JURNALPOSMEDIA.COM – Komunitas Bermain Bandung “Ameng Bareng” menggelar kegiatan bermain bersama di Taman Monumen Perjuangan (Monju), Kota Bandung, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 16.00-19.30 WIB tersebut diikuti masyarakat dari berbagai kalangan usia.
Komunitas Bermain telah hadir di berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Karawang, Malang, Surabaya, Padang, dan Makassar. Namun, Bandung menjadi salah satu kota yang aktif menyelenggarakan kegiatan bermain bersama setiap pekannya.
Ketua Komunitas Bermain Bandung, Mikell, menjelaskan bahwa komunitas tersebut mulai hadir di Bandung sejak Oktober 2024 setelah terinspirasi dari komunitas serupa di Jakarta.
“Sebenarnya komunitas bermain itu sendiri pusatnya di Jakarta, dan itu yang mempelopori adanya komunitas bermain. Di Bandung ini kurang lebihnya satu bulan setelah adanya komunitas bermain di Jakarta, baru menginisiasi komunitas bermain di Bandung yang dimulai sejak bulan Oktober 2024,” ujar Mikell ketika diwawancarai pada Sabtu (20/6/2026).
Menurut Mikell, kegiatan tersebut bertujuan untuk melestarikan permainan tradisional sekaligus menjadi ruang interaksi sosial bagi masyarakat.
“Menurut saya pribadi, semakin bertambahnya umur kita, semakin sedikit juga pertemanan kita. Dengan adanya Komunitas Ameng Bareng ini kita membuka kembali relasi, kemudian masalah romansa juga bisa bertemu disini, juga sebagai sarana bisnis bersama yang sudah terjalin,” ungkapnya.
Setiap penyelenggaraan kegiatan, sekitar 300 hingga 400 peserta hadir untuk mengikuti berbagai permainan seperti lompat karet, congklak, monopoli, uno, dan permainan tradisional lainnya yang tidak melibatkan gawai.
Salah satu peserta, Febri, menilai kegiatan tersebut dapat diikuti oleh berbagai kelompok usia sehingga siapa pun dapat bergabung dalam kegiatan “Ameng Bareng.”
“Dari mulai gen z terus gen alpha itu cocok untuk mengikuti kegiatan ini, bahkan tadi juga ada ibu-ibu yang masih ikut kegiatan ini, jadi siapapun bisa bergabung,” tuturnya.
Melalui kegiatan “Ameng Bareng”, panitia berharap masyarakat dapat kembali mengenal permainan tradisional sekaligus memanfaatkan ruang publik sebagai sarana interaksi sosial. Kegiatan ini juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan gawai dalam aktivitas sehari-hari.















