Fri, 21 June 2024

Ulas Seputar Korea Bersama Polygot Indonesia

Reporter: Abdul Latief/Magang | Redaktur: Lisna | Dibaca 187 kali

Wed, 16 May 2018
Anggota Polyglot Indonesia, Hasna menjelaskan berbagai macam budaya Korea dalam acara "Korean Sharing Session", Sabtu (12/05/2018). Hasna juga membahas mengenai sejarah bentuk huruf dalam bahasa Korea hangeul. (Abdul Latief/Magang)

JURNALPOSMEDIA.COM –Polyglot Indonesia Chapter Bandung menggelar acara “Korean Sharing Session” di FEALAC Youth Centre Bandung Creative, Sabtu (12/05/2018). Mengusung tema “Korea is Like a Big Layers of Onion”, diskusi ini membahas seputar kebudayaan yang ada di Korea, mulai dari bahasa, makanan tradisional, hingga Korean Pop (K-pop) yang mendunia.

Anggota Polyglot Indonesia Hasna menjelaskan sejarah rumah Korea pada zaman dulu disebut Hanok. Sedangkan, desain rumah ditentukan berdasarkan tingkat perekonomian masyarakatnya. “Di zaman dahulu itu, orang kaya dengan orang miskin desain rumahnya berbeda-beda. Kalau orang kaya itu bangunannya terbuat dari kayu yang dipasang pilar, dan atapnya dipasang genteng. Kalau orang miskin itu hampir sama, yang membedakannya dari segi atap, mereka membangun atap dari tumpukan jerami,” ujarnya.

Di Korea, mengonsumsi minuman beralkohol sudah menjadi hal yang wajar, bahkan mereka sering meminumnya saat makan seperti ramyeon. Adat sopan santun orang korea saat makan bersama cukup ketat, seperti ketika ingin minum yang lebih muda harus menuangkan minuman ke yang lebih tua.

“Kalau kita minum bersama orang yang lebih tua dari kita, kitalah yang harus menuangkan minuman untuk dia. Sebaliknya, kalau orang itu menuangkan minuman untuk kita, maka mau tidak mau kita harus meminumnya, jika tidak maka dianggap tidak sopan,” kata Hasna.

Sedangkan untuk aliran jenis musik yang satu ini yaitu K-Pop sudah menjadi bagian dari budaya korea. Kebanyakan artis K-Pop mulai berkarir sejak menginjak usia remaja. Hasna juga menegaskan, bahwa menjadi artis K-Pop tidaklah mudah, mendapat julukan K-pop pasti semua orang beranggapan bahwa artis tersebut mempunyai banyak talenta.

Dalam diskusi ini juga membahas tentang sejarah bentuk huruf Korea yang disebut hangeul. Ia menjelaskan bahwa huruf hangeul sudah ada sejak tahun 1443 pada kerajaan Yi yang dipimpin oleh Raja Sejong. Dimana pada saat itu masyarakat belum bisa mengekspresikan bahasanya lewat Bahasa Mandarin, sehingga huruf ini dibuat untuk memberi keterangan hak kepemilikan yang pada saat itu sedang mengalami kekacauan.

Mengikuti diskusi tentang ulasan Korea, salah seorang mahasiswa UIN Bandung, Rahmat Wahidin mengungkapkan rasa senangnya. Ia awalnya tidak tahu tentang korea. Tetapi, melalui diskusi ini Rahmat menjadi tahu tentang huruf hangeul dan gaya bahasanya.

Senada dengan Hasna, Ketua Divisi Internal Ade Ramlan, menyampaikan harapannya kepada seluruh peserta setelah mengikuti acara ini. “Saya harap dengan adanya acara ini, kita dapat mempelajari ilmu, budaya, dan bahasa yang ada di Korea.” tutupnya.

Bagikan :
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments