JURNALPOSMEDIA.COM – Fenomena self-love menjadi tren di media sosial, terutama di kalangan Gen-Z. Tagar self love di Instagram mencapai 130 juta postingan pada 2025. Banyak orang memaknainya sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental diri sendiri. Namun, apakah self love benar-benar sehat, atau justru wajah baru individualisme?
Menurut BINUS Psychology (2022), self-love adalah kemampuan untuk mencintai diri secara produktif, yaitu mencintai diri sendiri dan orang lain secara seimbang. Dalam penelitian Teori hirarki kebutuhan Maslow juga menempatkan self-love pada tingkat penghargaan dan aktualisasi diri. Namun, persoalan muncul ketika self-love bergeser menjadi narsisme, egosentrisme hingga individualisme yang berlebihan.
Penelitian ilmiah menyebutkan hyper-individualism dapat dikaitkan dengan isolasi sosial, kecemasan, dan depresi. Sejalan dengan itu, penelitian lintas negara yang dirujuk Universitas Airlangga menunjukkan bahwa individualisme dalam berbagai bentuk dapat memprediksi tingkat kesepian.
Di tengah budaya digital, batas antara merawat diri dan mengutamakan diri sendiri sangat tipis. Banyak orang kini menganggap tindakan memutus pertemanan (cut off) atau memutus relasi secara sepihak sebagai solusi cepat untuk menjaga ketenangan batin. Mereka merasa tidak perlu berkompromi dan mudah menghindari situasi yang tidak nyaman. Padahal, menjauh dari konflik tidak selalu berarti matang secara emosional.
Sikap hyper-individualism ini dapat memicu persoalan baru. Orang lebih mudah untuk terisolasi dan kehilangan empati terhadap lingkungan sekitar.
Secara tidak sadar, upaya membatasi diri yang berlebihan justru menutup pintu untuk membangun relasi yang sehat dan bermakna. Ironisnya, generasi yang paling lantang menggaungkan self-love justru bisa terjebak dalam kesepian yang diam-diam menggerus kesehatan mental.
Karena itu, makna self-love perlu dikembalikan ke jalurnya. Mencintai diri sendiri seharusnya berjalan seiring dengan empati, komunikasi yang sehat, dan kemampuan menjaga hubungan sosial. Merawat diri bukan berarti menyingkirkan orang lain dari hidup kita. Kedamaian yang utuh justru lahir dari keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan kepedulian pada sesama.
















