Sun, 17 May 2026

Menabrak Batas, Menebar Dampak: Kisah Zakaria dari Lorong Sosial hingga Menjadi PIC Jawa Barat

Reporter: Tari Nurfanisa | Redaktur: Ravi Ahmad Maulana | Dibaca 29 kali

Sumber foto: Muhamad Zakaria

JURNALPOSMEDIA.COM  — Bagi sebagian besar mahasiswa, semester empat adalah masa-masa krusial di mana pola pikir masa depan mulai diuji. Namun, berbeda bagi Muhammad Zakaria, mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Semester empat adalah panggung untuk memainkan banyak peran: sebagai mahasiswa, penggerak sosial, brand ambassador, hingga seorang pemimpin muda. 

Berbekal prinsip kesederhanaan dan keberanian untuk “menabrak” setiap peluang, Zakaria berhasil membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas bukanlah batu sandungan untuk berdampak besar. 

Perjalanan Zakaria di dunia nonakademik tidak dimulai dari ruang seminar yang megah, melainkan dari sebuah keresahan sederhana tentang hakikat manusia. 

“Kita hidup itu tidak melulu perihal diri kita sendiri. Masih banyak orang lain yang butuh untuk dibantu,” ujar Muhamad Zakaria saat di wawancarai Jurnalposmedia pada Sabtu (16/5/2026)

Bersama dua orang temannya yang terpisah jarak ratusan kilometer, Zakaria menginisiasi sebuah komunitas kecil bernama Yubisayu Berbagi. Dari Bandung, Zakaria menggerakkan aksi-aksi kemanusiaan, mulai dari menyalurkan donasi belasan juta rupiah kepada masyarakat jalanan, pemulung, hingga menyentuh hati. Bagi Zakaria, komunitas ini bukan sekadar portofolio, melainkan wadah pemantik rasa syukur dan ruang untuk melihat dunia dari perspektif yang berbeda. 

Siapa sangka, ketulusannya membangun ekosistem sosial ini justru menjadi “efek domino” yang membuka gerbang-gerbang kesuksesan lain dalam hidupnya. 

Melihat deretan prestasi Zakaria saat ini, orang mungkin mengira jalannya selalu mulus. Nyatanya, Zakaria adalah “alumni” dari berbagai penolakan beasiswa. Mulai dari JFLS, SmartPay, hingga KIP pernah kompak menolaknya. 

Namun, rasa penasaran dan mentalitas pantang menyerah membawanya nekat mendaftar Beasiswa Bank Indonesia (BI). Prosesnya tidak main-main, hingga wawancara mendalam yang menguras energi di tengah kesibukannya menjadi Master of Ceremony (MC). 

“Tabrak aja, setuju,” kenangnya menirukan prinsip hidupnya. Keberanian itu berbuah manis, ia resmi dinyatakan lolos sebagai Awardee Bank Indonesia dan bergabung dengan komunitas bergengsi, GenBI UIN Bandung. Di ruang wawancara beasiswa itulah, eksistensi Yubisayu Berbagi yang ia bangun menjadi pembeda utama di mata para rekruter. 

Kejutan dalam hidup Zakaria tidak berhenti di situ. Mengandalkan relasi dan ekosistem produktif di GenBI, ia kembali menantang diri mendaftar program Brilliant Student Ambassador (BSA) yang diinisiasi oleh Bank BRI. 

Awalnya, Zakaria sempat dihinggapi rasa rendah diri yang hebat. Di tengah kepungan ratusan content creator tingkat nasional yang memiliki puluhan ribu pengikut dan gawai-gawai keluaran terbaru, Zakaria berdiri hanya dengan sebuah ponsel pintar jadul dan pengikut yang tak seberapa. 

“Bagaimana mau sukses kalau kita kebanyakan ‘ah, tapi kan…’. Makanya aku mikir, terobos aja,” cetusnya. 

Konsistensi dan keaktifannya dalam program tersebut ternyata memikat mata manajemen pusat. Bukannya terpinggirkan, mahasiswa Jurnalistik UIN Bandung ini justru mendapatkan nuts dan kepercayaan besar, ia ditunjuk menjadi PIC (Person in Charge) BSA untuk wilayah Jawa Barat. Tugas berat memonitor administrasi dan keaktifan konten mahasiswa dari berbagai kampus di Jawa Barat kini berada di pundaknya.

Menjalankan peran sebagai CEO komunitas, PIC regional, MC, sekaligus mempertahankan performa akademik sebagai mahasiswa semester empat tentu memicu satu pertanyaan besar: bagaimana ia mengatur waktunya? 

Bagi Zakaria, jawabannya adalah ketegasan dalam membuat skala prioritas. Ia sadar kapan harus membatasi diri agar tidak mengalami burnout (kelelahan mental). Ketika jadwal luar kampusnya padat, ia dengan sengaja memilah proker internal kampus yang akan ia ambil. Menariknya, ia mengaku justru lebih sering merasa lelah oleh dinamika tugas kuliah dibandingkan jadwal organisasinya yang terstruktur. 

“Bagaimana aku bisa mengimbangi kuliah akademik dan organisasi? Dengan manajemen waktu yang baik dan mencari tahu detail acara yang akan aku ikuti,” ujarnya

Kisah Muhammad Zakaria adalah refleksi nyata bagi generasi muda hari ini. Bahwa untuk mulai berdampak, kita tidak perlu menunggu fasilitas menjadi sempurna. Cukup miliki empati, manajemen waktu yang rapi, dan keberanian untuk melangkah menerobos batas.

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama