Sun, 28 June 2026

Menghidupkan Kembali Semangat Sumpah Pemuda di Era Digital

Reporter: Annisa Fatimah Azzahra | Redaktur: KHOIRUNNISA FEBRIANI SOFWAN | Dibaca 1692 kali

(Sumber foto: Freepik)

JURNALPOSMEDIA.COM – Tanggal 28 Oktober selalu menjadi pengingat akan lahirnya semangat persatuan yang dipelopori para pemuda Indonesia pada tahun 1928. Sumpah Pemuda bukan hanya sekadar teks bersejarah, tetapi sebuah ikrar yang menyatukan keberagaman menjadi kekuatan bangsa. Dalam sumpah tersebut para pemuda mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa yakni Indonesia. Mengutip tulisan Umi Zuhriyah di Tirto.id berjudul “Manfaat Sumpah Pemuda bagi Kehidupan Bangsa dan Negara Saat Ini”, semangat Sumpah Pemuda mencerminkan kesadaran kolektif bahwa persatuan adalah pondasi utama untuk mewujudkan kemerdekaan dan kemajuan bangsa.

Kini hampir satu abad, tantangan generasi muda telah berubah. Jika dahulu perjuangan diwujudkan dengan mengangkat senjata dan menyatukan ide, maka kini perjuangan dilakukan melalui penguatan identitas nasional di tengah arus globalisasi dan digitalisasi. Dunia maya menjadi ruang baru bagi pemuda untuk bersuara, berkreasi, sekaligus memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan. Namun, kemudahan akses informasi juga membawa ancaman baru seperti perpecahan akibat ujaran kebencian, polarisasi politik, serta banjir informasi palsu yang dapat menggerus nilai persatuan.

Di sinilah makna Sumpah Pemuda perlu dihidupkan kembali. Salah satu bentuk implementasi yang paling nyata adalah menjaga etika dan persatuan di ruang digital. Generasi muda dituntut untuk bijak dalam menggunakan media sosial dengan menyebarkan konten yang mendorong toleransi, saling menghormati, serta menghindari provokasi. Setiap unggahan dan komentar di dunia maya mencerminkan karakter bangsa. Semangat “satu bangsa” di era digital dapat diterjemahkan sebagai upaya bersama untuk menciptakan ruang daring yang aman, inklusif, dan beradab.

Selain itu, penggunaan Bahasa Indonesia sebagai identitas nasional juga menjadi bagian penting dari implementasi Sumpah Pemuda masa kini. Menurut Tirto.id, bahasa Indonesia menjadi simbol kuat yang mempersatukan bangsa sejak 1928. Namun di era media sosial, penggunaan bahasa sering kali tergerus oleh tren dan pengaruh asing.

Menggunakan bahasa Indonesia dengan bangga baik dalam komunikasi, karya tulis, maupun konten digital merupakan bentuk sederhana tetapi bermakna dari cinta tanah air. Hal ini bukan berarti menolak bahasa asing, melainkan menunjukkan keseimbangan antara keterbukaan global dan penghargaan terhadap jati diri bangsa.

Implementasi Sumpah Pemuda juga dapat diwujudkan melalui dukungan terhadap karya dan inovasi anak bangsa. Generasi muda dapat menjadi motor penggerak ekonomi kreatif dengan mempromosikan produk lokal, menggunakan aplikasi buatan Indonesia, atau berkolaborasi dalam gerakan digital yang membangun. Tindakan-tindakan kecil seperti ini sejalan dengan semangat gotong royong dan kemandirian yang dahulu diperjuangkan para pemuda perintis bangsa.

Tak hanya itu, makna Sumpah Pemuda juga dapat diterapkan melalui aksi sosial dan kepedulian lingkungan. Di tengah krisis iklim dan ketimpangan sosial, pemuda Indonesia bisa berkontribusi lewat gerakan digital seperti kampanye lingkungan, penggalangan dana daring, atau edukasi publik. Teknologi memberi ruang bagi siapa pun untuk berbuat baik tanpa batas wilayah. Inilah bentuk baru dari semangat “satu tanah air” dimana menjaga bumi Indonesia tetap lestari dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.

Lebih jauh lagi, melestarikan budaya dan kearifan lokal di era digital menjadi cara lain untuk meneruskan semangat Sumpah Pemuda. Pemuda masa kini bisa memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan tradisi, bahasa daerah, dan kesenian lokal agar tetap dikenal dan dicintai. Upaya ini bukan sekadar nostalgia terhadap masa lalu, tetapi bentuk perlawanan terhadap homogenisasi budaya global. Melalui dunia digital, nilai-nilai lokal bisa diangkat menjadi bagian dari identitas nasional yang modern dan berdaya saing.

Pada akhirnya, mengimplementasikan Sumpah Pemuda di era digital bukan tentang mengenang masa lalu, tetapi tentang melanjutkan api semangatnya dalam bentuk yang relevan dengan zaman. Pemuda Indonesia kini memiliki kekuatan besar seperti kreativitas, teknologi, dan akses informasi.

Tantangannya bukan lagi tentang bagaimana memperjuangkan kemerdekaan, melainkan bagaimana menjaga persatuan dan memperkuat karakter bangsa di tengah dunia yang semakin terhubung. Dengan semangat kolaborasi, kepedulian sosial, dan kebanggaan terhadap identitas nasional, generasi muda dapat membuktikan bahwa api Sumpah Pemuda tidak pernah padam, ia hanya berubah bentuk, dari kongres di Batavia menjadi gerakan digital di seluruh penjuru nusantara.

Bagikan :

Rekomendasi

Menilik Indikator Penilaian Skor Ujian serta Masa Aktif Sertifikat Kursus TOEFA dan TOEFL JURNALPOSMEDIA.COM – Sejalan dengan kegiatan persiapan ujian Test of English for Academics (TOEFA) dan Test of English Foreign Language (TOEFL) yang di adakan oleh Language Center (LC) UIN Bandung, terdapat beberapa indikator penilaian skor ujian serta masa aktif sertifikat kursus bagi mahasiswa. Ketua LC UIN Bandung Abdul Kodir turut menjelaskan, berkenaan dengan skor nilai, setiap tahunnya akan ada beberapa perubahan kebijakan. Hal ini dipicu karena adanya cetakan baru buku Pedoman Akademik di setiap tahunnya. “Jadi kita hanya memberikan keterangan bahwa anda skornya sekian. Nanti umpan-umpannya skornya berlaku atau tidak atau misalkan kurang, maka ya, harus ujian lagi dan kalau mau ujian lagi anda gausah dari ulang harus kursus lagi,” ungkapnya kepada Jurnalposmedia, Rabu (27/7/2022). Skor dan Keuntungan yang Didapat Abdul Kodir kembali menjelaskan, mengenai minimal skor yang diraih oleh setiap mahasiswa itu berbeda-beda, hal ini bergantung pada kebijakan Fakultas dan Program Studi Prodi nya masing-masing. Sementara indikator dan standar penilaiannya dinilai dari listening, reading, dan vocabulary. “Untuk vocabulary nya kita itu ingin mahasiswa UIN itu paham dan mengenal vocab-vocab dengan istilah yang dekat dengan keislaman jadi nanti ada kaya English for islamic student jadi nanti ada vocab yang nanti dekat dengan kajian-kajian keislaman,” ungkapnya. Beralih dari tes tersebut, Abdul kembali menuturkan, para mahasiswa yang mengikuti tes dan kursus keterampilan berbahasa nantinya akan mendapatkan keuntungan berupa sertifikat kursus. “Masa aktif sertifikat tes TOEFL dan TOEFA ini hanya dua tahun, jika sudah lebih dari dua tahun maka harus tes lagi agar mendapatkan skor TOEFL yang terbaru dan sertifikatnya aktif. Sedangkan sertifikat kursus keterampilan berbahasa bisa aktif seumur hidup,” jelasnya. Tanggapan Mahasiswa Terkait Tes TOEFL dan TOEFA Kursus bahasa yang berujung dengan ujian TOAFL dan TOEFA, sebagai syarat kelulusan ini banyak mendapatkan apresiasi dari mahasiswa yang semangat untuk mengikuti kursus tersebut. Mahasiswi jurusan Ilmu Al-Qur’an Tafsir (IAT), Destiana Rosyidah sangat mengapresiasi kegiatan ini. Desti juga tidak sungkan mengeluarkan kritik dan sarannya untuk program ini. “Hanya saja sertifikat yang nantinya keluar setelah ujian itu hanya bisa di pakai di kampus saja, tidak bisa di pakai untuk kepentingan di luar kampus, semisal untuk melamar beasiswa atau pekerjaan yang membutuhkan sertifikat serupa,” ungkapnya. Ia juga berharap agar dosen pembimbing kursus mulai memperhatikan kegiatan belajar mengajar (KBM) mahasiswa nya agar mendapatkan hasil maksimal dalam ujiannya. Karena masih banyak dosen pembimbing yang kurang memperhatikan KBM kursusnya. “Tidak semua dosen pembimbing kursus peduli pada mahasiswa kursusnya. Yah

Tinggalkan komentar pertama