Sun, 8 March 2026

Kisah Sukses Pengusaha Thrifting: Dari PHK hingga Raup Omzet Rp40 Juta

Reporter: IMRA AULIA ARDHANA/MAGANG | Redaktur: TSANIYA ZAHIRAH SHAFA | Dibaca 654 kali

(Sumber foto : Imra Aulia Ardhana/Magang)

JURNALPOSMEDIA.COM – Di antara deretan pedagang yang memenuhi Pasar Gasibu, Bandung, terdapat satu lapak yang selalu ramai pengunjung. Lapak itu milik Nandang, penjual celana thrift berkualitas untuk pria dan wanita dengan harga terjangkau.

Ia menjual celana dengan trend fashion terkini. Dengan harga yang ramah di kantong, celana modis ini jadi pilihan banyak orang

Nandang telah menjalani bisnis ini selama 16 tahun. Namun, perjalanan menuju kesuksesan tidak selalu mulus. Sebelum jadi pebisnis, ia bekerja di sebuah perusahaan swasta. Perusahaan tempatnya bekerja bangkrut, dan ia pun terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Dengan modal seadanya, ia mencoba peruntungan dengan berjualan telur asin. Dua tahun dijalani, tetapi bisnis itu harus tutup karena kesalahan eksperimen resep.

“Waktu usaha telur asin, karena saya kurang hati-hati dan mengikuti perkataan teman, terjadi kesalahan eksperimen resep  yang bikin semua telor asin busuk. Tapi dari situ saya belajar, dalam bisnis, kita harus teliti, hati-hati sebelum ambil keputusan, dan jangan mudah menyerah. Harus kreatif dan selalu cari cara buat bangkit lagi,” katanya lirih saat ditemui pada Jumat (23/5/2025).

Tak menyerah, Nandang bangkit kembali dengan membeli dua mesin jahit. Ia mulai memproduksi celana anak maupun dewasa untuk dipasok ke pasar sekitar. Tiga tahun dijalani, usaha tersebut terpaksa dihentikan karena bahan baku semakin mahal.

Pada tahun 2009, dengan semangat baru, Nandang kembali memulai usaha dengan melihat peluang di bisnis pakaian bekas impor, khususnya celana, yang ternyata menjadi titik balik dalam hidupnya

“Karena harga belinya murah, tapi kualitasnya bagus-bagus. Jadi, bisa dijual lagi dengan harga yang cukup tinggi. Modal kecil, untungnya lumayan besar. Apalagi tren thrifting sekarang makin banyak diminati,” jelasnya.

Ia kini menjual celana thrift secara offline setiap hari Minggu di Pasar Gasibu. Tak hanya itu, ia juga membuka toko online di Shopee dan TikTok Shop bernama Lyciny Store.

Setiap hari, anaknya membantu menjualkan celana melalui live streaming dari rumah. Langkah ini ia ambil karena melihat kebiasaan belanja masyarakat yang kini lebih sering dilakukan lewat handphone.

Untuk stok, ia memborong barang dari Pasar Gedebage, yang menjadi surga pakaian bekas di Bandung. Karena sudah punya banyak relasi, ia mendapat harga lebih murah jika membeli dalam jumlah besar, ia belanja 1–2 kali seminggu agar koleksi selalu baru dan pelanggan tidak bosan.

Soal pemasaran, Nandang punya jurus sederhana, yaitu dengan memahami kebutuhan pasar, sesekali adakan promo, dan selalu jaga kualitas serta pelayanan toko.

“Yang pertama, saya harus bisa membaca kebutuhan pasar yang lagi tren. Kadang saya juga memberikan promo agar pelanggan lebih tertarik. Yang terpenting adalah menjaga kualitas barang dan pelayanan, supaya pelanggan puas dan mau kembali lagi,” jawabnya.

Dari kegigihannya dalam menjalani usaha, Nandang kini berhasil meraih omzet hingga Rp40 juta per bulan saat ramai. Saat sepi, omzetnya tetap stabil di angka Rp28 juta, baik dari penjualan online maupun offline.

Kesuksesan Nandang bukan hanya karena kerja kerasnya, tapi juga karena kepercayaan para pelanggan. Salah satu pelanggan setia toko online milik Nandang adalah Herbayu. Tak disangka, pembelian pertamanya justru membuatnya jatuh hati pada kualitas produk dan pelayanan yang diberikan.

”Saya udah jadi langganan di toko ini. Awalnya cuman coba-coba, tapi setelah lihat kualitas produk, keamanahan, dan pelayanan yang ramah, saya merasa nyaman untuk terus berbelanja di sini,” ujar Herbayu saat diwawancarai pada Jumat (23/5/2025).

Ia juga memiliki tips khusus yang perlu dikuasai seorang pengusaha atau bahkan seseorang yang baru ingin memulai bisnis thrift adalah persiapan modal yang matang, ketekunan, kejujuran, dan kemampuan membaca selera pasar.

Ia menekankan bahwa bisnis thrift bukan sekadar menjual barang bekas, tetapi bagaimana mengemas barang tersebut agar tetap menarik, layak pakai, dan sesuai tren.

“Yang pertama siapin modal dengan matang, jaga kejujuran, punya kemauan kuat, dan jangan gampang nyerah. Harus hati-hati ambil keputusan, jeli lihat peluang pasar, dan tahu mana produk yang cepat laku. Yang nggak kalah penting, tentuin harga jual yang masuk akal dan sesuai kantong Masyarakat,” tegasnya.

Herbayu mengaku, memilih membeli celana bekas karena harganya jauh lebih terjangkau dibanding produk baru. Namun, ia tetap selektif sebelum membeli, ia selalu memperhatikan kualitas bahan serta memeriksa apakah ada kekurangan atau cacat pada celana tersebut.

“Pertama saya lihat kesesuaian harga dengan kualitas, walaupun bekas tapi bahannya bagus, masih like new dan nyaman dipakai, terus dicek apa ada minus dari barangnya kayak noda membandel, robekan, dan lain-lain,” tambahnya.

Bagikan :
guest
0 Komentar
Terlama
Terbaru Suara Banyak
Inline Feedbacks
View all comments