JURNALPOSMEDIA.COM – Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap makanan sehat, edamame menjadi salah satu camilan yang semakin diminati berbagai kalangan. Tingginya kandungan protein, serat, serta manfaat kesehatan yang dimiliki edamame membuat permintaan pasar terus meningkat. Peluang tersebut dimanfaatkan oleh Bu Dewi, penjual edamame asal Kadipaten, Cirebon, yang mengembangkan budidaya edamame secara mandiri di kebun miliknya untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Bu Dewi menjelaskan bahwa kebun tersebut dikelola bersama anggota keluarga dan beberapa pegawai. Mereka terlibat langsung dalam seluruh proses budidaya, mulai dari pengolahan lahan, penanaman bibit, perawatan tanaman, hingga proses panen dan distribusi hasil kebun.
“Saya sendiri yang mengelola kebun itu bersama keluarga dan beberapa pegawai,” ujarnya.
Menurut Bu Dewi, proses budidaya edamame membutuhkan perhatian khusus karena tanaman ini cukup sensitif terhadap kondisi lingkungan. Sebelum penanaman dilakukan, lahan terlebih dahulu dibersihkan dan diolah agar tanah menjadi gembur. Ia juga menggunakan pupuk organik untuk menjaga kesuburan tanah sekaligus mempertahankan kualitas hasil panen.
Selain itu, pemilihan bibit juga menjadi faktor penting dalam menghasilkan edamame berkualitas. Bu Dewi mengaku hanya menggunakan bibit pilihan agar tanaman dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan polong yang segar serta berukuran maksimal. Setelah bibit ditanam, tanaman memerlukan penyiraman rutin dan pengawasan terhadap hama yang dapat mengganggu pertumbuhan.
“Kalau perawatannya kurang teliti, hasil panennya bisa menurun. Jadi setiap hari harus dicek kondisi tanamannya,” jelasnya.
Edamame yang dijual Bu Dewi ditanam secara organik tanpa penggunaan bahan kimia berlebihan. Ia mengatakan metode tersebut dipilih agar produk yang dihasilkan tetap sehat dan aman dikonsumsi. Selain itu, cara budidaya organik juga membantu menjaga kualitas tanah untuk jangka panjang.
Dalam proses panen, Bu Dewi dan para pekerja harus menentukan waktu yang tepat agar kualitas edamame tetap terjaga. Edamame biasanya dipanen saat polong masih berwarna hijau segar dan bijinya telah terisi penuh. Jika dipanen terlalu cepat atau terlalu lambat, rasa dan tekstur edamame dapat berubah.
“Kami memetiknya pada waktu yang tepat untuk memastikan rasa dan kesegarannya,” jelasnya saat diwawancarai Jurnalposmedia pada Selasa (12/5/2026).
Setelah dipanen, edamame langsung di sortir untuk memisahkan hasil yang berkualitas baik dengan yang kurang layak jual. Proses penyortiran dilakukan secara manual agar pelanggan mendapatkan produk terbaik. Edamame kemudian dibersihkan dan dikemas sebelum dipasarkan kepada pelanggan di sekitar Cirebon maupun luar daerah.
Kebun milik Bu Dewi berada di kawasan dengan kondisi alam yang mendukung pertumbuhan tanaman edamame. Menurutnya, tanah di wilayah tersebut cukup subur dengan intensitas sinar matahari dan curah hujan yang stabil sehingga membantu tanaman tumbuh optimal.
“Tanah di sini cukup subur dan iklimnya mendukung pertumbuhan edamame,” katanya.
Melalui usaha budidaya tersebut, Bu Dewi berharap edamame lokal dapat semakin dikenal masyarakat sebagai camilan sehat yang bernilai gizi tinggi. Ia juga ingin mengembangkan kebunnya agar hasil produksi semakin meningkat dan mampu membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.
Salah satu pelanggan, Fardhan, mengaku tertarik membeli edamame karena kualitas produk yang dijual. Ia juga mengetahui proses penanaman produk tersebut secara langsung.
“Saya tahu dari mana asal produk tersebut dan bagaimana cara penanamannya,” ujar Fardhan.
Fardhan mengatakan dirinya rutin memesan edamame setiap minggu. Pemesanan biasanya dilakukan melalui WhatsApp sebelum stok dagangannya habis.
“Saya harus memesan dari jauh hari sebelum stok habis,” tuturnya.
Menurut Fardhan, kualitas produk yang dijual tetap terjaga meski harga mengalami kenaikan. Harga edamame yang sebelumnya Rp35.000 kini menjadi Rp40.000.
Ia berharap kualitas produk tersebut dapat terus dipertahankan. Selain itu, ia menilai usaha Bu Dewi memiliki potensi untuk terus berkembang di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap makanan sehat.
















