JURNALPOSMEDIA.COM – Siapa sangka keterbatasan bukan penghalang bagi Fathia Aulia Khuzaemah, siswi asal PPI 19 Bentar Garut yang kini lolos ke tiga universitas di Turki. Di balik pencapaiannya, Fathia menyimpan kisah perjuangan sejak kecil yang penuh tantangan.
“Dulu waktu kecil aku sempat divonis lambat berpikir. Tapi aku terus belajar dan berusaha untuk tumbuh,” ujar Fathia Aulia saat di wawancarai pada hari Minggu (13/7/2025).
Ia menceritakan, sejak SMP sudah mengikuti program akselerasi hingga menyelesaikan masa sekolahnya dalam waktu lima tahun. Meski bukan siswa yang cepat menangkap pelajaran, ia membuktikan diri dengan tekad dan tujuan kuat.
“Aku belajar bukan buat jadi juara kelas, tapi buat cari ilmu yang berkah dan bisa bermanfaat,” tambahnya.
Selain aktif di kelas, Fathia juga tergabung dalam organisasi RG UG alias Rijalul Ghad dan Umahatul Ghad yang biasa disebut dengan OSIS. Di sana ia dipercaya di bidang tarbiyah yang berfokus pada pembinaan karakter dan keislaman. Melalui organisasi ini, ia belajar manajemen waktu dan tanggung jawab spiritual. “Membina orang lain juga berarti membina diri sendiri,” jelasnya.
Ketertarikan Fathia untuk kuliah ke luar negeri muncul dari tokoh inspiratifnya, Fatimah binti Sa’ad Alkhayr, seorang perempuan yang menjelajah Andalusia hingga Timur Tengah demi pendidikan. Hal itu mendorongnya memilih Turki, negara yang kaya sejarah Islam dan peradaban ilmiah.
“Aku tertarik karena Turki pernah menjadi pusat pemerintahan Islam. Banyak sejarah yang bisa aku pelajari di sana,” ujarnya.
Ia mengaku mengurus seluruh proses seleksi secara mandiri, mulai dari menulis essay, menerjemahkan dokumen, hingga mengikuti ujian dalam bahasa asing.
Fathia berhasil diterima di tiga universitas di Turki, yaitu Karabuk Universitesi, Kastamonu Universitesi, dan Nigde Omer Halisdemir Universitesi. Setelah melalui berbagai pertimbangan, ia akhirnya memutuskan untuk melanjutkan studi di Kastamonu Universitesi.
Bahasa menjadi tantangan terbesar dalam proses pendaftaran. “Itu hal yang cukup susah banget buat aku,” tuturnya. Meski begitu, ia bersyukur dapat melewati proses tersebut dengan dukungan orang tua dan usaha yang terus menerus.
Fathia percaya bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Ia terus mengasah kemampuan dengan teknik time blocking, membuat to-do list, dan evaluasi harian. “Kunci utamanya konsisten dan tahu tujuan belajar,” ungkapnya.
Sebagai penutup, Fathia menyampaikan pesan bagi pelajar lain yang ingin kuliah di luar negeri. “Mimpi kuliah di luar negeri bukan cuma milik orang dengan privilege. Tapi milik siapa pun yang mau berjuang,” katanya. Ia berpesan agar anak muda, khususnya perempuan, tidak ragu untuk mengejar pendidikan setinggi mungkin.
Jika harus memilih satu kata yang menggambarkan perjalanannya, Fathia menjawab, “Tumbuh. Karena setiap jatuh membuat aku belajar bangkit, dan setiap bangkit membuat aku jadi lebih kuat,”.
















