Tue, 9 December 2025

Mahasiswi Semester Dua Jadi Asisten Dosen, Aulia Putri Bukukan Prestasi Sejak Maba

Reporter: Nur Alfi Laili/Magang | Redaktur: KHOIRUNNISA FEBRIANI SOFWAN | Dibaca 672 kali

Sat, 28 June 2025
(Sumber foto: Dokumen Pribadi)

JURNALPOSMEDIA.COM – Aulia Putri Juhara, mahasiswi Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Bandung, telah mencatatkan langkah luar biasa di usia akademiknya yang masih sangat muda. Lahir dan besar di Cicaheum, Bandung, Aulia kini duduk di semester dua, namun ia telah dipercaya menjadi asisten dosen dan berhasil meraih segudang prestasi sejak awal perkuliahannya.

Perjalanan Aulia menjadi asisten dosen dimulai dari hal yang tidak terduga. Saat sedang menghadapi krisis finansial, ia mencari bantuan pendanaan dari kampus, salah satunya dengan mencari founding support untuk mengikuti lomba usai menjuarai kompetisi. Dari Tata Usaha (TU), ia diarahkan ke Wakil Dekan III yang sebelumnya dikenal aktif dalam bidang kemahasiswaan, respon positif pun langsung ia terima.

“Waktu itu aku butuh banget founding support buat ikut lomba. Dari TU aku diarahkan ke Wadek III. Di situ ternyata Wadek III begitu interest mungkin ya, karena sebelumnya beliau mungkin yang meng-handle kemahasiswaan, jadi secara tidak langsung juga semua mahasiswa berprestasi itu pasti dikumpulinnya sama beliau, dan pas aku bilang aku butuh founding support, beliau langsung menanggapi dengan sangat baik,” ungkap Aulia saat diwawancarai, Rabu (25/6/2025).

Pertemuan itu menjadi titik balik. Selain aktif berorganisasi, Aulia juga memiliki kemampuan luar biasa dalam lima bahasa. Wakil Dekan III yang melihat potensi tersebut kemudian merekrutnya sebagai asisten dosen sekaligus master of ceremony (MC) fakultas dalam rapat kerja dan rapat koordinasi, dengan menggunakan lima bahasa sekaligus.

Meski tidak mengajar di kelas bersama mahasiswa, Aulia tetap menjalankan tanggung jawab akademik. Ia ditugaskan untuk membuat silabus pembelajaran dan melatih Bahasa Inggris kepada staf dan dosen fakultas melalui sesi khusus bernama English Session.

Sesi ini diadakan setiap Senin dan Selasa pagi, di mana ia harus menyiapkan dua hingga empat materi per minggu. Para dosen yang ia latih nantinya akan mengajarkan kembali materi tersebut dengan teknis yang berbeda-beda, sesuai dengan kriteria dari masing-masing dosen.

“Kalo semisal temen-temen ada yang ke fakultas pagi-pagi, itu ada English Session, di sana itu ada dosen-dosen yang udah aku training dan mengajarkan lagi ke dosen dan staf-staf yang lain,” tuturnya.

Tanggung jawab besar tersebut sempat membuatnya merasa canggung dan takut, terutama karena ia harus mengajar para dosen dan staf senior. Demi mempersiapkan diri, Aulia sampai mengikuti kursus tambahan agar materi yang ia berikan bisa tersampaikan dengan matang dan mudah dipahami.

“Canggung dan takut, karena ‘kan saya mengajar dosen-dosen, staf, wadek, bahkan rektor. Siapa tau kemampuan grammatical ataupun pronunciation-nya itu mungkin lebih dari aku, dan itu menjadi suatu kecanggungan. Makanya aku sampai ikut kursus tambahan supaya apa yang aku pelajari dan akan disampaikan bisa dipersiapkan dengan matang,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi Aulia, menjadi asisten dosen bukan sekadar jabatan formal. Ia melihatnya sebagai bentuk kontribusi nyata kepada kampus dan lingkungan sekitarnya. Ia merasa bahwa selama bisa memberi manfaat, sekecil apa pun itu, ia ingin terus melakukannya.

“Seenggaknya aku bermanfaat buat orang-orang sekitar aku, hal sekecil apa pun itu,” ucapnya penuh keyakinan.

Kepeduliannya terhadap lingkungan kampus juga terlihat dari perannya sebagai jembatan antara mahasiswa dan birokrasi fakultas. Teman-teman mahasiswa kerap mengandalkannya dalam mengurus hal-hal administratif, dan Aulia merasa senang bisa membantu.

Di luar aktivitas sebagai asisten dosen, Aulia juga aktif berkompetisi dan sukses menorehkan berbagai prestasi. Sejak semester satu, ia telah mengantongi berbagai penghargaan seperti Duta PBAK (Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan) 2024 UIN SGD Bandung, Juara 1 Speech Competition Art and Language Festival (ALF) 2024, Juara 1 Speech Competition Widyatama Grand Festival (WGF) 2025, Juara 2 dan Juara Favorit Speech Competition National English Competition (NEC) 2025, Honorable Mention Speech National English Competition (NEC) 2025, Juara 1 Speech Competition AKSIRA X FESTKOM (Festival Komunikasi), Juara Cerpen Tingkat Regional, Juara 1 Karya Tulis Ilmiah di SEON (Science Education and Olympiad National) UM Makassar, Peserta Terbaik IELTS Camp, Brand Ambassador CV. Pertemanan Sejiwa Batch 5, Campus Ambassador Populix, Duta Bahasa Intelegensia 2025 UIN SGD Bandung, hingga Brand Ambassador Fakultas Adab dan Humaniora.

Namun, di balik keberhasilan tersebut, ada perjuangan berat yang harus ia hadapi. Salah satunya adalah ketika ia hampir kehilangan status sebagai mahasiswa karena terlambat membayar uang kuliah tunggal (UKT) selama dua minggu. Saat itu sedang berlangsung sesi catwalk, tapi ia harus bolak-balik ke rektorat untuk mengurus surat dispensasi, untuk tetap bisa berkuliah.

“Waktu itu partner aku nyariin dan dia kira aku lagi di kamar mandi. Tapi ternyata aku lagi berurusan dengan rektorat, karena aku telat bayar UKT selama dua minggu, jadi status mahasiswa baru dan posisi aku sebagai Duta PBAK itu dipertaruhkan bagai telur di ujung tanduk,” ceritanya dengan nada serius.

Aulia meyakini, semua keberkahan dan keberhasilannya adalah hasil dari istikharah sang ibu. Karena itulah, ia berusaha sekuat tenaga untuk terus bertahan dan membuktikan bahwa dirinya layak.

Dalam mengatur berbagai aktivitasnya, Aulia menggunakan strategi prioritas yaitu hal yang paling mendesak dan urgent harus diutamakan, meskipun ada aktivitas lain yang lebih berat. Ia juga mengandalkan aplikasi seperti Telo dan Google Calendar untuk mengelola jadwal hariannya secara efektif.

Aulia mengaku banyak terinspirasi dari sosok-sosok senior seperti Naurah Zhafira Hatta yang merupakan Duta PBAK 2023 Fakultas Adab dan Humaniora yang memiliki jiwa leadership yang tinggi dan mengajarkannya untuk berani memulai sesuatu, dan juga Fathir Khalid yang merupakan Duta Bahasa UIN Bandung periode sebelumnya yang merupakan mahasiswa double degree, hal itu menginspirasinya untuk seperti beliau juga. Ia bahkan tengah mempersiapkan program double degree dan telah memperoleh Letter of Acceptance (LOA) dari Telkom University, tinggal menunggu beasiswanya turun.

Meski sempat ditawari menjadi dosen pengganti oleh Wakil Dekan III, Aulia mengaku, impiannya justru mengarah ke dunia korporat. Ia berharap bisa bergabung dengan perusahaan besar seperti Unilever atau Deloitte di sektor Fast Moving Consumer Goods (FMCG). Namun, jika nanti ada kesempatan menjadi dosen, ia juga menyatakan siap.

Kepada mahasiswa baru, Aulia memberikan pesan yang tegas namun personal yaitu jangan pernah terpaku pada pencapaian dan study plan orang lain. Temukan study plan kita sendiri, karena setiap orang memiliki ritme dan potensi yang berbeda.

“Jangan pernah ikut-ikutan study plan orang lain. Buatlah study plan versi sendiri yang cocok untuk kita. Aku bisa sampai di titik ini karena aku punya study plan sendiri,” pungkasnya.

Dengan semangat, keberanian, dan kemampuan multibahasa yang dimilikinya, Aulia Putri Juhara telah membuktikan, di usia muda dan semester awal bukanlah hambatan, bahkan di tengah keterbatasan finansial, ia menjelma menjadi sosok inspiratif yang mampu mengubah tantangan menjadi pijakan menuju keberhasilan.

Bagikan :
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Terlama
Terbaru Suara Banyak
Inline Feedbacks
View all comments