JURNALPOSMEDIA.COM – Malam itu, jalanan Kota Tual, Maluku Tenggara tidak sepenuhnya sunyi. Lampu-lampu jalan masih menyala ketika seorang siswa berusia 14 tahun melaju di atas sepeda motor bersama kakaknya. Mereka tidak sedang terburu-buru, tidak melarikan diri, tidak pula terlibat balapan. Mereka hanya pulang. Namun, perjalanan sederhana itu berakhir tragis.
Sebagaimana terajut dalam narasi Suara.com, di salah satu ruas jalan Kota Tual, malam yang seharusnya biasa itu berubah arah. Seorang oknum anggota Brimob Polda Maluku diduga tiba-tiba melompat ke arah sepeda motor yang mereka kendarai, tanpa peringatan dan tanpa kata. Sebuah helm diayunkan, menghantam kepala anak itu dengan keras.
Tubuhnya terlempar.
Keseimbangannya runtuh.
Kepalanya menghantam aspal, dan malam pun terbelah oleh darah dan kepanikan.
Segalanya terjadi terlalu cepat. Jalanan yang tadi lengang mendadak gaduh oleh teriakan dan langkah panik. Tubuh kecil itu tergeletak, diam, sementara kakaknya berjarak hanya sejauh napas membeku di tempat, menyaksikan hidup adiknya runtuh dalam hitungan detik.
Korban segera dilarikan ke rumah sakit. Di sana, waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Keluarga menunggu dalam cemas, menggantungkan harapan pada tangan-tangan medis dan doa yang tak putus dipanjatkan. Namun, harapan itu seketika luruh. Siang hari, bocah 14 tahun itu dinyatakan meninggal dunia akibat luka parah di bagian kepala.
Rumah yang seharusnya menyambut kepulangannya justru dipenuhi tangis. Duka keluarga tak terbendung. Salah satu anggota keluarga korban, sebagaimana dikutip media, ia hanya mampu menyampaikan kalimat sederhana yang sarat luka.
“Dia hanya pulang, tidak melakukan apa-apa. Kami tidak menyangka pulangnya malah seperti ini,” ujarnya dengan suara bergetar.
Kakak korban selamat, namun keselamatannya tak datang utuh. Selain luka di tubuh, ia membawa pulang trauma ingatan tentang detik-detik ketika adiknya terjatuh dan tak pernah bangun lagi. Luka itu tak terlihat, tetapi akan tinggal jauh lebih lama.
Kabar kematian siswa tersebut cepat menyebar, menjalar dari mulut ke mulut, dari layar ke layar. Peristiwa ini memantik kemarahan publik dan mengguncang ruang media sosial. Banyak suara mempertanyakan satu hal yang sama mengapa kekerasan harus berakhir pada tubuh seorang anak.
Pihak kepolisian membenarkan adanya insiden itu. Masih sebagaimana terajut dalam narasi Detik.com, oknum anggota Brimob yang diduga terlibat telah diamankan dan kini menjalani proses hukum.
Seorang pejabat kepolisian menyatakan institusi tidak akan menutup mata.
“Kami memastikan proses hukum berjalan. Yang bersangkutan sudah diamankan dan akan diproses sesuai ketentuan pidana dan kode etik,” ujarnya.
Polri juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
“Kami turut berduka cita sedalam-dalamnya dan menegaskan bahwa tindakan oknum tidak mencerminkan institusi,” ucap perwakilan Polri.
Namun bagi keluarga korban, pernyataan dan proses hukum tak akan pernah mengembalikan satu hal yang paling berharga seorang anak yang seharusnya tiba di rumah malam itu. Seorang siswa yang seharusnya tumbuh, belajar, dan bermimpi tanpa rasa takut.
Ironisnya, nyawa itu diduga terhenti oleh tangan yang seharusnya menjaga keselamatan warga. Di titik inilah duka Kota Tual menjadi lebih dalam bukan hanya karena satu nyawa hilang, tetapi karena rasa aman dan kepercayaan publik ikut terkoyak.
Hari ini, Kota Tual berduka. Di balik hilangnya nyawa kecil dan janji penegakan hukum, ada satu kursi kosong di rumah, satu masa depan yang terputus, dan satu pertanyaan yang menggantung di udara apakah keadilan akan benar-benar ditegakkan.
Publik berharap jawabannya tak berhenti pada pernyataan. Bahwa hukum tidak tumpul oleh seragam. Dan bahwa tak akan ada lagi anak-anak yang kehilangan masa depannya di jalan yang seharusnya membawa mereka pulang.
















