JURNALPOSMEDIA.COM – Aroma masakan yang mengepul dari dapur, gelak tawa yang saling bersahutan, serta tangan-tangan yang saling bersalaman menjadi penanda datangnya tradisi menyambut bulan suci Ramadhan, munggahan. Setiap daerah melaksanakan tradisi ini dengan caranya tersendiri, seperti halnya Desa Sangiang dan Desa Cikahuripan. Tradisi ini hadir dengan warna masing-masing, namun tetap membawa tujuan yang sama, yakni menyatukan hati sebelum Ramadhan mengetuk pintu.
Di Desa Sangiang, munggahan terasa seperti ruang hangat untuk memperbaiki yang mungkin sempat renggang. Selaku warga Sangiang, Winny Pebrianti melihat tradisi ini sebagai momen mempererat kembali kebersamaan keluarga dan kerabat. Menariknya, di Sangiang, anak-anak muda juga ikut memeriahkan munggahan, bahkan mengadakannya bersama teman-teman.
“Maknanya munggahan mungkin bisa dibilang buat memperbaiki silaturahmi sama kebersamaan, kalau di sini paling rangkaian munggahan biasanya makan bersama, ngumpul sama saudara, saling minta maaf,” tuturnya saat diwawancara (18/2/2026).
Waktunya tidak selalu seragam, ada yang melaksanakan beberapa hari sebelum Ramadhan namun suasananya tetap dengan penuh keakraban.
Nuansa yang berbeda terlihat di Desa Cikahuripan. Muhammad Daffa Akram, selaku warga setempat, memaknai tradisi ini sebagai perekat keluarga di tengah jarak yang memisahkan, munggahan terasa lebih sebagai panggilan untuk pulang. Banyak anggota keluarga yang merantau atau sibuk bekerja, sehingga momen ini menjadi alasan untuk kembali duduk bersama. Biasanya, keluarga memasak bersama dan menikmati hidangan sederhana dalam lingkaran kebersamaan.
“Untuk setiap masyarakat pasti beda-beda ya makna budaya munggahan itu, tapi yang bisa diambil itu pasti membuat kehangatan di dalam keluarga karena semuanya berkumpul,” ujarnya.
Perbedaan lainnya tampak pada antusiasme generasi. Jika di Sangiang anak muda terlihat cukup aktif meramaikan munggahan, di Cikahuripan justru generasi yang lebih tua yang paling bersemangat menjaga tradisi ini. Meski begitu, semangat untuk melestarikan tetap ada di kedua desa, hanya bentuk dan dinamika sosialnya yang berbeda.
Pada akhirnya, munggahan di Sangiang maupun Cikahuripan bukan sekadar tradisi menjelang Ramadhan. Ia adalah cerita tentang rindu yang menemukan jalannya, tentang keluarga yang kembali lengkap walau hanya sesaat. Di meja makan yang sama, dua desa itu berbagi makna yang serupa yaitu kebersamaan adalah bekal paling hangat untuk menyambut bulan suci.
















