Tue, 16 April 2024

Mengenal Sosok Chairil Anwar, Sang Penyair di Hari Puisi Nasional

Reporter: Widi Dwi Haspiani | Redaktur: Annisa Azahra N | Dibaca 307 kali

Thu, 27 April 2023
Sumber Foto: Pinterest.com

JURNALPOSMEDIA.COM – Chairil Anwar, seorang penyair pelopor angkatan ’45 yang dikenal sebagai seorang penyair yang hidup dan matinya tidak lepas dari puisi Indonesia. Semasa hidupnya, Chairil Anwar melahirkan 96 karya termasuk 70 puisi.

Chairil Anwar lahir pada 26 Juli 1922 di Medan, Sumatera Utara. Ia menyelami pendidikan di Sekolah Dasar Belanda, Neufrle Hollands Inlandsche School (HIS). Setelahnya, ia meneruskan pendidikan di sekolah setingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) di Medan, Meer Uilgebreid Lager Onderwijs (MULO), namun tidak diselesaikan. Chairil Anwar memilih belajar bahasa Belanda, bahasa Inggris, dan bahasa Jerman secara sendiri (autodidak).

Lelaki kelahiran Medan tersebut sangat mencintai dunia sastra, karya sastra pertamanya ialah puisi berjudul Nisan, yang terinspirasi dari kematian nenek tercintanya pada 1942. Setelah itu, ia rajin mengirimkan puisi-puisi ciptaannya ke majalah Pandji Pustaka untuk diterbitkan. Walau terkadang, beberapa puisinya masih menerima penolakan karena dianggap sangat individualis.

Akan tetapi, penolakan itu tidak membuatnya berputus asa. Hal tersebut justru memicu ia semakin giat membaca dan mempelajari puisi-puisi dari penulis ternama dari berbagai negara. Dengan kemampuan berbahasa asingnya, ia pun kerap menerjemahkan puisi dari sastrawan asing hingga menghasilkan 71 sajak asli, dua buah sajak saduran, 10 sajak terjemah, enam sajak prosa, dan empat sajak terjemah. Ia bahkan mampu mendirikan majalah sendiri bernama Gema Gelanggang dan sajaknya yang paling terkenal berjudul Aku.

Ia dikenal sebagai pelopor sastra angkatan ‘45 karena perannya memberikan pembaruan puisi Indonesia dan membuat sastra Indonesia semakin berkembang di tengah gempuran Jepang yang mendirikan pusat kebudayaan (Keimin Bunka Shidoso). Hadirnya pusat kebudayaan Jepang tersebut dinilai memanfaatkan kebudayaan bangsa Indonesia dan berpotensi menimbulkan perang. Hal itu memicu semangat Chairil Anwar membuat revolusi sastra Indonesia.

Sejarah telah membuktikan bahwa Chairil Anwar adalah penyair besar Indonesia. Chairil sendiri telah memprediksi hal tersebut, ia pernah berkata, “Nantilah kalau aku sudah meninggal, mereka akan mengerti. Mereka akan memujaku. Mereka akan mematungkan diriku,” ujarnya. Chairil Anwar wafat pada 28 April 1949 meninggalkan karya-karya yang mampu membuktikan ucapannya.

Bagikan :
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments