JURNALPOSMEDIA.COM – Berbagai prestasi diraih oleh Nurul Husna, seorang mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Bandung. Merantau dari Aceh ke Bandung membuat Nurul Husna harus beradaptasi dengan lingkungan baru sambil terus mengembangkan bakat dan prestasinya. Di balik kemampuan public speaking-nya, tersimpan kisah perjuangan tentang mimpi, kerja keras, dan keberanian menghadapi tantangan hidup.
Sejak di bangku sekolah, Nurul dikenal aktif mengikuti berbagai perlombaan. Prestasi yang diraihnya pun tidak sedikit, mulai dari juara satu tartil tingkat kabupaten, juara satu tahfidz tingkat kecamatan, juara satu pidato tingkat kabupaten, juara satu puisi tingkat kabupaten, juara dua Olimpiade PAI tingkat nasional, hingga juara dua OSN pencak silat tingkat kabupaten, dan masih banyak lagi. Bagi Nurul, prestasi bukan hanya tentang penghargaan untuk diri sendiri, tetapi juga tentang manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain.
“Prestasi dan sukses itu ketika aku bisa bermanfaat buat orang lain. Jadi bukan cuma buat diri sendiri, tapi orang lain juga bisa terinspirasi,” ujarnya saat diwawancarai Jurnalposmedia, Selasa (19/5/2026)
Bandung menjadi tempat baru bagi Nurul untuk mengembangkan mimpinya. Namun, perjalanan masuk kuliah pun tidaklah mudah. Dulu, banyak orang yang meragukannya untuk bisa lolos kuliah. Namun, hal itu justru menjadi motivasi untuk terus berusaha membuktikan kemampuannya.
“Dulu banyak yang bilang aku nggak akan lulus kuliah. Jadi aku belajar mati-matian supaya bisa masuk lewat jalur rapor. Aku bahkan sering bangun jam tiga pagi buat belajar,” tuturnya.
Usahanya akhirnya membuahkan hasil ketika ia berhasil masuk UIN Bandung.
Kemampuan berbicara di depan umum mulai ia sadari sejak duduk di kelas enam Sekolah Dasar (SD). Dari berbagai perlombaan yang diikutinya, lomba pidato menjadi titik yang membuatnya merasa menemukan dunia yang paling ia sukai.
Kemampuan tersebut membuat Nurul dipercaya menjadi Master of Ceremony (MC) atau pembawa acara kegiatan. Ia juga merasa kemampuan public speaking yang dimilikinya adalah dari latihan dan pengalaman yang terus diasah.
Di tengah padatnya aktivitas kuliah, organisasi, lomba, hingga berjualan, Nurul tetap berusaha mengatur waktunya dengan baik. Ia terbiasa langsung mengerjakan tugas agar waktu luangnya bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lain.
Meski terlihat aktif dan penuh semangat, Nurul mengaku pernah merasa ada di titik terberat dalam hidupnya. Di tengah kesibukan kuliah, organisasi, perlombaan, hingga berjualan, ia pernah merasa hidupnya jauh lebih berat dibanding dengan teman-teman seusianya.
Nurul sempat merasa sudah bekerja keras, tetapi harus berjuang lebih keras lagi hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan melanjutkan pendidikan.
“Kadang aku ngerasa udah kerja keras banget, tapi orang lain kayak lebih mudah buat dapetin semuanya. Sedangkan aku harus kerja dulu, harus banting tulang dulu baru bisa makan dan kuliah,” ungkapnya.
Namun, rasa lelah tidak membuatnya menyerah begitu saja. Nurul selalu mengingat kembali alasan dirinya merantau ke Bandung dan keberanian yang sudah melekat pada dirinya sejak awal.
“Aku ke Bandung, berarti aku berani ambil resiko. Jadi aku harus siap sama semua proses yang aku hadapi sekarang,” lanjutnya.
Ia juga memegang prinsip hidup sederhana yang terus menjadi penguat dalam setiap langkahnya. Menurutnya, gagal itu bukan suatu masalah. Bahkan seorang ilmuwan pun pernah mengalami ribuan kegagalan, belajar dari kegagalan itu adalah hal yang bijak.
Nurul memiliki mimpi besar untuk menjadi ustazah. Selain itu, ia juga ingin menerbitkan buku yang sempat tertunda. Bagi Nurul Husna, setiap proses, kegagalan, dan perjuangan yang dilalui menjadi bagian dari perjalanan untuk meraih mimpi dan memberi manfaat bagi banyak orang.
















