Wed, 24 June 2026

Damai Indonesiaku Ajak Masyarakat Terapkan Sikap Qona’ah di Tengah Tuntutan Hidup

Reporter: FATHIYA HANIN ZAHRANI QOLBI | Redaktur: RIANITARI LATIFA | Dibaca 59 kali

Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi

JURNALPOSMEDIA.COM — Program kajian keislaman Damai Indonesiaku yang disiarkan oleh TVOne sukses digelar di Masjid Iqomah UIN Bandung pada Minggu (21/6/2026). Kegiatan yang mengangkat tema “Merasa Cukup (Qona’ah) di Tengah Tuntutan Hidup” ini menghadirkan KH. Tata Sukayat dan Ustaz Deban sebagai penceramah.

Kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai bagian dari upaya syiar Islam kepada masyarakat luas. Tidak hanya berfokus di wilayah Jabodetabek, namun program ini juga berupaya menjangkau berbagai daerah di Indonesia melalui kajian keagamaan yang disiarkan secara langsung.

Produser sekaligus penanggung jawab program Damai Indonesiaku, Agung Setianto, menjelaskan bahwa pemilihan Masjid Iqomah UIN Bandung sejalan dengan visi program untuk menyebarkan dakwah Islam ke seluruh Nusantara.

“Karena namanya Damai Indonesiaku, berarti dakwahnya tidak hanya di Jakarta atau Jabodetabek saja. Sesuai visi dan misi kami, yaitu menyiarkan dakwah Islam ke seluruh negeri,” ujarnya saat diwawancarai Jurnalposmedia, Minggu (21/6/2026)

Menurut Agung, tema qona’ah dipilih karena relevan dengan kondisi masyarakat saat ini yang dihadapkan pada berbagai tekanan kehidupan. Melalui kajian tersebut, masyarakat diajak untuk lebih bersyukur dan merasa cukup atas apa yang dimiliki sehingga tidak mudah terjebak dalam rasa kurang dan ketidakpuasan.

“Kalau terus merasa susah dan tidak pernah merasa cukup atau bersyukur, nanti kita akan menjadi pribadi yang kufur nikmat. Jadi kita harus belajar merasa cukup dan bersyukur,” jelasnya.

Persiapan kegiatan dilakukan sejak sehari sebelum pelaksanaan. Tim penyelenggara telah menyiapkan panggung dan perlengkapan siaran sehingga acara dapat berlangsung dengan lancar. Agung mengungkapkan bahwa seluruh peralatan, pengisi acara, serta jemaah telah siap sebelum siaran dimulai.

Antusiasme masyarakat terhadap kajian ini juga terlihat dari banyaknya jemaah yang hadir sejak pagi hari. Agung berharap para peserta tidak hanya hadir untuk mengikuti acara, tetapi juga mampu mengambil hikmah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu peserta kajian dari Majelis Taklim Annur Cibaduyut, Mia, mengaku tertarik mengikuti kegiatan tersebut karena keinginannya untuk terus menambah ilmu agama. Menurutnya, tema qona’ah sangat dekat dengan kehidupan masyarakat meskipun penerapannya tidak mudah dilakukan.

“Qona’ah itu gampang diucapkan, tapi susah untuk dijalankan. Sama seperti sabar, mudah diucapkan tetapi ketika menjalankannya banyak tantangan dan ujian,” ungkapnya.

Mia juga mengaku memperoleh banyak pelajaran dari kajian tersebut, terutama mengenai pentingnya kesabaran, keikhlasan, serta menjaga keimanan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

“Manfaatnya saya jadi lebih sabar lagi, lebih ikhlas, lebih rida. Ketetapan Allah harus kita terima dengan rasa syukur dan rida,” tuturnya.

Selain dihadiri masyarakat umum, kajian ini juga menarik perhatian mahasiswa. Salah satunya adalah Alvia Nurhayanti, mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ia menilai tema qona’ah sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa yang sering dihadapkan pada berbagai tantangan, termasuk persoalan akademik dan finansial.

Menurut Alvia, salah satu pesan yang paling berkesan dari kajian tersebut adalah pentingnya menjalani setiap proses kehidupan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

“Satu pesan yang sangat saya ingat adalah bahwa hidup itu tentang menjalani proses, bukan protes,” katanya.

Melalui penyelenggaraan program Damai Indonesiaku di lingkungan kampus, diharapkan mahasiswa maupun masyarakat dapat memperoleh penguatan spiritual sekaligus meningkatkan pemahaman keagamaan. Agung berharap program ini dapat terus hadir di berbagai daerah di Indonesia sehingga manfaat dakwah dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat.

 

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama