JURNALPOSMEDIA.COM – Masa remaja merupakan fase perubahan dalam kehidupan, baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Pada masa ini, remaja dapat menghadapi berbagai tekanan yang berasal dari lingkungan sekolah, keluarga, pertemanan, hingga penggunaan media sosial. Tidak sedikit dari mereka yang terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi sebenarnya sedang menghadapi tekanan psikologis.
Dilansir dari Detik.com Berdasarkan survei kesehatan mental Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), satu dari tiga remaja di Indonesia mempunyai masalah kesehatan mental. Sementara, satu dari dua puluh remaja punya gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Rasio ini setara dengan 15,5 juta dan 2,45 juta remaja Indonesia.
Penggunaan media sosial bisa menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesehatan mental remaja. Pada usia ini, remaja masih dalam proses mencari jati diri dan memperhatikan pendapat orang lain. Karena itu, sering menggunakan media sosial dapat membuat remaja merasa kurang percaya diri atau tertekan. Namun, media sosial bukan satu-satunya penyebab masalah kesehatan mental. Dampaknya juga tergantung pada bagaimana media sosial digunakan, berapa lama penggunaannya, dan konten yang dilihat oleh remaja.
Sekolah menjadi salah satu lingkungan yang dapat berperan dalam upaya pencegahan dan penanganan awal. Kementerian Kesehatan pada 2026 memperkuat literasi kesehatan jiwa melalui program first aider di sekolah. Kemenkes juga menyediakan panduan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis bagi first aider di jenjang SMP dan SMA.
Dilansir dari ANTARA bahwa Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Jakarta Utara memberikan edukasi kesehatan mental kepada siswa dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), materi yang diberikan mencakup pengelolaan emosi, pentingnya empati, serta informasi mengenai tempat mendapatkan bantuan ketika membutuhkan pendampingan psikologis.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa menjaga kesehatan mental remaja tidak cukup hanya dengan meminta mereka untuk lebih kuat menghadapi masalah. Remaja juga membutuhkan lingkungan yang membuat mereka merasa aman untuk bercerita dan mencari bantuan. Keluarga dapat menjadi tempat pertama untuk mendengarkan tanpa langsung menghakimi, sementara sekolah dapat menyediakan ruang yang aman serta informasi mengenai bantuan profesional.
















