Street Food Pasar Ceplak ‘Hidupkan’ Pusat Garut Kota

JURNALPOSMEDIA.COM – Menikmati malam di Kabupaten Garut tidak lengkap rasanya jika melewatkan street food di sepanjang Jalan Siliwangi, Kecamatan Garut Kota, namanya Pasar Ceplak.

Pasar Ceplak diketahui sudah ada sejak 1980-an. Meski begitu seorang pedagang, Ajat mengungkap asal-usul nama Pasar Ceplak belum memiliki sejarah yang jelas. “Namun yang pasti ceplak itu adalah kata di bahasa Sunda yang berarti mengeluarkan suara saat makan,“ ugkapnya, Kamis (4/6/2021).

Berdasarkan situs jelajahgarut.com, ceplak memang berasal dari istilah cuplak-ceplak dengan makna sama seperti yang diungkapkan Ajat, yaitu bunyi gerakan mulut ketika mengunyah makanan. Dalam tata krama orang Sunda, hal ini dinilai perilaku yang tidak sopan.

Tapi inilah adanya, Pasar Ceplak merupakan nama sebuah destinasi wisata kuliner, yang berarti tempat orang-orang mengunyah makanan! Kendati begitu, bukan berarti setiap pengunjung yang datang menyantap makanan dengan cuplak-ceplak.

Konon, keberadaan pasar menjadikan pusat kota jadi lebih ‘hidup’ kala malam tiba, karena suasana ramai masyarakat yang datang dari berbagai lapisan.

Pastikan saat berkunjung ke sana Anda menggunakan kendaraan roda dua atau berjalan kaki. Kalaupun menggunakan kendaraan roda empat, maka bisa memarkirkannya di pinggiran jalan yang berjarak 50-100 meter dari pasar.

Pengunjung bisa datang dari pukul 16.00 WIB hingga 22.00 WIB. Jajanan yang tersedia cukup beragam, sebut saja martabak, ayam kampung bakar, gorengan, cibay (aci ngeumbay), hingga makanan khas Sunda, awug.

Pasar Ceplak
Jajajanan empek-empek di salah satu lapak di Pasar Ceplak, Kamis (3/6/2021). (Haekal Tazzaka/Jurnalposmedia).

Meski disebut pasar, namun street food ini hanya terdiri dari puluhan gerobak pedagang yang berderet, dan terbentang sejauh 300 meter di sepanjang Jalan Siliwangi. Oleh karenanya, pasar ini sering menjadi tempat tujuan untuk berjalan-jalan sore atau malam sembari mencicipi beragam makanan yang dijual.

Tidak sedikit pedagang yang masih bertahan sejak dulu, bahkan sejak pertama pasar ini dibuka. Namun pandemi Covid-19 kali ini juga turut menghantam aktifitas jual beli di Pasar Ceplak.

“Saya berjualan empek-empek di sini sudah dari tahun 2002. Sebelum ada pandemi Covid-19, saya tutup jam 22.00 WIB. Namun ketika adanya pandemi (waktunya) dibatasi, paling maksimal jam 20.00 WIB atau 21.00 WIB,” terang pedagang empek-empek, Mulyadi.

Leave A Reply

Your email address will not be published.