Sun, 3 May 2026

Bandung Art Space: GREY Curated, Upaya Membumikan Seni Lewat Ruang Publik

Reporter: Ravi Ahmad Maulana | Redaktur: ANGGIA ANANDA SAFITRI | Dibaca 2168 kali

(Sumber foto: Ravi Ahmad Maulana/Jurnalposmedia)

JURNALPOSMEDIA.COM   Ketika sebagian orang menganggap seni terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari, GREY Curated justru membawanya ke tengah keramaian Bandung Fair 2025. Pameran ini menjadi jembatan antara seniman dan masyarakat, menghadirkan karya-karya terkurasi dengan harga yang bersahabat tanpa mengorbankan nilai artistik.

External Relations, Anna Hardjadinata mengungkapkan, pameran ini biasanya berlangsung di dalam galeri, ataupun hadir di pameran-pameran terbuka, seperti di Art Jakarta. Namun, belakangan ini GREY Art Gallery ingin memperluas jangkauan ke masyarakat lewat inovasi barunya, yaitu GREY Curated, yang kali ini hadir di Bandung Art Space.

“Sebetulnya begini, dari galeri kami sendiri sudah berjalan 3 tahun, dan biasanya pameran itu hanya dilakukan di dalam galeri, atau saat mengikuti pameran bersama seperti Art Jakarta. Tapi, akhir-akhir ini kita ingin mencoba sesuatu yang baru untuk memperluas jangkauan ke masyarakat tentang seni, terutama tentang peran dan fungsinya,” ungkapnya saat diwawancarai pada Jumat (31/10/2025).

GREY Curated lahir dari keinginan GREY Art Gallery untuk mendekatkan seni kepada masyarakat. Selama ini karya di galeri terkesan eksklusif dan berharga tinggi, sehingga sulit dijangkau publik. Melalui artisan merchandise dan karya terkurasi dengan harga terjangkau, GREY ingin menunjukkan bahwa seni dapat dinikmati dan dimiliki siapa pun tanpa kehilangan nilai artistiknya.

Hal itu dibuktikan dengan digandengnya kurator ulung, sebagai bukti keseriusan dan dedikasi GREY Art Gallery terhadap perkembangan ekosistem seni lokal.

“Kita bersama-sama dengan kurator kami dari GREY Art Gallery, Pak Angga, beliau yang mengkurasi secara keseluruhan berkaitan dengan karya siapa saja yang akan kita bawa kali ini yang dirasa tepat untuk mewakili tema kita, GREY Curated,” ujarnya.

Meski begitu, Anna mengaku persiapan GREY Curated ini menghadapi beberapa tantangan, salah satunya adalah perihal waktu.

“Yang paling menantang adalah masalah waktu. Karena kita mepet banget, pas waktu deal untuk kerjasama kira-kira hanya beberapa minggu, dan saat itu kita juga sedang menghadapi pameran rutin di galeri kami yang di Braga, jadi terpecah timnya,” jelasnya.

Respons pengunjung menjadi kejutan manis bagi Anna. Banyak yang datang setelah melihat unggahan di media sosial, bahkan dari kalangan yang sebelumnya tak begitu akrab dengan dunia seni. Antusiasme mereka memberi semangat baru bagi GREY Art Gallery untuk menjadikan GREY Curated sebagai pilot project yang berkelanjutan ke depan.

Melalui GREY Curated, GREY Art Gallery ingin menghadirkan karya yang artistik sekaligus dekat dengan publik. Setiap karya dipilih dengan cermat agar seni dapat dinikmati siapa pun, baik lewat pameran maupun artisan merchandise yang dihadirkan.

Bagi Anna, ruang seperti Bandung Art Space berperan penting dalam menghidupkan ekosistem seni lokal. Tempat ini bukan hanya memacu semangat seniman untuk berkarya, tapi juga memberi pengalaman baru bagi masyarakat. Ia menekankan, penguatan ekosistem seni harus berawal dari kesadaran bersama antara seniman dan publik.

“Sangat penting, karena seniman juga jadi lebih bersemangat untuk terus berkarya, masyarakat juga mendapatkan pengalaman yang baru. Kami menyadari dengan benar karya seni seperti ini kolektornya terbatas. Meskipun ini affordable, tapi gak semua orang akan membeli. Jadi memang kami sadar ekosistem ini perlu diawali dari pikiran-pikiran seniman dan masyarakatnya itu sendiri,” tuturnya.

Anna berharap konsep GREY Curated bisa berlanjut di berbagai ruang publik seperti mal atau taman kota, menjadi wadah yang menyatukan seniman dan masyarakat dalam pengalaman seni yang lebih dekat dan terbuka.

“Ke depannya saya berharap pop-up art market dapat muncul di mal atau di ruang publik yang lain. Kita berharap ini menjadi ruang yang menyatukan antara masyarakat dan seniman,” paparnya.

Di sisi lain, pengunjung, Dede Julaika mengungkapkan bahwa Bandung Art Space menjadi ruang baru untuk menikmati dan memahami seni. Tempat ini dianggap penting karena mendekatkan seniman dan masyarakat dalam membangun ekosistem seni lokal.

Bagi Dede, keberagaman karya di Bandung Art Space menjadi daya tarik tersendiri. Ia terkesan melihat berbagai teknik dan medium yang digunakan, dari lukisan dua dimensi hingga karya detail dengan manik-manik, semuanya menghadirkan pengalaman visual yang memukau.

“Untuk kesannya yang pasti setelah aku masuk dan melihat karya-karya di Art Space ini banyak banget macemnya gitu ya. Dari mulai seni dua dimensi kayak lukisan-lukisan gitu, yang juga dari cara tekniknya juga beda-beda. Ada yang digambar, ada yang dilukis menggunakan pensil, terus juga ada yang pakai detail manik-manik. Itu luar biasa sih aku rasa,” ujarnya.

Menurutnya, karya-karya di Bandung Art Space berhasil menyampaikan emosi dan gagasan yang kuat.

“Kalau menurut aku sebenarnya berhasil ya, berhasil menyampaikan emosi atau gagasan tertentu. Contohnya kita ambil dari yang tadi, karya seni yang dibentuk dari barang-barang bekas. Nah, itu tuh menyampaikan bahwa barang-barang bekas yang udah gak terpakai masih punya nilai guna. Yang dimana nilai gunanya juga nilai seni gitu. Itu keren sih,” tuturnya.

Karya-karya di Bandung Art Space menunjukkan bagaimana seni bisa lahir dari hal-hal sederhana di sekitar. Dari bahan bekas, para seniman dan artisan menghadirkan karya yang tak hanya indah, tapi juga sarat makna. Ruang ini menjadi bukti bahwa seni dapat tumbuh dekat dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus menjadi ruang hidup bagi seniman untuk terus berkarya.

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama