Mon, 3 August 2026

Angka Kelahiran di Indonesia Turun Drastis dalam 50 Tahun Terakhir

Reporter: Chaifa Aulia Shafa | Redaktur: Itsna Nursofiatun Ni'mah | Dibaca 18 kali

Sumber foto : GRETTY IMAGES

JURNALPOSMEDIA.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kelahiran setiap perempuan di Indonesia mengalami penurunan drastis dalam lima dekade terakhir. Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti keberhasilan program keluarga berencana (KB), perubahan gaya hidup masyarakat, tingginya tingkat pendidikan di kalangan perempuan, serta meningkatnya kualitas layanan kesehatan.

Dilansir dari Kompas.com, berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan Total Fertility Rate (TFR) Indonesia kini mencapai 2,13 anak per perempuan usia reproduksi 15 hingga 49 tahun. Hal ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan tahun 1970-an yang pada saat itu masih mencapai sekitar 5,6 anak per perempuan.

Wakil Kepala BPS Sonny Harry Budiutomo mengatakan program keluarga berencana tidak secara langsung memberikan hasil pada 1970-an karena pengaruh perubahan perilaku masyarakat di Indonesia. Namun, dampaknya mulai terasa pada 1990-an yang pada masa itu angka kelahiran mulai menurun. Bisa dilihat bahwa keberhasilan tersebut baru terlihat beberapa tahun setelah diterapkan.

Selain itu, kualitas pelayanan kesehatan yang meningkat di masyarakat juga berperan dalam membentuk kesadaran akan pentingnya perencanaan keluarga. Dulu, tingginya angka kematian bayi membuat keluarga memilih untuk memiliki banyak anak, sedangkan pada masa kini akses layanan kesehatan jauh lebih baik sehingga membuat masyarakat merasa memiliki dua anak sudah cukup karena tingkat kelangsungan hidup yang semakin tinggi.

Di samping itu, salah satu penyebab lainnya adalah adanya fenomena Childfree. Pernahkah kalian mendengar istilah Childfree? yaitu keputusan pasangan untuk tidak memiliki anak. Hal ini disebabkan oleh kondisi ekonomi, kesiapan mental, dan keinginan untuk memilih fokus karier.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan dari tahun 2010 hingga 2023 persentase perempuan yang bekerja sebagai tenaga profesional terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2023, proporsi tenaga profesional perempuan mencapai 49,53% yang berarti hampir sebagian dari tenaga profesional di Indonesia adalah perempuan.

Data tersebut menunjukkan bahwa mayoritas perempuan di Indonesia memutuskan untuk lebih memilih fokus karier. Hal ini disebabkan oleh perubahan pola pikir mereka seiring berkembangnya zaman karena melihat situasi dan kondisi yang terjadi di Indonesia. Banyak dari mereka khawatir tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sang anak, yang tentunya turut berkontribusi terhadap penurunan angka kelahiran di Indonesia.

Walaupun demikian, populasi penduduk di Indonesia masih mengalami pertumbuhan yang berarti banyaknya penduduk yang memasuki usia reproduksi secara bersamaan. Banyak penduduk usia muda yang berpotensi menghasilkan kelahiran baru. Jadi, angka kelahiran di Indonesia tetap memberikan kontribusi terhadap populasi penduduk di Indonesia.

Namun, penerapan kebijakan dari pemerintah untuk menjaga kestabilan angka kelahiran dan populasi penduduk di Indonesia juga tetap diperlukan. Pemerintah dapat menyediakan layanan penitipan anak yang lebih banyak dengan harga terjangkau dan mudah diakses sehingga orang tua dapat bekerja dengan aman dan nyaman. Bantuan biaya persalinan, potongan pajak, dan pendidikan anak akan meringankan beban biaya hidup mereka.

Selain itu, cuti hamil yang dibayar penuh dan durasi yang diberikan lebih panjang serta jaminan perlindungan kerja juga sangat diperlukan agar sang ibu memiliki waktu istirahat yang cukup. Hal ini dapat memperlambat penurunan angka kelahiran di Indonesia karena mereka akan merasa tercukupi dari segi finansial, waktu, dan psikologis. Namun, satu hal yang penting adalah memastikan penduduk Indonesia tetap sehat dan bisa bekerja lebih lama sehingga dapat mewujudkan negara yang sehat dan sejahtera.

 

 

 

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama