Tue, 16 April 2024

Mengenang Sejarah Hari Kartini dan Kisah Hidupnya

Reporter: Sri Wahyuni | Redaktur: Annisa Azahra N | Dibaca 170 kali

Thu, 20 April 2023
Ilustrasi: Pixabay.com

JURNALPOSMEDIA.COM – Kartini menjadi salah satu sosok penting dalam upaya pembebasan dan penyamaan hak wanita di Indonesia. Oleh karena itu, tanggal 21 April yang merupakan tanggal lahirnya sering diperingati sebagai Hari Kartini untuk mengenang jasanya terhadap kesetaraan gender.

Peringatan Hari Kartini dirayakan usai presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 pada tanggal 2 Mei 1964. Dalam keputusannya, Kartini ditetapkan sebagai pahlawan kemerdekaan nasional. Dengan jasanya yang begitu besar terhadap kesetaraan gender, yuk kita intip sedikit biografi pahlawan wanita ini!

Siapa itu Sosok Kartini?

Raden Ajeng Kartini berasal dari kalangan bangsawan Jawa yang lahir pada tanggal 21 April 1897. Ia merupakan anak dari Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dengan M. A. Ngasirah. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV dikenal sebagai salah satu bupati pertama yang memberi pendidikan barat kepada anak-anak pada pertengahan abad ke-19.

Kartini menjalani pernikahan hasil dijodohkan orang tuanya dengan Bupati Rembang bernama K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang pernah memiliki tiga orang istri.

Terinspirasi oleh Perempuan Eropa

Kartini merupakan perempuan mandiri nan hebat yang bahkan telah menerbitkan sejumlah tulisan di usianya yang baru 14 tahun. Kemudian, di masa pingitnya ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi dari Belanda menggunakan kemampuan berbahasa Belanda yang ia miliki. Salah satu temannya yang banyak mendukung Kartini ialah Rosa Abendanon.

Ia tertarik pada kemajuan berpikir perempuan yang ada di Eropa melalui buku-buku, koran, dan majalah yang ia baca. Oleh karena itu, timbulah keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi yang memiliki status sosial rendah karena pendidikan yang terbatas.

Surat-surat yang dikirim Kartini pada Abendanon berisi uraian pemikirannya terkait berbagai masalah termasuk tradisi feodalisme yang melakukan penindasan, pernikahan paksa, dan poligami bagi perempuan jawa kelas atas, serta pentingnya pendidikan bagi perempuan. Surat tersebut juga mencerminkan pengalaman hidupnya sebagai putri dari seorang Bupati Jawa.

Dukungan Sang Suami

Setelah menikah dengan sang suami, Kartini mengaku merasakan pemikiran yang terus berkembang. “Di rumah orang tua saya dulu, saya sudah tahu banyak. Tetapi di sini, di mana suami saya bersama saya memikirkan segala sesuatu, di mana saya turut menghayati seluruh kehidupannya, turut menghayati pekerjaannya, usahanya, maka saya jauh lebih banyak lagi menjadi tahu tentang hal-hal yang mula-mula tidak saya ketahui. Bahkan tidak saya duga, bahwa hal itu ada,” tulis Kartini kepada sahabat penanya, Abendanon.

Keinginan Kartini untuk memajukan kehidupan perempuan pribumi perlahan terwujud dengan bantuan suaminya. Bupati Rembang tersebut mengizinkan Kartini untuk membangun sekolah khusus wanita.

Karya Lain dan Akhir Hidup Kartini

Buku pertama Kartini diberi judul Door Duisternis tot Licht yang berarti Dari Kegelapan Menuju Cahaya, yang diterbitkan pada 1911. Kemudian, di tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkan buku tersebut dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran. Hingga tahun 1938, keluar pula terbitan Habis Gelap Terbitlah Terang dengan versi seorang sastrawan Pujangga Baru, Armijn Pane.

Di sisi lain, surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris yang telah diterjemahkan ke bahasa Belanda rupanya mampu menarik perhatian warga Belanda. Pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan mereka terhadap perempuan pribumi di Jawa. Salah satunya tokoh politik etis Van Deventer.

Van Deventer sangat terkesan dengan surat-surat yang Kartini tulis sehingga tergeraklah dirinya untuk menulis sebuah resensi dan menyebarluaskan cita-cita Kartini. Sepeninggal dirinya pada 1915, perjalanan tetap dilanjut oleh istrinya yang mendirikan Yayasan Kartini untuk membuka sekolah bagi kaum wanita pribumi. Nyonya Deventer mengurus segalanya sendiri, hingga akhirnya ribuan murid puteri pun memasuki Sekolah Kartini tersebut.

Kartini wafat usai melahirkan anaknya, Soesalit Djojoadhiningrat, pada 17 September 1904 di usia 25 tahun. Di usianya yang masih sangat belia tersebut, Kartini telah berhasil mewujudkan cita-citanya untuk mengangkat derajat perempuan pribumi yang hasilnya dapat kita nikmati sampai hari ini. Semangat perempuan Indonesia, Selamat Hari Kartini!

Bagikan :
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments