Fri, 4 April 2025

Mengenal Inflasi Hijau, Topik yang Sempat Disinggung dalam Debat Cawapres

Reporter: Sylva Anggraeni | Redaktur: Silmy Kaffah | Dibaca 742 kali

Sat, 27 January 2024
Sumber: Mediaedukasi.id
Sumber: Mediaedukasi.id

JURNALPOSMEDIA.COM – Istilah inflasi hijau (greenflation) atau green inflation ramai diperbincangkan usai dibahas oleh calon wakil presiden (cawapres) nomor urut dua, Gibran Rakabuming Raka. Inflasi hijau atau greenflation tersebut ditanyakan Gibran kepada cawapres nomor urut tiga, Mahfud MD dalam debat kedua cawapres, Minggu (21/1/2024).

Menanggapi pertanyaan tersebut, cawapres nomor urut tiga Mahfud MD kemudian memberikan jawaban. Ia mengaitkan jawaban tersebut dengan ekonomi hijau atau ekonomi sirkuler. Namun, pada debat tersebut Gibran kembali mempertanyakan jawaban yang telah diberikan oleh Mahfud MD. Menurutnya, Mahfud MD justru menjelaskan tentang ekonomi hijau dan bukan soal green inflation. Sontak debat tersebut pun meninggalkan pertanyaan-pertanyaan baru mengenai inflasi hijau. Lantas, apa arti inflasi hijau atau greenflation yang ditanyakan Gibran tersebut?

Mengenal lebih dekat inflasi hijau

Jika dilihat dari kata awalnya, greenflation merupakan istilah yang terdiri dari kata “green” yaitu hijau dan “inflation” yang berarti inflasi. Mengutip dari Kompas.com, inflasi hijau berkaitan erat dengan kenaikan harga material dan energi akibat transisi atau perubahan ke energi hijau. Fenomena ini terjadi ketika banyak kelompok-kelompok tertentu bahkan beberapa negara mulai bergerak untuk melakukan upaya menjaga lingkungan dan mengatasi perubahan iklim yang terjadi.

Namun, timbul masalah baru dari upaya yang dilakukan untuk menjaga lingkungan yaitu membuat biaya dan harga bahan baku yang harus dikeluarkan untuk menciptakan energi hijau menjadi lebih mahal. Akibatnya, terjadilah inflasi hijau atau kenaikan harga bahan-bahan strategis untuk infrastruktur secara terus-menerus dalam jangka waktu tertentu.

Kenaikan harga untuk kebijakan baru

Selain itu inflasi hijau juga dapat dirumuskan sebagai kenaikan harga barang akibat kebijakan lingkungan yang dibuat demi mengusung transisi ke energi hijau. Mengapa demikian? Saat melakukan transisi dari energi fosil ke energi terbarukan, akan muncul banyak permintaan pasar sehingga harga akan naik menyesuaikan dengan pasokan barang yang tersedia.

Meningkatnya pengeluaran untuk teknologi bebas karbon menyebabkan kenaikan harga bahan-bahan yang strategis untuk infrastruktur tersebut. Sementara itu, intensifikasi peraturan lingkungan hidup yang membatasi investasi pada proyek pertambangan yang berpolusi tinggi juga membatasi pasokan bahan baku.

Inflasi hijau dapat terjadi akibat beberapa tindakan. Misalnya saja, ketika pemerintah melakukan perubahan transisi energi ke energi terbarukan, akan ada beberapa material atau komoditas yang mengalami kenaikan harga. Contohnya seperti timah, nikel, bauksit, atau tembaga dan kenaikan harga tersebut terjadi karena tingginya permintaan. Oleh karena itu, transisi hijau menjadi lebih mahal karena penerapannya lebih luas oleh berbagai negara.

Bagikan :
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Terlama
Terbaru Suara Banyak
Inline Feedbacks
View all comments