Bidang Insos Kembali Gelar Diskusi Informatif Bertajuk Indonesia, Kekuasaan, dan Lingkungan

JURNALPOSMEDIA.COMKegiatan mingguan Bidang Intelektual dan Sosial Hima Jurnalistik UIN Bandung kembali menggelar diskusi informatif bertajuk Indonesia, Kekuasaan, dan Lingkungan pada Selasa, (16/11/2021).

Baru-baru ini Ketua Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak dan Kiki Taufik dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas tindak pidana UU ITE usai mengkritisi pidato Presiden Joko Widodo soal deforestasi KTT Conferences Of the Parties (COP) 26 di Glasgow, Skotlandia. Maka dari itu, bidang Insos menganggap isu tersebut merupakan pilihan cerdas untuk kemudian didiskusikan lebih lanjut.

Dihadiri oleh pemateri kompeten di bidangnya yakni Dani Setiawan selaku Sekretaris Forum Masyarakat Peduli Lingkungan (FMPL) dan Dudan Darmawan selaku Sekretaris Umum di Volunteer Gede Pangrango Operation akan menjabarkan terkait hangatnya isu tersebut.

Apa yang Sebenarnya Terjadi dengan COP-26?

Diskusi dimulai dengan pemaparan soal COP-26 yang telah berlangsung pada 13 November 2021. Dani Setiawan mengatakan tidak adanya ketegasan dalam passing out batu bara menjadi passing down.

“Awalnya seluruh negara sepakat untuk menyatakan bahwa harus perlahan-lahan menghentikan penggunaan batu bara di dunia. Hingga akhirnya pada 13 November 2021, disepakati untuk passing down, atau hanya menekan saja, bukan passing out yang berarti menghentikan,” kata Dani dalam pemaparannya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan tentang ekspolitasi SDA yang dilakukan secara berlebihan demi mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Menurutnya, sasaran utama ekpolitasi adalah penguasaan dan penggunaan untuk mengeruk dan memeras potensi SDA, khusus industri ekstraktif.

Selayang pandang, Dani menjabarkan bentuk eksploitasi lingkungan yang ada di Jawa Barat.

Sesi pemaparan materi oleh Dudan Darmawan tentang eksploitasi lingkungan di Jawa Barat.
Berbicara Tentang Eksploitasi Lingkungan

“Bentuk eksploitasi lingkungan yang biasanya ada di Jawa Barat di antaranya adalah deforestasi, penggundulan hutan, diganti menjadi perumahan, pertambangan, perkebunan sawit. Kemudian ada pertambangan, seperti batu bara, minyak, hingga gas bumi. Lalu privatisasi air yang mengeksploitasi seperti perusahaan air minum,” jabarnya.

Tak hanya Dani, Dudan pun menjelaskan materi mengenai Geothermal. Sebuah panas bumi yang berasal dari dalam inti bumi yang dapat dimanfaatkan manusia untuk keberlangsungan hidup.

“Penerapan Geothermal di Indonesia memiliki beberapa alur sebelum terjadinya eksploitasi. Mulai dari penentuan titik dan survey, kemudian dilakukan konsolidasi birokrasi dan studi kelayakan. Setelah itu diadakan sosialisasi dengan masyarakat sehingga akhirnya bisa dieksploitasi dan lahan tersebut bisa dimanfaatkan untuk Geothermal,” jelas Dudan.

Dampak negatif dari kegiatan tersebut pun turut dikemukakan Dudan. Baik dari sisi ekosistem hingga beberapa kemungkinan bencana alam yang terjadi.

“Dampaknya yakni rusaknya habitat dari hewan-hewan endemik karena pembebasan lahan. Bencana ekologi seperti gempa, longsor, banjir, hingga kekeringan akan bisa terjadi. Hal itu berdampak terhadap terganggunya kesehatan serta lingkungan sosial masyarakat,” ungkapnya.

Secercah Tanya dan Harap

Terdapat ragam pertanyaan menarik yang dilontarkan, salah satunya Virliya Putricantika yang menjabarkan soal bagaimana kondisi lingkungan Indonesia dan ditutup dengan pertanyaan soal rasa percaya terhadap pemerintah.

“Setelah melihat ini semua, dengan rasa kecewa yang sebesar ini, perlukah kita untuk percaya terhadap pemerintah?” tanya Virliya.

Kemudian Dani dan Dudan menjabarkan soal bagaimana hukum yang seharusnya memayungi kepentingan publik kini sudah tidak mewakili suara mayoritas.

“Entah suara siapa yang dimasukkan ke dalam undang-undang untuk dijadikan pedoman. Ketimbang menjawab dengan gamblang soal keharusan rasa percaya yang harus dihaturkan kepada pemerintah,” jabar keduanya yang telah tim Jurnalposmedia rangkum.

Diskusi kali ini ditutup dengan closing statement oleh kedua pemateri.

“Berjalan lebih jauh, belajar lebih banyak, dan peduli lebih banyak. Terutama kepada semesta, karena ketika kita berbuat baik kepada semesta, maka semesta akan memberikan hal yang lebih”, ujar Dudan Darmawan.

Sedangkan Dani berpesan untuk terus melakukan pergerakan serta memperjuangkan lingkungan dan keberlangsungan hidup demi terjaganya kelestarian.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.