JURNALPOSMEDIA.COM – Di tengah kesibukannya mengajar matematika setiap hari, Lisma tetap menyisihkan ruang untuk hal lain yang telah lama ia cintai, yakni melukis. Perempuan yang akrab disapa Ibu Lisma itu dikenal sebagai guru matematika SMPN 3 Cicurug sekaligus seniman yang aktif membagikan karya-karyanya melalui media sosial. Dari hobi sederhana sejak kecil, karya-karyanya kini telah diapresiasi hingga mancanegara.
Bagi Lisma, melukis bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang. Seni menjadi ruang yang membuatnya merasa tenang di tengah rutinitas mengajar yang padat. Ketertarikannya pada dunia seni tumbuh secara alami sejak kecil dan terus bertahan hingga sekarang.
“Melukis sudah menjadi bagian dari hidup saya sejak kecil. Awalnya sangat sederhana, hanya hobi yang membuat saya merasa tenang dan bahagia,” ujar Lisma saat diwawancarai Jurnalposmedia.
Di tengah aktivitas sebagai guru, Lisma tetap berusaha menjaga konsistensinya dalam berkarya. Ia biasanya melukis saat akhir pekan atau ketika memiliki waktu luang pada malam hari. Karya-karya tersebut kemudian ia bagikan melalui Instagram dan TikTok sebagai bentuk dokumentasi sekaligus ruang berbagi hal yang ia sukai.
Konsistensi kecil yang ia lakukan sejak masa Covid-19 perlahan membawa karya-karyanya dikenal lebih luas. Apresiasi dari banyak orang, termasuk dari luar negeri, menjadi pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Awalnya saya hanya membagikan hasil lukisan sebagai bentuk dokumentasi dan ruang berbagi hal yang disukai. Tetapi ternyata, konsistensi kecil yang dilakukan terus-menerus bisa membawa karya saya dikenal lebih banyak orang,” katanya.
Meski begitu, perjalanan Lisma sebagai seorang guru sekaligus seniman tidak selalu berjalan mudah. Tantangan terbesar yang ia rasakan adalah menjaga semangat berkarya di tengah perubahan tren media sosial yang cepat dan rutinitas mengajar yang melelahkan. Ia juga pernah berada di titik merasa kurang percaya diri terhadap karya yang dibuatnya.
“Tentu pernah merasa lelah, karena menjalani dua dunia sekaligus membutuhkan energi, pikiran, dan konsistensi yang tidak sedikit,” ungkapnya.
Namun, Lisma memilih tetap bertahan karena merasa melukis sudah menjadi bagian dari dirinya. Dukungan dari keluarga, murid, dan orang-orang yang menikmati karyanya menjadi alasan lain yang membuatnya terus melanjutkan proses tersebut.
Sebagian besar karya Lisma menggambarkan alam, bunga, dan lanskap kecil. Inspirasi itu banyak datang dari perjalanan-perjalanan sederhana yang ia lakukan. Menurutnya, alam selalu menghadirkan ketenangan dan membuatnya lebih peka terhadap hal-hal kecil dalam kehidupan.
Sebagai guru yang harus membagi waktu antara mengajar dan berkarya, Lisma lebih sering membuat lukisan berukuran kecil. Selain lebih fleksibel, proses pengerjaannya juga bisa menyesuaikan waktu yang ia miliki.
“Saya ingin karya-karya saya bisa menghadirkan perasaan hangat dan tenang bagi orang yang melihatnya,” tuturnya.
Di balik dunia matematika yang identik dengan angka dan logika, seni justru menjadi penyeimbang dalam hidup Lisma. Ia merasa mengajar dan berkarya saling melengkapi satu sama lain. Mengajar membuatnya dekat dengan proses belajar kehidupan, sedangkan seni menjadi ruang untuk menenangkan diri.
“Dari seni saya belajar lebih peka, sabar dalam proses, dan berani mengekspresikan diri,” ucapnya.
Bagi Lisma, sukses bukan hanya soal dikenal banyak orang. Ia merasa berhasil ketika dapat memberi dampak baik bagi murid-muridnya dan tetap menjalani hidup dengan seimbang antara mengajar dan berkarya.
“Bisa tetap mengajar, tetap berkarya, terus belajar, dan menikmati prosesnya dengan rasa syukur, bagi saya itu sudah menjadi bentuk keberhasilan yang sangat berarti,” jelasnya.
Di akhir wawancara, Lisma turut menyampaikan pesan kepada anak muda, khususnya perempuan, agar tidak takut memulai untuk berkarya. Menurutnya, proses berkembang dimulai dari keberanian kecil untuk mencoba.
“Kita tidak harus selalu berjalan cepat atau langsung besar, yang penting adalah tetap konsisten dan percaya pada proses yang sedang dijalani,” pesannya.
Perjalanan Lisma memperlihatkan bahwa dunia logika dan seni dapat berjalan berdampingan. Di balik papan tulis yang penuh angka, ada sosok perempuan yang terus menjaga ruang untuk berkarya dengan ketulusan dan konsistensi.
















