JURNALPOSMEDIA.COM – Lima mahasiswa Angkatan 2022 Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain Universitas Pendidikan Indonesia (FPSD UPI) Bandung gelar pameran seni rupa bertajuk “Kelindan Gema” yang berlangsung pada 12–15 Desember 2025. Bertempat di Tjap Sahabat Gallery, Jl. Cibadak No. 168A, Kota Bandung.
Pameran ini mengangkat dialog antara kehidupan urban Kota Bandung dan rural Kabupaten Bandung yang kerap dipandang terpisah, namun sesungguhnya saling berkelindan (terjalin).
Ketua pelaksana pameran, Muhammad Syahrizal Akbar, menjelaskan, “Kelindan ” lahir dari kegelisahan seniman tentang sebuah paradoks puitis antara dua realitas yaitu Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Menurutnya, perbedaan antara kota dan kabupaten tidak hanya bersifat geografis, tetapi juga secara psikologis dan kultural.
“Kelindan itu mewakilkan sisi urban Kota Bandung yang kehidupannya itu kompleks dan cepat. Sementara itu, gema mewakilkan sisi rural dari Kabupaten Bandung yang tampaknya masih dekat dengan tradisi dan ritme kehidupan yang lebih tenang dibandingkan dengan kehidupan Kota Bandung yang padat,” ujarnya saat diwawancarai Jurnalposmedia pada Sabtu, (13/12/2025).
Pameran ini melibatkan lima mahasiswa yang tidak hanya berperan sebagai seniman, tetapi juga sebagai panitia. Karya-karya yang ditampilkan berasal dari berbagai medium, mulai dari lukisan, seni grafis, hingga patung keramik. Seluruh karya tersebut berangkat dari pengalaman personal para perupa dalam memaknai Bandung, khususnya kehidupan di wilayah perbatasan antara kota dan kabupaten.
Kurator pameran, Najma Malfika Kheirdina menyampaikan, Kelindan Gema merupakan bagian dari Bandung Rhizome Project dengan tema besar “Contrast in Harmony”. Ia menilai, Bandung tidak bisa dipahami sebagai satu wajah tunggal.
“Masih banyak wilayah Kabupaten atau perbatasan Bandung yang seringkali terlupakan atau mereka tidak dianggap sebagai orang Bandung gitu. Karena kebanyakan orang menganggap Bandung itu hanya sebagai kota besarnya aja,” ungkap Nazma.
Secara kuratorial, penataan karya disusun secara naratif agar pengunjung dapat merasakan sekaligus memahami perbedaan kehidupan rural dan urban. Konsep yang kontras tetapi tetap dalam kesatuan makna ditampilkan melalui perbedaan warna, tekstur, serta material karya. Beberapa karya bahkan menggunakan media tidak konvensional, seperti kantong teh celup dan penyaring kopi untuk menghasilkan karya cyanotype yang berhasil menarik perhatian pengunjung.
Antusiasme pengunjung menjadi salah satu indikator keberhasilan pameran ini. Salah satu pengunjung, Abdillah Syafiq mengatakan pameran ini menawarkan pengalaman visual yang berbeda.
“Jujur, keren! Banyak karya seni yang belum pernah saya lihat. Seperti karya dari clay atau tanah liat, terus ada yang di-print di kantong teh celup dan di penyaring kopi, yang seperti itu baru pertama kali saya lihat. Terus sama dari filosofi-filosofi karyanya juga dapet banget sih,” katanya.
Pengunjung lain, Muhammad Ramzhi Adhani menilai karya-karya yang ditampilkan mudah dipahami oleh masyarakat umum karena adanya penjelasan langsung dari seniman dan kurator.
“Menurut saya mudah dipahami, soalnya ketika kita masuk ke tempat pameran tuh langsung dijelaskan ini karya apa oleh kakak-kakak di sini. Jadi kita tidak bingung gitu, tentang makna dari lukisan ini apa dan dari media apa,” jelasnya.
Melalui Kelindan Gema, para seniman berharap pengunjung lebih sadar bahwa Bandung tidak hanya tentang pusat kota.
“Semoga pengunjung bisa lebih aware, bahwa Bandung bukan hanya kota yang macet dan ramai, tapi juga punya wilayah perbatasan atau kabupaten dengan keindahan dan ketenangannya sendiri,” tutup Najma.















