Sun, 19 May 2024

Kebijakan Pemerintah Menghadapi Corona, Akankah Seperti 1984?

Reporter: Fakhri Fadhlurohman/Kontributor | Redaktur: Rais Maulana Ihsan | Dibaca 167 kali

Wed, 1 April 2020
Big Brother City. (Sumber: obeygiant.com)

JURNALPOSMEDIA.COM – Kasus Novel Covid-19 atau lebih akrab disebut virus corona semakin hari kian bertambah kasus penularannya di Dunia khususnya Indonesia. Tak ayal runtutan kebijakan dikeluarkan oleh pemerintah demi memenangkan peperangan dengan virus tersebut.

Runtutan kebijakan itu antara lain mengimbau, atau lebih tepatnya ‘memaksa’ masyarakat Indonesia untuk physical distancing guna memutus penyebaran virus yang kian hari kian masif. Kebijakan-kebijakan ini ditafsirkan oleh beberapa pemerintah daerah (pemda) dengan membatasi kegiatan masyarakat di kawasan umum.

Penerapan di setiap daerahnya pun berbeda-beda, mulai dari menutup beberapa tempat umum sampai melakukan lockdown di daerah-daerah tertentu. Hasilnya hastag ‘Dirumahaja’ ramai digembor-gemborkan oleh pemerintah dan khalayak.

Namun bagaimana jadinya jika kebijakan tersebut menjadi mimpi buruk bagi masyarakat umum ketika corona sudah terkalahkan. Inilah yang ditakutkan oleh Yuval Novel Harari dalam esainya The World After Coronavirus’.

Ketika membaca tulisannya, kembali teringat dengan novel 1984 karya George Orwell yang menceritakan tentang sebuah dunia dystopia yang semua diatur oleh pemerintah otoritarianisme. Mengapa Yuval sampai berpikir seperti itu? Memang seperti apakah dunia nantinya setelah pendemi ini berakhir?

Lawrence R. Samuel dalam tulisannya ‘Why Do We Think So Much of The Future?’, memprediksi masa depan hanya menjadi hasrat psikologis, untuk mengetahui masa depan terkesan misterius karena belum diketahui. Konteks psikologis inilah yang ramai dibicarakan oleh para pemikir, salah satunya Yuval Noah Harari.

Sebagai salah seorang filsuf yang berpengaruh di abad ke 21 ini, Yuval melihat sebuah kepemimpinan akan menjadi otritarian ketika pendemi ini berakhir. Dengan teknologi yang berkembang saat ini, bukan tidak mungkin jika kita akan terus diawasi setiap tingkah laku kita selama hidup.

Bayangkan saja, ketika tulisan ini dibuat pun sebenarnya pemerintah tahu apa yang akan kita buat hanya dengan detak nadi saja. Apakah ini mungkin? Bisa saja. Seperti yang ditulis Yuval dalam esainya “Saat ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, teknologi memungkinkan pemantauan terhadap semua orang setiap saat”.

Contoh yang di ambil Yuval adalah ketika kebijakan pemerintah Tiongkok dalam mengawasi rakyatnya dari ponsel mereka. Tidak hanya untuk mengecek kesehatan saja, tetapi melacak dari mana saja dan dengan siapa saja mereka bertemu. Dalam situasi saat ini, pengawasan seperti itu sangatlah efektif karena dapat memutus rantai corona dengan cepat. Tapi bagaimana jika itu terus digunakan setelah pendemi ini berakhir?

Lalu bagaimana cara pemerintah membuat masyarakatnya percaya bahwa kebijakan ini dapat dilakukan setelah pendemi? Pastinya penuh dengan tipu muslihat. Contohnya, saat ini kita sedang berperang bersama melawan virus corona. Dengan segala ketakutan dari setiap pemberitaan media, kita pastinya perlu untuk berlindung diri. Peran pemerintah disini adalah sebagai penjaga masyarakat agar percaya bahwa mereka (pemerintah) akan melindungi masyarakatnya dan memerangi virus ini.

Caranya, pemerintah meminta bekerja sama dengan masyarakat agar wajib mematuhi kebijakan yang dikeluarkan demi keselamatan mereka. Situasi seperti itu, apa yang akan kita pilih? Kesehatan atau privasi? Tentu kita akan lebih memilih nyawa daripada privasi. Seperti ini nantinya yang akan di lakukan pemerintah pasca corona selesai. Dengan dalih keamanan kesehatan dan mengingat kasus corona yang telah terjadi, pemerintah bisa saja mengeluarkan kebijakan yang dapat merenggut hak privasi kita di masa mendatang.

Jika kita kembali membaca novel 1984 karya George Orwell, bukan mustahil jika dunia dengan pemerintahan otoritarian akan hadir dan “The Big Brother” akan mengawasi kita setiap saat, juga dapat mengetahui apa yang sedang kita rasakan.

Namun ini hanyalah pengingat, Yuval menekankan agar masyarakat selalu sadar bahwa kesehatan dan privasi adalah hak yang tidak bisa dipisahkan. Peran pemerintah untuk memenuhi kesehatan masyarakatnya tidak hanya dengan pengawasan ekstra posesif, melainkan dengan penyuluhan-penyuluhan.

Dengan teknologi canggih di masa depan, kita dapat mengetahui kondisi kesehatan. Terlebih yang menentukan pilihan adalah diri sendiri. Dengan begitu privasi dan kesehatan kita akan tetap terjaga. Semoga di masa mendatang pemerintah dan masyarakat bisa saling bekerja sama. Karena kita tidak ingin berakhir dengan dunia yang dystopia dan selalu diawasi The Big Brother.

 

Penulis merupakan mahasiswa semester 6 Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik UIN Bandung

Bagikan :
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments