PAK, AKU SIMPAN PERAHUNYA YA

JURNALPOSMEDIA.COM- “Neng, nahkoda yang ulung itu tidak terlahir dari laut yang tenang, ini bapak kasih perahunya, ga papa kecil ya?. ” Ucap lelaki paruh baya sambil menyerahkan kerajinan kayu berbentuk kapal yang ia buat sendiri.

Aku menerimanya dengan sangat antusias, segala ketulusan dan nasehatnya selalu kuterima dengan baik, ia adalah sosok yang membuatku malu saat bercermin, melihat usianya yang tidak muda lagi tapi semangat dan kerja kerasnya seakan ia masih berumur dua puluh tahun.

Namanya pak Wawan, Ia adalah relawan penjaga sepatu di masjid kampusku. Sepertinya semua penghuni kampus mengenalnya sebagai sosok yang ramah dan pekerja keras. Usianya yang hampir menginjak kepala delapan tidak membuatnya diam dan kalah dengan kehidupan.

Bekerja menghidupi keluarga sebagai tulang punggung yang hampir rapuh, menjadi relawan penjaga sepatu yang tidak menentu penghasilannya karena bukan pegawai, tapi ia tetap bertahan dengan alasan mencintai pekerjaan itu.

Aku pernah bertanya kenapa ia masih tetap mau menjadi relawan penjaga sepatu di masjid. Ia tersenyum mendengar pertanyaanku.

“Bapak senang melihat senyum ramah para mahasiswa, mengingatkan bapak pada anak-anak bapak yang sudah meninggal dan tinggal jauh. ” Ucapnya lirih dengan tangan yang sibuk merapikan sepatu di rak.

Setiap hari aku tidak pernah melewatkan waktu untuk berbincang dengannya atau hanya sekedar menyapanya karena aku ingat bahwa hanya itu yang bisa ku lakukan untuk membuatnya merasa tenang dan sedikit mengobati kerinduan pada anak-anaknya. Aku mungkin tidak memiliki hubungan darah dengannya, tapi dengan melihatnya, aku merasa bertanggung jawab untuk berbuat baik padanya.

Seorang ayah dari delapan anak itu selalu membuatku terpukul dengan kata-katanya. Masalahnya, setiap hari aku tidak pernah melewatkan untuk menyapa dan meminta nasihat dan cerita darinya, pernah suatu hari ia pernah berkata bahwa dalam hidup, kita harus berani berjuang, berani capek, hidup itu adalah sebuah perjuangan, jangan harap dikatakan kita hidup jika tidak mau berjuang.

Suatu hari saat hendak shalat di masjid, aku membawa sepatu untuk menyimpannya di tempat penitipan. Jika melihat sepatu entah kenapa aku selalu mengingat pak Wawan.

Hari itu aku ingin menemuinya untuk berbagi cerita dan mendengarkan ceritanya. Aku juga membawa kue untuknya. Tapi tunggu!! Ia tidak terlihat dimanapun, sampai sore pun aku tidak juga melihatnya. Mungkin ia izin tidak masuk kerja.

Aku kira hanya hari itu saja aku tidak melihatnya, tapi setelah seminggu berlalu, aku belum juga bisa menemuinya. Ku lihat sepatu-sepatu mahasiswa berjajar rapi dan aku mengira mungkin pak Wawan sedang sibuk membereskan pekerjaan lain.

Lantai masjid kampus yang begitu putih, merekam semua jejak langkah kaki setiap orang yang menginjaknya, atapnya yang tinggi seakan menggantungkan harapan yang tidak bisa ku lupa, rasanya sesak setiap ku ingat bahwa yang kucari tidak bisa ku temui.

” Neng, mau titip sepatu? Kalau disimpan di luar takut terinjak nanti kotor. ” Suara seorang paruh baya yang menghentikan langkahku. Apakah itu pak Wawan?

Suara itu? Sekilas seperti suara seorang yang tengah kucari seminggu ini. Mataku menerobos udara, mencari pemilik suara itu dan berhenti di satu titik, tempat penitipan sepatu.

Disana terdapat seorang lelaki paruh baya juga yang tengah duduk sambil tersenyum, ternyata suara itu bukan suara yang ku cari.

“Bapak sekarang kerja disini? Yang sebelumnya kemana ya pak? ” Tanyaku sambil menyimpan sepatu di rak penitipan.

” Iya neng baru hari ini, soalnya petugas sebelumnya meninggal dunia kemarin. “

Deg… Apa yang bapak itu katakan? Meninggal? Kenapa aku baru mengetahuinya? Bahkan kue yang setiap hari aku bawa belum aku berikan ke pak Wawan.

Ingatanku seakan berkelana, rekaman senyumnya, semangatnya dan matanya yang teduh, jalannya yang tidak lagi tegak, nasihat-nasihatnya seakan berputar-putar di kepalaku. Tidak mungkin!!!!!

Serasa baru kemarin ia memberiku kerajinan kayu perahu yang indah, yang ia pahat sendiri. Setiap hari aku melihat jajaran sepatu yang rapi, aku mengira pak Wawan yang merapikan.

Kenapa orang baik selalu Tuhan ambil duluan, mungkin karena Tuhan mencintainya. Kenapa air mataku tidak juga berhenti mengalir membasahi pipiku dengan lembut, aku bahkan belum mengucapkan banyak terima kasih padanya atas segala cerita dan nasihat darinya.

Pak, sepatu-sepatu masjid itu masih membutuhkanmu, kebiasaanku menyapamu belum mau aku hentikan. Aku masih tetap mencarimu dan berharap pak Wawan duduk di bangku itu. Aku tak mengira kerajinan perahu itu menjadi kado terakhir darinya.

Pak, sepatu-sepatu itu akan merindukanmu!

Pak, aku simpan rapi kata-kata darimu. Aku akan menjadi nahkoda yang ulung, aku akan menerjang riuh ombak dengan tegar dan berani sepertimu.

Aku titip sepatuku ya pak..

Aku jaga perahunya.

Sebuah cerita pendek untuk mengenang pahlawan Masjid Iqomah yang bekerja dengan ikhlas tanpa rasa pamrih. Tulisan ini adalah hadiah dan publikasi yang akan terekam sepanjang masa. Terima Kasih Pak Wawan Batman. Kami turut berduka cita. Semoga bapak ditempatkan ditempat paling mulia disisi Allah SWT.  Aamiin..

 

Penulis : Widi Dwi Haspiani

 

Rekomendasi
4 Comments
  1. Wuri says

    Nangis😭 gk boong

  2. Fia says

    Nangis bacanya teh♡♡

  3. Murkod says

    😭😭 sering sering bikin cerpennya . Suka dengan pilihan kalimatnya..ngena bnget ke hati

  4. Murkod says

    😭😭 sering sering bikin cerpennya yaasss . Suka dengan pilihan kalimatnya..ngena bnget ke hati

Leave A Reply

Your email address will not be published.