Mon, 8 June 2026

Media Sosial Tidak Selalu Layak Dipercaya sebagai Sumber Informasi

Reporter: IJAZ MIFTAH FARHANI/KONTRIBUTOR | Redaktur: KHOIRUNNISA FEBRIANI SOFWAN | Dibaca 928 kali

(Sumber foto: Pinterest)

JURNALPOSMEDIA.COM – Di era digital saat ini, medial sosial telah bertansformasi bagi sebagian besar masyarakat. Platform seperti Instagram, Tiktok, dan X (Twitter) menawarkan kemudahan serta kecepatan akses berita yang belum pernah ada sebelumnya. Namun, di balik kemudahan tersebut, akurasi sering kali dikorbankan demi kecepatan.

Berdasarkan hasil analisis Mahasiswa UIN Bandung, yakni Kelompok 1 mata kuliah Bahasa Indonesia, tema “Relevansi dan Pentingnya Literasi Digital” sangat relevan mengingat kondisi masyarakat yang sangat bergantung pada media sosial sebagai informasi utama. Ketergantungan tersebut membuat masyarakat menjadi rentan terhadap manipulasi dan disinformasi karena sering mengabaikan proses verifikasi informasi.

Data kuantitatif tambahan diperoleh dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan sebagian masyarakat indoensia masih mudah mempercayai informasi dari media sosial tanpa proses verifikasi. Temuan ini digunakan sebagai bukti empiris bahwa rendahnya literasi digital menjadi faktor penting dalam penyebaran hoaks.

Fenomena ini semakin diperparah oleh banyaknya konten  dimedia sosial yang kebenarannya diragunkan. Teknologi seperti deepfake memungkinkan perbuatan konten palsu yang sangat menyakinkan, baik dalam bentum gambar, video, maupun suara. Hal ini membuat hoaks semakin sulit dibedakan dari kenyataan dan meningkannya risiko penyebaran disinformasi.

Selain faktor teknologi, perilaku penguna juga berperan besar dalam penyebaran hoaks. Banyak pengguna cenderung membagikan judul berita yang sensasional tanpa membaca isi berita secara keseluruhan. Kebiasaan oversharing ini diperparah oleh pengguna media sosial yang berlebihan, yang dapat menimbulkan kelelahan informasi.

Di tengah kondisi tersebut, peran jurnalis profesional menjadi semakin penting sebagai penjaga keakuratan dan kualitas informasi. Jurnalis memiliki tanggung jawab etis untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada publik telah terverifikasi dan dipertanggungjawabkan.

Sebagai penutup, media sosial tidak selalu layak dipercaya sebagai informasi karena ketiadaan verifikasi yang ketat, maraknya hoaks, serta potensi manipulasi opini. Oleh karena itu, pengguna dituntut untuk lebih kritis, bijak, dan tanggung jawab dalam mengonsumsi serta menyebarkan informasi.

Bagikan :

Rekomendasi

Menilik Indikator Penilaian Skor Ujian serta Masa Aktif Sertifikat Kursus TOEFA dan TOEFL JURNALPOSMEDIA.COM – Sejalan dengan kegiatan persiapan ujian Test of English for Academics (TOEFA) dan Test of English Foreign Language (TOEFL) yang di adakan oleh Language Center (LC) UIN Bandung, terdapat beberapa indikator penilaian skor ujian serta masa aktif sertifikat kursus bagi mahasiswa. Ketua LC UIN Bandung Abdul Kodir turut menjelaskan, berkenaan dengan skor nilai, setiap tahunnya akan ada beberapa perubahan kebijakan. Hal ini dipicu karena adanya cetakan baru buku Pedoman Akademik di setiap tahunnya. “Jadi kita hanya memberikan keterangan bahwa anda skornya sekian. Nanti umpan-umpannya skornya berlaku atau tidak atau misalkan kurang, maka ya, harus ujian lagi dan kalau mau ujian lagi anda gausah dari ulang harus kursus lagi,” ungkapnya kepada Jurnalposmedia, Rabu (27/7/2022). Skor dan Keuntungan yang Didapat Abdul Kodir kembali menjelaskan, mengenai minimal skor yang diraih oleh setiap mahasiswa itu berbeda-beda, hal ini bergantung pada kebijakan Fakultas dan Program Studi Prodi nya masing-masing. Sementara indikator dan standar penilaiannya dinilai dari listening, reading, dan vocabulary. “Untuk vocabulary nya kita itu ingin mahasiswa UIN itu paham dan mengenal vocab-vocab dengan istilah yang dekat dengan keislaman jadi nanti ada kaya English for islamic student jadi nanti ada vocab yang nanti dekat dengan kajian-kajian keislaman,” ungkapnya. Beralih dari tes tersebut, Abdul kembali menuturkan, para mahasiswa yang mengikuti tes dan kursus keterampilan berbahasa nantinya akan mendapatkan keuntungan berupa sertifikat kursus. “Masa aktif sertifikat tes TOEFL dan TOEFA ini hanya dua tahun, jika sudah lebih dari dua tahun maka harus tes lagi agar mendapatkan skor TOEFL yang terbaru dan sertifikatnya aktif. Sedangkan sertifikat kursus keterampilan berbahasa bisa aktif seumur hidup,” jelasnya. Tanggapan Mahasiswa Terkait Tes TOEFL dan TOEFA Kursus bahasa yang berujung dengan ujian TOAFL dan TOEFA, sebagai syarat kelulusan ini banyak mendapatkan apresiasi dari mahasiswa yang semangat untuk mengikuti kursus tersebut. Mahasiswi jurusan Ilmu Al-Qur’an Tafsir (IAT), Destiana Rosyidah sangat mengapresiasi kegiatan ini. Desti juga tidak sungkan mengeluarkan kritik dan sarannya untuk program ini. “Hanya saja sertifikat yang nantinya keluar setelah ujian itu hanya bisa di pakai di kampus saja, tidak bisa di pakai untuk kepentingan di luar kampus, semisal untuk melamar beasiswa atau pekerjaan yang membutuhkan sertifikat serupa,” ungkapnya. Ia juga berharap agar dosen pembimbing kursus mulai memperhatikan kegiatan belajar mengajar (KBM) mahasiswa nya agar mendapatkan hasil maksimal dalam ujiannya. Karena masih banyak dosen pembimbing yang kurang memperhatikan KBM kursusnya. “Tidak semua dosen pembimbing kursus peduli pada mahasiswa kursusnya. Yah

Tinggalkan komentar pertama