JURNALPOSMEDIA.COM – Di era digital saat ini, medial sosial telah bertansformasi bagi sebagian besar masyarakat. Platform seperti Instagram, Tiktok, dan X (Twitter) menawarkan kemudahan serta kecepatan akses berita yang belum pernah ada sebelumnya. Namun, di balik kemudahan tersebut, akurasi sering kali dikorbankan demi kecepatan.
Berdasarkan hasil analisis Mahasiswa UIN Bandung, yakni Kelompok 1 mata kuliah Bahasa Indonesia, tema “Relevansi dan Pentingnya Literasi Digital” sangat relevan mengingat kondisi masyarakat yang sangat bergantung pada media sosial sebagai informasi utama. Ketergantungan tersebut membuat masyarakat menjadi rentan terhadap manipulasi dan disinformasi karena sering mengabaikan proses verifikasi informasi.
Data kuantitatif tambahan diperoleh dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan sebagian masyarakat indoensia masih mudah mempercayai informasi dari media sosial tanpa proses verifikasi. Temuan ini digunakan sebagai bukti empiris bahwa rendahnya literasi digital menjadi faktor penting dalam penyebaran hoaks.
Fenomena ini semakin diperparah oleh banyaknya konten dimedia sosial yang kebenarannya diragunkan. Teknologi seperti deepfake memungkinkan perbuatan konten palsu yang sangat menyakinkan, baik dalam bentum gambar, video, maupun suara. Hal ini membuat hoaks semakin sulit dibedakan dari kenyataan dan meningkannya risiko penyebaran disinformasi.
Selain faktor teknologi, perilaku penguna juga berperan besar dalam penyebaran hoaks. Banyak pengguna cenderung membagikan judul berita yang sensasional tanpa membaca isi berita secara keseluruhan. Kebiasaan oversharing ini diperparah oleh pengguna media sosial yang berlebihan, yang dapat menimbulkan kelelahan informasi.
Di tengah kondisi tersebut, peran jurnalis profesional menjadi semakin penting sebagai penjaga keakuratan dan kualitas informasi. Jurnalis memiliki tanggung jawab etis untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada publik telah terverifikasi dan dipertanggungjawabkan.
Sebagai penutup, media sosial tidak selalu layak dipercaya sebagai informasi karena ketiadaan verifikasi yang ketat, maraknya hoaks, serta potensi manipulasi opini. Oleh karena itu, pengguna dituntut untuk lebih kritis, bijak, dan tanggung jawab dalam mengonsumsi serta menyebarkan informasi.
















