JURNALPOSMEDIA.COM- Di tengah meningkatnya angka lulusan perguruan tinggi setiap tahun, realitas yang dihadapi tidak selalu seindah harapan. Banyak sarjana justru berada di persimpangan jalan di antara sempitnya lapangan pekerjaan dan pertanyaan besar tentang relevansi pendidikan yang telah mereka tempuh. Gelar akademik yang seharusnya menjadi bekal utama memasuki dunia kerja, kini sering kali terasa tidak cukup.
Dilansir dari Detikedu, Berdasarkan laporan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) pada akhir tahun 2025, ada banyak lulusan sarjana yang masuk dalam kelompok putus asa cari kerja. Angkanya disebut mencapai 45 ribu lulusan S1 dan 6 ribu lulusan pascasarjana.
Menurut penelitian yang ditulis oleh Muhammad Hanri, PhD dan Nia Kurnia Sholihah, ME, tren kenaikan jumlah pencari kerja putus asa menunjukkan adanya gejala struktural di pasar kerja, bukan sekadar fluktuasi statistik. Kondisi ini menandakan sistem pendidikan, pelatihan, dan layanan ketenagakerjaan gagal memberikan jalur masuk yang kredibel ke pasar kerja.
Salah satu persoalan utama yang kerap disorot adalah minimnya ketersediaan lapangan kerja. Pertumbuhan jumlah lulusan tidak sebanding dengan kapasitas pasar kerja yang tersedia. Akibatnya, persaingan menjadi sangat ketat, bahkan untuk posisi yang tidak selalu membutuhkan kualifikasi tinggi. Tidak sedikit sarjana yang akhirnya bekerja di luar bidang studinya, atau bahkan menganggur dalam jangka waktu yang tidak singkat.
Namun, persoalan ini tidak bisa dilihat hanya dari sisi ketersediaan pekerjaan. Ada indikasi bahwa sistem pendidikan juga belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan dunia kerja. Banyak program studi yang masih berfokus pada teori, sementara dunia industri menuntut keterampilan praktis dan kemampuan adaptasi yang tinggi. Ketidaksesuaian ini membuat lulusan sering kali dianggap belum “siap pakai” oleh perusahaan.
Di sisi lain, pilihan jurusan yang tidak didasarkan pada perencanaan matang juga menjadi faktor yang memperumit keadaan. Tidak sedikit mahasiswa yang memilih jurusan karena tren, tekanan sosial, atau kurangnya informasi tentang prospek ke depan. Akibatnya, setelah lulus, mereka kebingungan menentukan arah karier dan sulit bersaing di bidang yang memang membutuhkan kompetensi spesifik.
Dikutip dari Liputan 6, Pengamat Ketenagakerjaan, Timboel Siregar, mengatakan fenomena ini mengindikasikan masih adanya ketimpangan antara output pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja. Lulusan perguruan tinggi dinilai belum sepenuhnya siap memasuki pasar kerja karena keterbatasan keterampilan praktis serta kurangnya sertifikasi yang relevan dengan industri.
Menurutnya, selain ijazah, lulusan juga diharapkan memiliki nilai tambah berupa kemampuan bahasa asing dan keterampilan teknis lain yang dibutuhkan industri, seperti kemampuan di bidang teknologi, kecerdasan buatan, dan penguasaan perangkat lunak.
Pendidikan tinggi saat ini sudah seharusnya bertransformasi agar mampu menjawab kebutuhan dunia usaha dan industri yang terus berkembang. Pembelajaran yang hanya berfokus pada aspek teori tidak lagi cukup, karena lulusan dituntut memiliki keterampilan praktis yang relevan. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu mengintegrasikan pengembangan skill serta sertifikasi profesional ke dalam proses pembelajaran agar mahasiswa lebih siap menghadapi dunia kerja.
















