Sat, 1 August 2026

Tantangan Literasi Digital: Penyebaran Hoaks Lebih Cepat daripada Fakta

Reporter: Ririn Yuliani | Redaktur: Sahara Putri Amiliana | Dibaca 28 kali

Sumber foto: Pinterest

JURNALPOSMEDIA.COM – Dahulu masyarakat harus menunggu siaran di televisi, radio, dan surat kabar untuk mendapatkan informasi berita, tetapi dengan seiring kemajuan teknologi merubah cara pandang tersebut. Di era digital sekarang, informasi dapat diakses melalui media sosial. Kemudahan tersebut memang memberikan manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan yang tidak bisa diabaikan.

Tantangan terbesar literasi digital di Indonesia saat ini bukan tentang sulitnya memperoleh informasi, melainkan bagaimana memastikan informasi yang diterima benar dan dapat dipercaya. Di tengah arus informasi, hoaks  sering kali menyebar lebih cepat daripada fakta yang telah melalui proses verifikasi.

Penyebaran hoaks mudah dipercaya karena menggunakan judul yang sensasional dan provokasi. Banyak pengguna media sosial langsung membagikan informasi tersebut tanpa memeriksa sumber maupun kebenarannya. Proses verifikasi fakta membutuhkan waktu sehingga informasi yang benar sering terlambat. Kondisi tersebut membuat hoaks seolah-olah menjadi “kebenaran” karena lebih dulu viral.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sepanjang 2026 masih menemukan berbagai konten hoaks yang beredar di masyarakat, mulai dari isu kebijakan pemerintah, bantuan sosial, hingga informasi yang berkaitan dengan layanan publik. Selain itu, penyebaran hoaks juga semakin berkembang dengan memanfaatkan teknologi.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria meminta platform digital global menghadirkan fitur pengecekan dalam mengenali konten yang dibuat oleh kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) untuk membantu masyarakat menangkal hoaks dan deepfake.

Permasalahan utamanya bukan hanya banyak informasi palsu. Tetapi masyarakat yang tidak menyaring terlebih dahulu informasi tersebut. Literasi digital tidak hanya dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi seperti mengecek kebenaran informasi sebelum membagikan kepada orang lain dapat membantu penyebaran hoaks.

Karena itu, upaya untuk melawan hoaks tidak hanya mengandalkan kepada pemerintah atau media sosial. Melainkan masyarakat, lembaga pendidikan, media massa, hingga lingkungan juga memiliki peran dalam membangun budaya digital yang sehat. Edukasi mengenai literasi digital perlu terus ditingkatkan agar masyarakat semakin terbiasa memverifikasi informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.

Di era digital, kecepatan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis. Masyarakat dapat memilih untuk menjadi pengguna media sosial yang lebih bijak. Oleh karena itu, literasi digital menjadi kemampuan penting agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menyaring informasi yang bermanfaat bagi orang lain.

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama