Sun, 12 July 2026

Evaluasi Pemilu 2019, Menuju Demokrasi Lebih Baik

Reporter: Ratih Pratiwi | Redaktur: Nazmi Syahida | Dibaca 1050 kali

Ketua Bawaslu Provinsi Jawa Barat, Abdullah Dahlan saat memaparkan materi dalam rangka Dialog Seputar Konstitusi atau Dialektis, bertempat di Aula Perpustakaan UIN Bandung Lt. 1, Kamis (10/10/2019). (Ratih Pratiwi/Jurnalposmedia)

JURNALPOSMEDIA.COM–Lembaga Kajian dan Debat Mahasiswa (LKDM), sukses menggelar Dialog Seputar Konstitusi atau Dialektis. Mengusung tema ‘Refleksi Demokrasi Kita: Meninjau Ulang Pemilu Serentak 2019 Dalam Kehidupan Demokrasi Dewasa Kini’. Acara tersebut diselenggarakan oleh unit kegiatan jurusan Ilmu Hukum, Fakultas Syariah dan Hukum. Bertempat di Aula Perpustakaan UIN Bandung Lt. 1, Kamis (10/10/2019).

Acara tersebut dihadiri oleh Ketua Bawaslu Provinsi Jawa Barat, Abdullah Dahlan S.TP, Dekan Fakultas Syariah dan Hukum, Fauzan Ali Rasyid, beserta jajarannya. Dialektis diselenggarakan untuk meninjau ulang, me-refresh, serta mengevaluasi kembali sistem pemilu (Pemilihan Umum) serentak yang terakhir kali dilaksanakan pada April lalu.

Meskipun fenomena tersebut telah berlalu cukup lama. Namun, dalam pembahasan ini diharapkan bisa dijadikan pembelajaran bagi kita, dan bisa membenahi sistem demokrasi. Salah satunya dalam penyelenggaraan sistem pemilu yang akan datang pada 2024. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Abdullah Dahlan yang menyatakan, bahwa Indonesia lumayan nekat untuk mengambil sistem pemilu seperti yang terjadi terakhir kali. Disebut nekat karena berbagai dampak yang timbul karenanya.

“Kerawanan dalam pemilu tidak hanya terjadi sebelumnya, tetapi juga setelahnya,” jelasnya.

Pemilu tersebut terbilang tidak mudah karena 5 jenis pemilihan diajalnkan dalam 1 waktu, di jam yang sama, hari yang sama, dan serentak secara nasional. Serentak untuk parlemen kabupaten, parlemen Provinsi, parlemen Nasional, dan Presiden. Abdullah menyampaikan bahwa dari perspektif pemilih, banyak yang berpendapat bahwa mereka kesulitan ketika melaksanakan pemilu secara teknis. Berdasarkan catatan saja, sudah terjadi pelanggaran pemilu 2019 yang terhitung hingga 942 jumlah kasus, khusus di Jawa Barat.

“Dan dari perspektif kami para penyelenggara dan pengawas, juga menganggap hal ini tidak mudah. Mulai dari pencalonan hingga mengawasi seluruh tahapan,” ungkap Abdullah. Dari pencalonan untuk DPRD Jawa Barat saja ada kurang lebih 1500 calon legislatif di provinsi. Adapun memang semuanya menjadi tantangan tersendiri.

Sejalan dengan permasalahan tersebut, Fauzan Ali Rasyid menilai efektivitas penyelenggaraan pemilu 2019 dari berbagai sisi yang menurutnya efektif sementara.

“Satu sisi dari segi waktu mungkin efektif, dengan 1 hari saja sudah tidak akan memikirkan pemilu-pemilu lainnya. Terlepas dari cost politiknya yang besar. Dan itu efektif untuk sementara yang saya lihat,” paparnya.

Sebagai penutup, pada pendapat Abdullah yang menyatakan bahwa, “Berbagai opsi yang dibahas pada kegiatan ini, diharapkan dapat memantik perbaikan kualitas pemilu kita, agar bisa menuju sistem demokrasi lebih baik lagi,” pungkasnya.

Bagikan :

Rekomendasi

Menilik Indikator Penilaian Skor Ujian serta Masa Aktif Sertifikat Kursus TOEFA dan TOEFL JURNALPOSMEDIA.COM – Sejalan dengan kegiatan persiapan ujian Test of English for Academics (TOEFA) dan Test of English Foreign Language (TOEFL) yang di adakan oleh Language Center (LC) UIN Bandung, terdapat beberapa indikator penilaian skor ujian serta masa aktif sertifikat kursus bagi mahasiswa. Ketua LC UIN Bandung Abdul Kodir turut menjelaskan, berkenaan dengan skor nilai, setiap tahunnya akan ada beberapa perubahan kebijakan. Hal ini dipicu karena adanya cetakan baru buku Pedoman Akademik di setiap tahunnya. “Jadi kita hanya memberikan keterangan bahwa anda skornya sekian. Nanti umpan-umpannya skornya berlaku atau tidak atau misalkan kurang, maka ya, harus ujian lagi dan kalau mau ujian lagi anda gausah dari ulang harus kursus lagi,” ungkapnya kepada Jurnalposmedia, Rabu (27/7/2022). Skor dan Keuntungan yang Didapat Abdul Kodir kembali menjelaskan, mengenai minimal skor yang diraih oleh setiap mahasiswa itu berbeda-beda, hal ini bergantung pada kebijakan Fakultas dan Program Studi Prodi nya masing-masing. Sementara indikator dan standar penilaiannya dinilai dari listening, reading, dan vocabulary. “Untuk vocabulary nya kita itu ingin mahasiswa UIN itu paham dan mengenal vocab-vocab dengan istilah yang dekat dengan keislaman jadi nanti ada kaya English for islamic student jadi nanti ada vocab yang nanti dekat dengan kajian-kajian keislaman,” ungkapnya. Beralih dari tes tersebut, Abdul kembali menuturkan, para mahasiswa yang mengikuti tes dan kursus keterampilan berbahasa nantinya akan mendapatkan keuntungan berupa sertifikat kursus. “Masa aktif sertifikat tes TOEFL dan TOEFA ini hanya dua tahun, jika sudah lebih dari dua tahun maka harus tes lagi agar mendapatkan skor TOEFL yang terbaru dan sertifikatnya aktif. Sedangkan sertifikat kursus keterampilan berbahasa bisa aktif seumur hidup,” jelasnya. Tanggapan Mahasiswa Terkait Tes TOEFL dan TOEFA Kursus bahasa yang berujung dengan ujian TOAFL dan TOEFA, sebagai syarat kelulusan ini banyak mendapatkan apresiasi dari mahasiswa yang semangat untuk mengikuti kursus tersebut. Mahasiswi jurusan Ilmu Al-Qur’an Tafsir (IAT), Destiana Rosyidah sangat mengapresiasi kegiatan ini. Desti juga tidak sungkan mengeluarkan kritik dan sarannya untuk program ini. “Hanya saja sertifikat yang nantinya keluar setelah ujian itu hanya bisa di pakai di kampus saja, tidak bisa di pakai untuk kepentingan di luar kampus, semisal untuk melamar beasiswa atau pekerjaan yang membutuhkan sertifikat serupa,” ungkapnya. Ia juga berharap agar dosen pembimbing kursus mulai memperhatikan kegiatan belajar mengajar (KBM) mahasiswa nya agar mendapatkan hasil maksimal dalam ujiannya. Karena masih banyak dosen pembimbing yang kurang memperhatikan KBM kursusnya. “Tidak semua dosen pembimbing kursus peduli pada mahasiswa kursusnya. Yah

Tinggalkan komentar pertama