Wed, 24 June 2026

Genap Tiga Minggu  UIN Bandung Laksanakan Kuliah Luring, Mahasiswa Keluhkan Minimnya Lahan Parkir

Parkiran UIN Bandung yang padat akan kendaraan mahasiswa (Siti Hanif/Jurnalposmedia)

JURNALPOSMEDIA.COM-  Genap tiga pekan sudah UIN Bandung melaksanakan Kegiatan akademik secara luring. Hal tersebut menimbulkan perbedaan yang signifikan terhadap mobilitas yang dilakukan mahasiswa di kampus dari dua tahun sebelumnya akibat pandemi.

Berlangsungnya kegiatan perkuliahan secara luring tersebut tidak luput dari antusias para mahasiswa yang tinggi. 

Meskipun kegiatan akademik berjalan lebih kondusif, dari hasil penelusuran tim Jurnalposmedia, terdapat keluhan dari sebagian mahasiswa minimnya akses parkir karena membludaknya mahasiswa yang membawa kendaraan ke kampus disertai dengan lahan parkir yang minim. 

Salah satu mahasiswi Ilmu Al-Quran dan Tafsir angkatan 2019, Destiana Rosyidah, memandang keadaan kampus yang sangat ramai telah mengurangi suasana lingkungan pendidikan yang semestinya. 

“Waktu kuliah online jalan di kampus leluasa, kuliah offline gak nyangka jadi sepadet ini. Susah parkir, masuk kampus serasa masuk pasar. Apalagi melihat mahasiswa yang nongkrong sambil ngerokok, kayak sedikit hilang vibes pendidikannya,” ungkapnya. 

Hal yang sama juga dirasakan oleh mahasiswa baru Akidah Filsafat, Aep Candra, yang merasa kurang menikmati suasana kampus dan masih perlu beradaptasi dengan lingkungan perkuliahan. 

“Atmosfer kuliahnya dapet banget, cuma agak kaget kulturnya jauh banget. Kurang nyaman karena minimnya tempat buat bersantai dan menikmati suasana kampus,” ujarnya. 

Di balik antusiasme mahasiswa, mereka juga menaruh harapan besar agar pihak kampus UIN Bandung dapat membuat kebijakan agar sirkulasi kegiatan perkuliahan lebih sistematis.

 Aep Candra berpesan agar pihak kampus lebih memperhatikan lagi fasilitasnya untuk mahasiswa.

“Perbanyak lagi tong sampah, semoga kedepannya fasilitas parkir memadai,” pungkasnya.

 

(Penulis: Siti Hanif Fidriyati/Widi Dwi H l Redaktur: Siti Barkah)

 

Bagikan :

Rekomendasi

Menilik Indikator Penilaian Skor Ujian serta Masa Aktif Sertifikat Kursus TOEFA dan TOEFL JURNALPOSMEDIA.COM – Sejalan dengan kegiatan persiapan ujian Test of English for Academics (TOEFA) dan Test of English Foreign Language (TOEFL) yang di adakan oleh Language Center (LC) UIN Bandung, terdapat beberapa indikator penilaian skor ujian serta masa aktif sertifikat kursus bagi mahasiswa. Ketua LC UIN Bandung Abdul Kodir turut menjelaskan, berkenaan dengan skor nilai, setiap tahunnya akan ada beberapa perubahan kebijakan. Hal ini dipicu karena adanya cetakan baru buku Pedoman Akademik di setiap tahunnya. “Jadi kita hanya memberikan keterangan bahwa anda skornya sekian. Nanti umpan-umpannya skornya berlaku atau tidak atau misalkan kurang, maka ya, harus ujian lagi dan kalau mau ujian lagi anda gausah dari ulang harus kursus lagi,” ungkapnya kepada Jurnalposmedia, Rabu (27/7/2022). Skor dan Keuntungan yang Didapat Abdul Kodir kembali menjelaskan, mengenai minimal skor yang diraih oleh setiap mahasiswa itu berbeda-beda, hal ini bergantung pada kebijakan Fakultas dan Program Studi Prodi nya masing-masing. Sementara indikator dan standar penilaiannya dinilai dari listening, reading, dan vocabulary. “Untuk vocabulary nya kita itu ingin mahasiswa UIN itu paham dan mengenal vocab-vocab dengan istilah yang dekat dengan keislaman jadi nanti ada kaya English for islamic student jadi nanti ada vocab yang nanti dekat dengan kajian-kajian keislaman,” ungkapnya. Beralih dari tes tersebut, Abdul kembali menuturkan, para mahasiswa yang mengikuti tes dan kursus keterampilan berbahasa nantinya akan mendapatkan keuntungan berupa sertifikat kursus. “Masa aktif sertifikat tes TOEFL dan TOEFA ini hanya dua tahun, jika sudah lebih dari dua tahun maka harus tes lagi agar mendapatkan skor TOEFL yang terbaru dan sertifikatnya aktif. Sedangkan sertifikat kursus keterampilan berbahasa bisa aktif seumur hidup,” jelasnya. Tanggapan Mahasiswa Terkait Tes TOEFL dan TOEFA Kursus bahasa yang berujung dengan ujian TOAFL dan TOEFA, sebagai syarat kelulusan ini banyak mendapatkan apresiasi dari mahasiswa yang semangat untuk mengikuti kursus tersebut. Mahasiswi jurusan Ilmu Al-Qur’an Tafsir (IAT), Destiana Rosyidah sangat mengapresiasi kegiatan ini. Desti juga tidak sungkan mengeluarkan kritik dan sarannya untuk program ini. “Hanya saja sertifikat yang nantinya keluar setelah ujian itu hanya bisa di pakai di kampus saja, tidak bisa di pakai untuk kepentingan di luar kampus, semisal untuk melamar beasiswa atau pekerjaan yang membutuhkan sertifikat serupa,” ungkapnya. Ia juga berharap agar dosen pembimbing kursus mulai memperhatikan kegiatan belajar mengajar (KBM) mahasiswa nya agar mendapatkan hasil maksimal dalam ujiannya. Karena masih banyak dosen pembimbing yang kurang memperhatikan KBM kursusnya. “Tidak semua dosen pembimbing kursus peduli pada mahasiswa kursusnya. Yah

Tinggalkan komentar pertama