JURNALPOSMEDIA.COM – Rencana pengembangan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL/PLTSa) di Jawa Barat mendapat sorotan dari berbagai organisasi lingkungan. WALHI Jawa Barat berpendapat bahwa pembangunan fasilitas bukanlah solusi utama untuk mengatasi masalah sampah, karena masalah utama terletak pada lemahnya pengurangan sampah dari sumbernya.
Dalam diskusi berjudul “PSEL Bandung Raya: Solusi Berkelanjutan atau Beban Baru?”, WALHI menekankan ketidakberhasilan pencapaian target Kebijakan dan Strategi Daerah (Jakstrada) Pengelolaan Sampah Jawa Barat hingga tahun 2025.
Pemerintah sebelumnya menargetkan pengurangan limbah mencapai 30 persen melalui pengendalian timbulnya, pemanfaatan kembali, daur ulang, serta pengelolaan limbah sebesar 70 persen. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, Ai Saadiyah Dwidaningsih, mengakui bahwa pencapaian target Jakstrada tersebut dinilai masih belum berhasil.
Keadaan ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah masih lebih banyak terfokus pada penanganan akhir ketimbang pengurangan sampah dari tingkat masyarakat. Nindhita Proboretno dari Nexus 3, menjelaskan bahwa teknologi insinerasi sampah berpotensi menghasilkan emisi berbahaya seperti dioksin dan furan yang bisa berdampak pada kesehatan masyarakat.
Ia mengungkapkan bahwa teknologi pembakaran sampah berisiko menghasilkan emisi berbahaya seperti dioksin dan furan yang dapat berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.
Selain isu lingkungan, Indonesia Corruption Watch (ICW) juga memperingatkan adanya kemungkinan masalah pengelolaan dalam proyek besar seperti PSEL. Pengawasan terhadap pendanaan, proses pengadaan, dan transparansi proyek dianggap perlu ditingkatkan.
Di sisi lain, WALHI beranggapan bahwa pemerintah perlu memperkuat manajemen sampah berbasis masyarakat dengan meningkatkan pemilahan sampah, daur ulang, TPS3R, bank sampah, serta mendorong tanggung jawab produsen atas kemasan yang diproduksi. WALHI Jawa Barat menekankan bahwa solusi dari krisis sampah tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga memerlukan transformasi sistem dalam pola produksi, konsumsi, dan pengelolaan sampah di masyarakat.
















