JURNALPOSMEDIA.COM – Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Bandung menggelar seminar bertajuk “Pilar Kebangsaan: Pondasi Tangguh dalam Menyikapi Politik Identitas dan Polarisasi Sosial” di Aula FISIP Lantai 1, pada Selasa (14/10/2025). Kegiatan ini diikuti sekitar 150 peserta dan merupakan kolaborasi Dema FISIP dengan Atalia Collaboration Center (ACC) untuk mengikis maraknya politik identitas di kalangan mahasiswa.
Ketua pelaksana, Neng Rima menjelaskan, latar belakang diadakannya seminar Pilar Kebangsaan tidak lain karena timbul dari keresahannya saat menyaksikan banyaknya praktik politik di ruang lingkup FISIP yang dianggapnya sudah sangat menyimpang dari esensi politik yang diharapkan.
“Alasan diselenggarakan seminar ini karena melihat daripada politik identitas yang kian marak, khususnya di UIN Bandung juga, terlebih khusus itu di FISIP, melihat daripada hal itu, maka kami sebagai panitia tergerak hatinya untuk mengambil tema tersebut,” ujarnya pada Selasa (14/10/2025).
Ia berharap seminar ini dapat mengurangi praktik politik identitas di FISIP melalui pemahaman empat pilar kebangsaan: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.
Meski demikian, seminar ini pun tak lepas dari tantangan yang berat. Menjelang pelaksanaan seminar, panitia sempat mendapat tantangan berupa penyebaran pamflet bertuliskan “Atalia Anti Pesantren” oleh pihak yang menolak acara tersebut. Namun, panitia segera mengambil langkah preventif agar kegiatan tetap berjalan aman.
“Tadi malam nih ada satu pamflet saya juga dikirim pagi-pagi jam 2 subuh, bahwa dikatakan disitu tuh UIN menolak Ibu Atalia terkait dengan isu pesantren itu, “Atalia Anti Pesantren” katanya itu. Itu merupakan salah satu tantangan sehingga tadi pun kami di pagi-pagi itu sudah agak repot menyiapkan orang-orang (penjaga) mungkin takutnya misalkan ada demo dari pihak sebelah (yang tidak menerima) yang menggaungkan isu tersebut. Maka daripada itu menjadi salah satu tantangan yang lumayan cukup berat gitu,” tuturnya.
Seminar ini menghadirkan narasumber seperti Dekan FISIP UIN Bandung, pengamat politik, dan anggota DPR RI Atalia Praratya.
Untuk itu, Neng Rima berpesan agar mahasiswa lebih bijak menyikapi isu politik identitas dan tidak mudah menerima informasi negatif tanpa dasar.
“Pesan saya, semoga teman-teman mahasiswa bisa lebih paham terkait dengan politik identitas, pun bisa menghilangkan politik identitas ini dan juga polarisasi yang ada di kampus. Hal-hal (informasi) yang negatif itu bisa untuk tidak langsung dicerna mentah-mentah, dengan pondasi tangguh dari empat pilar yang sudah tadi saya sebutkan gitu,” tuturnya.
Di sisi lain, seorang peserta, Ivania Karen mengungkapkan insight baru yang ia dapat dari seminar ini, yaitu pemahaman mendalam tentang empat pilar penting negara. Bagi Ivania, materi tentang bagaimana mahasiswa lebih aware terhadap isu politik menjadi salah satu pelajaran yang paling berharga. Baginya, mahasiswa tak hanya sekadar harus bergerak, namun harus memiliki pondasi pengetahuan yang kokoh untuk menopang gerakannya.
“Materi yang paling berkesan tentunya gimana caranya mahasiswa aware tentang isu-isu politik di Indonesia,” ucapnya.
Sebagai penutup, ia mengakui bahwa isu yang diangkat sangat relevan dengan keadaan iklim politik saat ini. Selain itu, ia juga bertekad memberi dampak yang nyata dengan langkah yang akan diambilnya setelah menerima materi seminar ini.
















