Bertajuk Advokasi Jurnalisme, Jurnalposmedia Gelar PJTLN Daring Perdana di Jabar

JURNALPOSMEDIA.COM – Pelatihan Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) 2021 Jurnalposmedia UIN Bandung digelar selama 3 hari pada Jumat hingga Minggu, (5-7/11/2021). Mengusung Advokasi Jurnalisme dalam topik bahasannya, pelatihan ini diikuti oleh 20 delegasi dari berbagai Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) se-Indonesia.

Pemateri pada PJTLN daring perdana di Jawa Barat ini antara lain, Lasma Natalia selaku Direktur LBH Bandung, Asfinawati selaku Ketua Umum YLBHI, dan Iqbal Tawakal Lazuardi selaku Sekretaris AJI Bandung.

Di hari pertama, Lasma Natalia menyatupadukan pandangan para delegasi dengan sesi tanya jawab terkait hak-hak yang dimiliki seorang jurnalis. Para delegasi dengan antusiasnya menanggapi pertanyaan tersebut.

Tentunya, jurnalis memiliki hak-haknya, yaitu hak dalam berpendapat, hak mendapat atau menyampaikan informasi, dan hak tidak mendapatkan kekerasan. Namun saat ini, kata Lasma, hal tersebut jauh dari kata selaras.

Pendapat Lasma disepakati oleh salah satu delegasi, Aziz Nurulloh dari LPM Saintek UIN Bandung. Menurutnya, hal tersebut sudah bukan lagi menjadi rahasia umum.

“Sudah banyak kasus media yang diberedel karena menyinggung suatu kelompok. Sehingga, ketika jurnalis kritis akan suatu hal yang berpendapat berbeda, kebanyakan dibungkam,” tutur Aziz.

Salah satu delegasi LPM Gemercik Media, Hasna Azizah juga menambahkan pendapat. Katanya, regulasi pemerintah tidak mengakomodir hak jurnalis saat ini.

“Menurut data yang didapatkan dari AJI, kasus kekerasan terhadap jurnalis setiap tahunnya meningkat. Dalam UU Dewan Pers juga ketiga hak jurnalis tersebut tidak diberdayakan dengan sebagaimana mestinya,” ujar Hasna.

Menanggapi tanggapan tersebut, Lasma berpendapat bahwa kondisi jurnalis Indonesia saat ini belum aman. Terdata sejak 2021, sebanyak delapan kekerasan fisik, lima teror dan intimidasi, serta pelanggaran dan juga tuntutan hukum.

Lanjutnya lagi, aktivitas jurnalisme ini dampaknya sangat besar bagi keberlangsungan khalayak yang menunjung tinggi nilai-nilai demokrasi.

“Kita sebagai jurnalis sudah sepatutnya mengemukakan hal-hal yang dirasa penting untuk khalayak. Seharusnya, kasus-kasus yang belum terungkap karena dirasa belum ada perubahan dari sistem regulasinya, tetap harus dilanjutkan dan jangan berhenti. Balik lagi ke aktivitas jurnalisme yang dilakukan jurnalis dampaknya sangat besar,” pungkas Lasma.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.