Fri, 3 July 2026

Karya Tulis Ilmiah: Transformasi Antara Dunia Pendidikan dan Masyarakat

Reporter: Santi Agustini | Redaktur: Ghina Tsuroya  | Dibaca 1249 kali

karya tulis ilmiah
Tety Sudiarti ketika menjelaskan tentang urgensi karya tulis ilmiah dalam webinar bertajuk “Upgrading of Academic Potential Through LKTI” yang diinisiasi Lingkar Studi Ilmiah Sains dan Teknologi (LSIST) Fakultas Saintek UIN Bandung, Minggu (21/11/2021).

JURNALPOSMEDIA.COM – Karya Tulis Ilmiah (KTI) jadi harapan adanya transformasi ilmu antara dunia pendidikan dan masyarakat. Penulisan karya ilmiah menumbuhkan etos atmosfer akademik melalui refleksi pengetahuan yang telah diperoleh dengan sebuah penyelesaian masalah.

Hal tersebut diungkapkan dosen sekaligus Ketua Unit Akselerasi dan Prestasi Mahasiswa Fakultas Saintek, Tety Sudiarti dalam webinar bertajuk “Upgrading of Academic Potential Through LKTI” yang diinisiasi Lingkar Studi Ilmiah Sains dan Teknologi (LSIST) Fakultas Saintek UIN Bandung, Minggu (21/11/2021).

Tety menjelaskan, struktur dalam karya ilmiah mengandung abstrak, latar belakang, literature review, metodologi, result and discussion, serta kesimpulan. Menurutnya, KTI berperan sebagai kemampuan dasar sebuah penelitian, dan berguna untuk memperluas cakrawala sains.

Ia juga mengungkap penekanan urgensi Karya Tulis Ilmiah, khususnya bagi mahasiswa, “KTI merupakan sarana latihan sebelum memasuki dunia kerja, selain itu juga membantu dalam study abroad,” ujarnya, Minggu (21/11/2021).

Seseorang yang terbiasa menulis KTI, lanjutnya, akan dengan mudah melakukan study abroad maupun study exchange. Hal ini karena banyak institusi yang mensyaratkan kemampuan menulis, salah satunya untuk publikasi. Kendati begitu, spirit untuk menulis karya tulis ilmiah disebutnya masih cukup rendah.

“Terkadang motivasi untuk menulis karya ilmiah itu rendah. Padahal, benefit yang akan kita dapatkan banyak. Ingatlah, bahwa kampus merupakan laboratorium terbaik untuk meningkatkan kompetensi akademik,” ungkapnya.

Sebagai pungkasan, ia memberi kunci sukses penulisan laporan KTI, di antaranya faktor kreativitas, objektif, realistik, orsinil, logis, sistematik, berisi permasalahan dan analisis sintetis, berdasarkan literatur, serta memiliki kemampuan komunikasi yang mumpuni.

Webinar penulisan laporan Karya Tulis Ilmiah ini adalah penutup dari rangkaian kegiatan HUT ke-2 LSIST, serta perwujudan program kerja dari Bidang Penelitian dan Pengembangan LSIST.

LSIST sendiri merupakan badan semi otonom (BSO) di bawah naungan Dema Fakultas Saintek UIN Bandung. Mereka menyediakan ruang kepenulisan karya ilmiah meliputi esai, karya tulis ilmiah, poster ilmiah, dan sebagainya.

Rangkaian HUT ini telah berjalan selama tiga minggu. Dimulai dengan acara Ngopi (Ngobrol Ilmiah Seputar Sains), lomba poster, dan ditutup dengan webinar KTI. Tujuan diadakan webinar KTI adalah untuk membuka wawasan mengenai urgensi penulisan karya ilmiah yang memiliki efek positif sebagai jembatan untuk meraih mimpi.

Wakil Dekan III Fakultas Saintek, Aep Saepuloh dalam sambutannya juga mengemukakan bahwa webinar KTI sangat penting diikuti karena merupakan ruh dari perguruan tinggi. KTI dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam keterampilan menulis, hingga menciptakan inovasi yang dapat bernilai profit.

Menutup webinar, LSIST mengumumkan raihan juara lomba poster karya tulis ilmiah yang dimenangkan oleh kelompok 4 dengan judul “Aplikasi yang Membantu Dirimu dalam Mengatur Stress”.

Bagikan :

Rekomendasi

Menilik Indikator Penilaian Skor Ujian serta Masa Aktif Sertifikat Kursus TOEFA dan TOEFL JURNALPOSMEDIA.COM – Sejalan dengan kegiatan persiapan ujian Test of English for Academics (TOEFA) dan Test of English Foreign Language (TOEFL) yang di adakan oleh Language Center (LC) UIN Bandung, terdapat beberapa indikator penilaian skor ujian serta masa aktif sertifikat kursus bagi mahasiswa. Ketua LC UIN Bandung Abdul Kodir turut menjelaskan, berkenaan dengan skor nilai, setiap tahunnya akan ada beberapa perubahan kebijakan. Hal ini dipicu karena adanya cetakan baru buku Pedoman Akademik di setiap tahunnya. “Jadi kita hanya memberikan keterangan bahwa anda skornya sekian. Nanti umpan-umpannya skornya berlaku atau tidak atau misalkan kurang, maka ya, harus ujian lagi dan kalau mau ujian lagi anda gausah dari ulang harus kursus lagi,” ungkapnya kepada Jurnalposmedia, Rabu (27/7/2022). Skor dan Keuntungan yang Didapat Abdul Kodir kembali menjelaskan, mengenai minimal skor yang diraih oleh setiap mahasiswa itu berbeda-beda, hal ini bergantung pada kebijakan Fakultas dan Program Studi Prodi nya masing-masing. Sementara indikator dan standar penilaiannya dinilai dari listening, reading, dan vocabulary. “Untuk vocabulary nya kita itu ingin mahasiswa UIN itu paham dan mengenal vocab-vocab dengan istilah yang dekat dengan keislaman jadi nanti ada kaya English for islamic student jadi nanti ada vocab yang nanti dekat dengan kajian-kajian keislaman,” ungkapnya. Beralih dari tes tersebut, Abdul kembali menuturkan, para mahasiswa yang mengikuti tes dan kursus keterampilan berbahasa nantinya akan mendapatkan keuntungan berupa sertifikat kursus. “Masa aktif sertifikat tes TOEFL dan TOEFA ini hanya dua tahun, jika sudah lebih dari dua tahun maka harus tes lagi agar mendapatkan skor TOEFL yang terbaru dan sertifikatnya aktif. Sedangkan sertifikat kursus keterampilan berbahasa bisa aktif seumur hidup,” jelasnya. Tanggapan Mahasiswa Terkait Tes TOEFL dan TOEFA Kursus bahasa yang berujung dengan ujian TOAFL dan TOEFA, sebagai syarat kelulusan ini banyak mendapatkan apresiasi dari mahasiswa yang semangat untuk mengikuti kursus tersebut. Mahasiswi jurusan Ilmu Al-Qur’an Tafsir (IAT), Destiana Rosyidah sangat mengapresiasi kegiatan ini. Desti juga tidak sungkan mengeluarkan kritik dan sarannya untuk program ini. “Hanya saja sertifikat yang nantinya keluar setelah ujian itu hanya bisa di pakai di kampus saja, tidak bisa di pakai untuk kepentingan di luar kampus, semisal untuk melamar beasiswa atau pekerjaan yang membutuhkan sertifikat serupa,” ungkapnya. Ia juga berharap agar dosen pembimbing kursus mulai memperhatikan kegiatan belajar mengajar (KBM) mahasiswa nya agar mendapatkan hasil maksimal dalam ujiannya. Karena masih banyak dosen pembimbing yang kurang memperhatikan KBM kursusnya. “Tidak semua dosen pembimbing kursus peduli pada mahasiswa kursusnya. Yah

Tinggalkan komentar pertama