Tue, 18 August 2026

Gempa M7,7 Guncang NTT, Korban Terus Bertambah

Reporter: Chaifa Aulia Shafa | Redaktur: Itsna Nursofiatun Ni'mah | Dibaca 155 kali

Sumber foto: Dok. Istimewa

JURNALPOSMEDIA.COM – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB. Sebanyak lima orang meninggal dunia akibat gempa tersebut, lalu secara bertahap terus bertambah menjadi 53 orang meninggal dunia dan 153 luka-luka.

Dilansir dari Kompas.com, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, mengatakan bahwa sumber gempa berkaitan dengan aktivitas sesar aktif yang berada di bagian utara Pulau Flores. Gempa ini juga diikuti perubahan permukaan laut. Arief mengatakan hasil pengukuran alat menunjukkan tsunami telah terjadi dengan ketinggian yang berbeda-beda.

Dilansir dari CNN Indonesia, berdasarkan hasil pemutakhiran dan validasi data, pusat gempa berada di Kabupaten Nagekeo, sekitar 30 kilometer timur laut, pada kedalaman 15 kilometer. Akhirnya BMKG langsung mengeluarkan peringatan dini tsunami bagi sejumlah wilayah NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.

Sejumlah wilayah seperti Manggarai Utara, Ngada Utara, Manggarai Barat Utara, Sikka Utara, Ende Utara, serta wilayah Sulawesi dan Selayar masuk ke dalam status siaga. Selain itu, wilayah pesisir lainnya dengan potensi kenaikan muka laut 0-0,5 meter masuk ke dalam status waspada.

Dilansir dari Kompas.com, jumlah korban meninggal dunia terus bertambah yang pada awalnya sebanyak lima orang tewas menjadi 47 orang pada Sabtu pukul 19.48 Wita. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat puluhan korban meninggal tersebar di sejumlah kabupaten. Hal ini mengakibatkan lebih dari 5.000 warga harus tinggal di pengungsian.

Selain itu, ribuan bangunan di NTT juga dilaporkan rusak akibat gempa tersebut. Data sementara di wilayah NTT mencatat 914 unit rumah mengalami rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan.

Korban gempa bumi ini bertambah lagi pada Minggu (16/8/2026) pukul 08.30 Wita, Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, mencatat ada 112 orang yang terdampak gempa tersebut, di antaranya 48 orang meninggal dunia dan 64 orang mengalami luka berat maupun luka ringan.

Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari, melaporkan jumlah korban gempa bertambah lagi pada sore harinya. Korban jiwa meninggal dunia tercatat 53 orang. Sebanyak 1 korban ada di Kabupaten Manggarai Barat. Kemudian di Manggarai Timur ada 20 jiwa, Kabupaten Manggarai ada 25 jiwa, Nagekeo ada 1 jiwa, Sikka ada 4 jiwa, dan Ende ada 2 jiwa.

Untuk jumlah korban luka yang saat ini sedang dirawat berjumlah 135 jiwa. Di sisi lain, BNPB mencatat tidak ada orang yang dilaporkan hilang akibat bencana gempa di NTT.

Sementara itu, dilansir dari ANTARA NTT, BNPB memanfaatkan moda transportasi laut untuk mengirim bantuan kepada korban gempa yang tinggal di pulau terpencil dan sulit dijangkau melalui jalur darat, seperti Pulau Palue di Kabupaten Sikka. Hal ini dilakukan agar warga yang terisolasi pascagempa tetap mendapatkan pasokan bantuan secara cepat.

Bantuan yang telah berhasil disalurkan ke wilayah Kabupaten Sikka mencakup perlengkapan penampungan darurat seperti 146 unit tenda keluarga, 5 unit tenda pengungsi, 200 kasur lipat, dan perlengkapan lainnya. Selain itu, ada juga kebutuhan pokok berupa 300 paket sembako, 100 paket perlengkapan bayi, dan kebutuhan penting lainnya.

Adapun bantuan logistik dari Presiden Prabowo yang telah tiba di Maumere, Kabupaten Sikka. Sebanyak 1.725 paket sembako mendarat di Maumere dan 3.200 mendarat di Labuan Bajo. Bantuan tersebut merupakan bagian dari rencana distribusi 50.000 paket sembako yang akan dikirimkan secara bertahap untuk mendukung penanganan masyarakat terdampak bencana di wilayah NTT.

 

 

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama