Mon, 8 June 2026

Tantangan Debat untuk Prabowo, BEM UGM Dorong Transparansi Kebijakan Publik

Reporter: Itsna Nursofiatun Ni'mah | Redaktur: Ravi Ahmad Maulana | Dibaca 1301 kali

Sumber foto: Suara.com

JURNALPOSMEDIA.COM – Dalam dinamika politik Indonesia, gerakan mahasiswa kembali menunjukkan peran kritisnya terhadap kebijakan pemerintahan. Baru-baru ini, Prabowo Subianto menjadi pusat perhatian setelah Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, menantang presiden untuk menghadiri debat terbuka di hadapan mahasiswa UGM.

Dilansir dari tvOne News, tantangan debat ini disampaikan oleh Tiyo Ardianto saat menjadi narasumber di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP.  Ia menilai bahwa banyak kebijakan pemerintah saat ini didominasi oleh dialog internal tanpa ruang dialektika atau uji publik secara langsung. Menurutnya, debat terbuka di kampus adalah wadah penting bagi pertukaran gagasan secara langsung antara pemerintah dan masyarakat akademis.

Dalam ajakan itu, Tiyo menyatakan bahwa kehadiran presiden dalam forum terbuka seperti debat bisa membantu memperjelas dan menguji kebijakan-kebijakan publik secara transparan di hadapan mahasiswa dan masyarakat luas.

Mengutip dari netralnews.com, permintaan debat ini memicu beragam tanggapan dari masyarakat dan pengamat politik. Beberapa pihak menilai inisiatif tersebut sebagai bentuk partisipasi aktif mahasiswa dalam demokrasi dan tugas moral sebagai pengawal kebijakan publik. Sementara itu, kritik juga muncul yang menyebut langkah ini berpotensi menjadi sensasi politik atau sekedar pencitraan tanpa tujuan konstruktif dan fungsional.

Tak hanya itu, beberapa kritik terhadap pemerintah juga telah disampaikan Tiyo dalam periode sebelumnya termasuk kritik keras atas sejumlah kebijakan pemerintahan dan langkah formal seperti pengiriman surat kepada lembaga internasional atas kasus sosial.

Di tengah sorotan publik, Tiyo sempat meminta maaf kepada Presiden Prabowo setelah menggunakan kata-kata yang dinilai terlalu tajam dalam kritiknya. Ia menegaskan bahwa ajakan debat yang disampaikan bukan bertujuan untuk menyerang secara personal, tetapi untuk membuka ruang dialog langsung antara pemerintah dan mahasiswa.

Situasi ini juga berkembang setelah Tiyo dan sejumlah pengurus BEM UGM mengaku menerima berbagai bentuk intimidasi usai menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Kondisi tersebut kemudian memicu diskusi lebih luas mengenai kebebasan akademik di lingkungan kampus, termasuk pentingnya ruang yang aman bagi mahasiswa untuk menyampaikan kritik dalam sistem demokrasi.

Bagikan :

Rekomendasi

Menilik Indikator Penilaian Skor Ujian serta Masa Aktif Sertifikat Kursus TOEFA dan TOEFL JURNALPOSMEDIA.COM – Sejalan dengan kegiatan persiapan ujian Test of English for Academics (TOEFA) dan Test of English Foreign Language (TOEFL) yang di adakan oleh Language Center (LC) UIN Bandung, terdapat beberapa indikator penilaian skor ujian serta masa aktif sertifikat kursus bagi mahasiswa. Ketua LC UIN Bandung Abdul Kodir turut menjelaskan, berkenaan dengan skor nilai, setiap tahunnya akan ada beberapa perubahan kebijakan. Hal ini dipicu karena adanya cetakan baru buku Pedoman Akademik di setiap tahunnya. “Jadi kita hanya memberikan keterangan bahwa anda skornya sekian. Nanti umpan-umpannya skornya berlaku atau tidak atau misalkan kurang, maka ya, harus ujian lagi dan kalau mau ujian lagi anda gausah dari ulang harus kursus lagi,” ungkapnya kepada Jurnalposmedia, Rabu (27/7/2022). Skor dan Keuntungan yang Didapat Abdul Kodir kembali menjelaskan, mengenai minimal skor yang diraih oleh setiap mahasiswa itu berbeda-beda, hal ini bergantung pada kebijakan Fakultas dan Program Studi Prodi nya masing-masing. Sementara indikator dan standar penilaiannya dinilai dari listening, reading, dan vocabulary. “Untuk vocabulary nya kita itu ingin mahasiswa UIN itu paham dan mengenal vocab-vocab dengan istilah yang dekat dengan keislaman jadi nanti ada kaya English for islamic student jadi nanti ada vocab yang nanti dekat dengan kajian-kajian keislaman,” ungkapnya. Beralih dari tes tersebut, Abdul kembali menuturkan, para mahasiswa yang mengikuti tes dan kursus keterampilan berbahasa nantinya akan mendapatkan keuntungan berupa sertifikat kursus. “Masa aktif sertifikat tes TOEFL dan TOEFA ini hanya dua tahun, jika sudah lebih dari dua tahun maka harus tes lagi agar mendapatkan skor TOEFL yang terbaru dan sertifikatnya aktif. Sedangkan sertifikat kursus keterampilan berbahasa bisa aktif seumur hidup,” jelasnya. Tanggapan Mahasiswa Terkait Tes TOEFL dan TOEFA Kursus bahasa yang berujung dengan ujian TOAFL dan TOEFA, sebagai syarat kelulusan ini banyak mendapatkan apresiasi dari mahasiswa yang semangat untuk mengikuti kursus tersebut. Mahasiswi jurusan Ilmu Al-Qur’an Tafsir (IAT), Destiana Rosyidah sangat mengapresiasi kegiatan ini. Desti juga tidak sungkan mengeluarkan kritik dan sarannya untuk program ini. “Hanya saja sertifikat yang nantinya keluar setelah ujian itu hanya bisa di pakai di kampus saja, tidak bisa di pakai untuk kepentingan di luar kampus, semisal untuk melamar beasiswa atau pekerjaan yang membutuhkan sertifikat serupa,” ungkapnya. Ia juga berharap agar dosen pembimbing kursus mulai memperhatikan kegiatan belajar mengajar (KBM) mahasiswa nya agar mendapatkan hasil maksimal dalam ujiannya. Karena masih banyak dosen pembimbing yang kurang memperhatikan KBM kursusnya. “Tidak semua dosen pembimbing kursus peduli pada mahasiswa kursusnya. Yah

Tinggalkan komentar pertama