Sun, 28 June 2026

Menjahit Sejarah Bersama Para Penjaga Identitas Lewat Jersey

Reporter: putri maharani kristiana | Redaktur: KHOIRUNNISA FEBRIANI SOFWAN | Dibaca 1623 kali

Sumber foto: Fauzan Rijalulghad Ha Anada/Jurnalposmedia)

JURNALPOSMEDIA.COM – Di balik setiap helai jersey Persib dan karya desain olahraga, ada kisah tentang cinta, sejarah, dan dedikasi yang dijahit dengan ketekunan. Talkshow bertajuk “Menjahit Sejarah, Merayakan Gairah” pada Sabtu (25/10/2025) lalu menjadi wadah tiga sosok narasumber berbagi perjalanan mereka dalam merawat dan merayakan identitas sepak bola melalui koleksi dan desain.

Acara talkshow ini, menjadi bagian dari pameran “10 Tahun Berkarya Fajarrusalem” yang menghadirkan ruang apresiasi bagi para pecinta sepak bola, desain, dan koleksi jersey. Mendatangkan tiga narasumber, yaitu Fajar Ramadhan sebagai Desainer Mills, Nays Mumtahar sebagai kolektor jersey dan juga Agung Mutakin sebagai Desainer Jersey Persib.

Menurut Nays Mumtahar, mengoleksi jersey bukan semata soal benda, tapi mengabadikan momen-momen emas dalam sejarah Persib dan mengedepankan filosofi bahwa setiap pembelian jersey original adalah wujud dukungan nyata, terlebih untuk para Bobotoh yang tidak selalu bisa hadir di stadion. 

“Memang kecintaan saya terhadap Persib. Ada kewajiban untuk menyimpan, mengoleksi, membeli jersey original-nya. Dan di sisi lain memang tujuan dari mengoleksi itu untuk mengkampanyekan bahwa ke teman teman Bobotoh untuk membeli jersey original. Ya mungkin itu dari sisi saya yah yang mungkin ketika Persib main atau match, mengalihkan dukungan saya dengan cara seperti ini,” jelasnya saat diwawancarai Jurnalposmedia, Sabtu (25/10/2025).

Kini menjadi pemburu jersey legendaris dan bahkan sampai keluar kota dan menemui para pemain lama telah memberinya nilai historis tersendiri. Selain itu, namanya telah dikenal di kalangan kolektor, banyak rekan sekomunitas mempercayakan jersey unik kepada Nays. 

Ia menegaskan, dokumentasi visual lewat koleksi jersey menjadi krusial untuk menjaga memori sejarah sepak bola Indonesia dan juga tiap jersey membawa kisah. 

“Penting banget, karena jersey merupakan history perjalanan sebuah club. Bercerita sendiri dari sebuah jersey dari tahun sekiannya,” tegasnya.

Terakhir, ia mengucapkan bahwa talkshow ini, menurutnya, menjadi momen istimewa untuk memotivasi generasi muda agar lebih apresiatif terhadap karya desain, serta menghargai hasil kerja keras kreator lewat pembelian produk original dan juga sekaligus bagian dari menjahit sejarah itu sendiri.

“Jadi talkshow ini bagus untuk mengapresiasi teman-teman yang bekerja di dunia design, bahwa di dunia design ini tidak mudah untuk mendesain satu jersey, melalui tahap tahap tertentu, jadi kita lebih menghargai hasil karya nya. Hargailah karyanya, beli lah produk original-nya,” ucapnya.

Di sisi lain, salah seorang Desainer Mills, Fajar Ramadhan yang telah 10 tahun berkecimpung di dunia desain jersey, Fajar Ramadhan memahami tantangan merangkai sejarah dan nilai nasionalisme dalam tiap desain modern. 

Ia menjelaskan proses kreasinya dimulai dari riset, visualisasi, hingga revisi berlapis, memastikan produk yang lahir tak hanya indah secara estetika tapi juga kaya makna.

“Biasanya untuk dalam profesional desain itu pasti mulai dari brief masuk ke designer, kemudian kita coba untuk dijadikan visual. Nah dari visual itu dapat feedback bakal masuk revisi, kalo udah desainnya udah jadi, lanjut sampel. Sampel masuk revisi hingga jadi final product untuk di jual di retail. Singkatnya gitu,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara desainer, komunitas, dan penggemar. Selain itu, menurutnya jersey telah menjadi identitas antara hubungan desain jersey dengan sejarah sebuah club.

“Jadi identitas sih itu, cuman tadi, kalau saya menekankannya itu warna sih karena warna timnas itu yang sudah mencerminkan diri,” jelasnya. 

Terakhir, ia juga mengungkapkan bahwa jersey sudah menjadi keseharian dalam ekspresi budaya untuk bisa mewakili identitas.

“Karena sekarang nih ya, jersey itu bukan hanya sekedar perfomance saja di pertandingan, jersey itu udh jadi hari-hari bagi kita, jadi pengganti t-shirt,  sudah sebagai merchandise, jadi jersey itu sudah bisa mewakili identitas,” pungkasnya.

Bagikan :

Rekomendasi

Menilik Indikator Penilaian Skor Ujian serta Masa Aktif Sertifikat Kursus TOEFA dan TOEFL JURNALPOSMEDIA.COM – Sejalan dengan kegiatan persiapan ujian Test of English for Academics (TOEFA) dan Test of English Foreign Language (TOEFL) yang di adakan oleh Language Center (LC) UIN Bandung, terdapat beberapa indikator penilaian skor ujian serta masa aktif sertifikat kursus bagi mahasiswa. Ketua LC UIN Bandung Abdul Kodir turut menjelaskan, berkenaan dengan skor nilai, setiap tahunnya akan ada beberapa perubahan kebijakan. Hal ini dipicu karena adanya cetakan baru buku Pedoman Akademik di setiap tahunnya. “Jadi kita hanya memberikan keterangan bahwa anda skornya sekian. Nanti umpan-umpannya skornya berlaku atau tidak atau misalkan kurang, maka ya, harus ujian lagi dan kalau mau ujian lagi anda gausah dari ulang harus kursus lagi,” ungkapnya kepada Jurnalposmedia, Rabu (27/7/2022). Skor dan Keuntungan yang Didapat Abdul Kodir kembali menjelaskan, mengenai minimal skor yang diraih oleh setiap mahasiswa itu berbeda-beda, hal ini bergantung pada kebijakan Fakultas dan Program Studi Prodi nya masing-masing. Sementara indikator dan standar penilaiannya dinilai dari listening, reading, dan vocabulary. “Untuk vocabulary nya kita itu ingin mahasiswa UIN itu paham dan mengenal vocab-vocab dengan istilah yang dekat dengan keislaman jadi nanti ada kaya English for islamic student jadi nanti ada vocab yang nanti dekat dengan kajian-kajian keislaman,” ungkapnya. Beralih dari tes tersebut, Abdul kembali menuturkan, para mahasiswa yang mengikuti tes dan kursus keterampilan berbahasa nantinya akan mendapatkan keuntungan berupa sertifikat kursus. “Masa aktif sertifikat tes TOEFL dan TOEFA ini hanya dua tahun, jika sudah lebih dari dua tahun maka harus tes lagi agar mendapatkan skor TOEFL yang terbaru dan sertifikatnya aktif. Sedangkan sertifikat kursus keterampilan berbahasa bisa aktif seumur hidup,” jelasnya. Tanggapan Mahasiswa Terkait Tes TOEFL dan TOEFA Kursus bahasa yang berujung dengan ujian TOAFL dan TOEFA, sebagai syarat kelulusan ini banyak mendapatkan apresiasi dari mahasiswa yang semangat untuk mengikuti kursus tersebut. Mahasiswi jurusan Ilmu Al-Qur’an Tafsir (IAT), Destiana Rosyidah sangat mengapresiasi kegiatan ini. Desti juga tidak sungkan mengeluarkan kritik dan sarannya untuk program ini. “Hanya saja sertifikat yang nantinya keluar setelah ujian itu hanya bisa di pakai di kampus saja, tidak bisa di pakai untuk kepentingan di luar kampus, semisal untuk melamar beasiswa atau pekerjaan yang membutuhkan sertifikat serupa,” ungkapnya. Ia juga berharap agar dosen pembimbing kursus mulai memperhatikan kegiatan belajar mengajar (KBM) mahasiswa nya agar mendapatkan hasil maksimal dalam ujiannya. Karena masih banyak dosen pembimbing yang kurang memperhatikan KBM kursusnya. “Tidak semua dosen pembimbing kursus peduli pada mahasiswa kursusnya. Yah

Tinggalkan komentar pertama