proporsional. Menurutnya perpeloncoan sebenarnya tidak terlalu penting jika tidak ada manfaat edukatifnya dan kenyataannya memang tidak ada.
Perubahan model ospek perlu dilakukan secara menyeluruh oleh pihak universitas karena orientasi mahasiswa baru pada dasarnya merupakan fase adaptasi akademik dan sosial, bukan ruang pembentukan mental melalui tekanan. Hal ini ditegaskan dalam sebuah penelitian tentang orientasi mahasiswa baru yang menyebutkan bahwa ospek yang dirancang secara edukatif dan suportif berperan penting dalam membantu proses adaptasi akademik dan sosial mahasiswa, serta berdampak positif terhadap keberlanjutan pengalaman belajar mereka di kampus (https://journal.ypidathu.or.id/index.php/ijen/article/view/763/515).
Pendekatan tersebut sejalan dengan panduan resmi Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) yang disampaikan Kementerian Pendidikan dan diberitakan Detik Edu (https://www.detik.com/edu/perguruan-tinggi/d-8028938/panduan-ospek-mahasiswa-baru-2025-materi-waktu-pelaksanaan-larangan?utm_), yang secara tegas melarang kekerasan fisik, verbal, maupun psikologis dalam kegiatan orientasi dan menekankan pentingnya pendampingan serta materi yang relevan bagi mahasiswa baru. Dengan demikian, perubahan ospek bukan hanya tuntutan mahasiswa, tetapi juga selaras dengan kajian ilmiah dan kebijakan pendidikan tinggi.
Karena itu, kegiatan-kegiatan lawas seperti baris malam, tugas atribut absurd, hukuman fisik, “menguatkan mental dengan teriakan”, atau kompetisi ego senior semestinya dihapus total. Generasi sekarang tidak membutuhkan teatrikal disiplin ala kemiliteran.
Model ospek yang lebih “manusiawi” pun terbukti berhasil di beberapa kampus. Program yang dipuji banyak mahasiswa adalah ospek yang menghadirkan workshop berpikir kritis, pelatihan project-based learning, serta seminar bijak bersosial media, materi yang benar-benar relevan dengan tuntutan zaman. Narasumber lain bahkan menyebut bahwa budaya “semua setara, sama-sama belajar” membuat ospek terasa aman, suportif, dan membangun kepercayaan diri, bukan rasa takut. Ini adalah bukti disiplin bisa ditanamkan tanpa kekerasan.
Dengan temuan survei, wawancara, dan literatur dampak psikologis ospek yang telah dijelaskan sebelumnya, sudah jelas jika kampus harus menerapkan reformasi menyeluruh. Pengawasan harus diperketat, SOP diperjelas, perpeloncoan dihapus tanpa kompromi, dan ruang pengaduan dibuat aman. Jika ospek hendak membentuk karakter, karakter macam apa yang ingin ditanamkan? Otoritarianisme? Ketakutan? Atau etika, kolaborasi, dan kecerdasan emosional yang relevan bagi dunia profesional?
Harapan ke depan sederhana namun fundamental, ospek harus menjadi pintu masuk ilmu, bukan pintu trauma. Indonesia membutuhkan orientasi mahasiswa yang edukatif, suportif, dan setara bukan ritual hierarki yang sudah seharusnya ditinggalkan. Jika kampus berani memutus mata rantai kekerasan simbolik ini, ospek dapat menjadi pengalaman pertama yang membangkitkan semangat, memperluas wawasan, dan menegaskan bahwa dunia kampus adalah ruang bertumbuh, bukan ruang ditakut-takuti. Sudah saatnya ospek berjalan searah dengan zaman modern, manusiawi, dan berorientasi pendidikan.















