Sun, 31 May 2026

Ganesha Business Festival 2026 Tampilkan Inovasi Mahasiswa di Tengah Era Teknologi

Reporter: INE SINTIABELA | Redaktur: RIANITARI LATIFA | Dibaca 33 kali

Sumber : Dokumentasi Pribadi

JURNALPOSMEDIA.COM Puluhan karya dan inovasi mahasiswa dipamerkan dalam Ganesha Business Festival (GBF) 2026 yang diselenggarakan oleh Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) pada Sabtu (30/5/2026). Mengusung tema The Human Edge, The Power Beyond Technology, festival ini menegaskan pentingnya peran manusia di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Project Officer Ganesha Business Festival 2026, Naura Tsabita Wibowo, menjelaskan GBF merupakan agenda tahunan resmi SBM ITB yang telah berlangsung selama lima tahun terakhir. Rangkaian kegiatan dimulai sejak Januari melalui berbagai kompetisi bisnis, seperti Indonesian Business Case Competition (IBCC), High School Business Plan Competition (HSBPC), dan Student Founder Challenge (SFC)

“Pesan utama yang ingin kami sampaikan adalah bahwa meskipun teknologi saat ini berkembang sangat maju, manusia tetap harus memimpin. Humanity tetap menjadi hal yang penting di masa depan,” ujar Naura saat diwawancarai Jurnalposmedia, Sabtu (30/5/2026).

Puncak kegiatan GBF 2026 digelar melalui business exhibition yang menghadirkan berbagai tenant, baik dari pihak eksternal maupun mahasiswa SBM ITB. Khusus tenant mahasiswa, produk yang dipamerkan merupakan hasil praktik langsung dari mata kuliah kewirausahaan yang mereka tempuh selama perkuliahan.

Menurut Naura, salah satu keunikan Ganesha Business Festival dibandingkan festival bisnis lainnya adalah fokusnya pada karya mahasiswa. Melalui pameran tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar menjual produk, tetapi juga melakukan uji pasar (market testing) secara langsung kepada masyarakat. 

“Tujuan utama kami adalah agar mahasiswa bisa memperoleh pengalaman berjualan sekaligus mendapatkan hasil riset pasar untuk produk yang mereka kembangkan. Selain itu, kami ingin pengunjung melihat bahwa ini adalah karya generasi muda Indonesia,” ujarnya. 

Salah satu tenant yang menarik perhatian pengunjung adalah Conficap, produk yang dikembangkan oleh mahasiswa Kewirausahaan ITB. Produk tersebut berupa tutup botol adaptif yang dapat dipasang pada berbagai jenis botol minuman kemasan sehingga lebih praktis digunakan, terutama saat berkendara. 

Mahasiswa Kewirausahaan ITB semester lima, Robbie Aulia Hidayat, menjelaskan bahwa ide tersebut lahir dari kebutuhan sehari-hari yang sering dianggap sepele.

“Conficap adalah tutup botol yang bisa beradaptasi dengan berbagai botol plastik. Dengan satu sentuhan, pengguna bisa membuka dan menutup botol dengan lebih mudah tanpa harus memutar tutupnya seperti biasa,” jelas Robbie. 

Menurutnya, GBF menjadi wadah yang penting bagi mahasiswa dan pelaku usaha muda untuk memperkenalkan ide-ide baru kepada masyarakat maupun calon investor. 

“Ada banyak mahasiswa dengan ide mereka masing-masing. Mungkin tidak semua akan berhasil, tetapi dari banyaknya inovasi yang ditampilkan, selalu ada peluang lahirnya bisnis yang sukses di masa depan,” ujarnya. 

Festival ini juga mendapat respons positif dari pengunjung. Rayyan, mahasiswa semester enam Politeknik Negeri Bandung (Polban), mengaku mengetahui informasi acara tersebut dari temannya dan tertarik hadir karena ingin memperoleh wawasan baru mengenai dunia bisnis. 

“Yang menarik di sini adalah banyak inovasi dan proyek yang dibuat mahasiswa. Bagi saya yang sedang mengerjakan tugas akhir, ini menjadi referensi yang sangat bermanfaat,” jelas Rayyan.

Ia menambahkan bahwa pengalaman mengikuti Ganesha Business Festival semakin meningkatkan minatnya terhadap dunia kewirausahaan.

“Melihat berbagai inovasi yang ditampilkan membuat saya semakin tertarik dengan bisnis. Kedepannya, saya juga berencana membangun usaha bersama teman-teman,” tuturnya.

Melalui Ganesha Business Festival 2026, SBM ITB berharap masyarakat dapat melihat bahwa di tengah era digital dan perkembangan teknologi yang semakin cepat, kreativitas, inovasi, dan kemampuan manusia tetap menjadi faktor utama dalam menciptakan perubahan.

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama