Fri, 21 June 2024

Teknologi AI dan Ancaman Keamanan Perempuan

Reporter: Nika Sarita Fauziah | Redaktur: Silmy Kaffah Mardhotillah | Dibaca 134 kali

Tue, 14 May 2024
(Sumber Ilustrasi: freepik.com)

JURNALPOSMEDIA.COM Artificial Intelligence (AI) menawarkan kemudahan dengan berbagai potensi luar biasa yang dimilikinya. Namun, di balik segala keuntungannya, tak jarang AI menjadi teknologi yang mengancam keamanan manusia, khususnya wanita dengan kejahatan yang bervariasi.

Teknologi selalu berkembang setiap harinya. Kemunculan AI yang beberapa tahun belakangan ini digunakan banyak orang untuk berbagai hal ternyata dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk berbuat kriminal.

Beberapa kasus menunjukkan penggunaan AI yang membawa risiko serius terhadap keamanan perempuan. Berbagai penelitian dan laporan juga telah mengungkapkan bagaimana teknologi AI dapat dimanfaatkan oleh pihak yang bermaksud jahat untuk mengancam, menyerang, dan menekan perempuan.

Ancaman yang Dihadapi Perempuan dari Teknologi AI

1. Pelecehan Digital dan Pencemaran Nama Baik

Manipulasi media sintetis melalui AI memungkinkan pembuatan foto dan video palsu yang sangat realistis. Ini meningkatkan dampak dari penyebaran konten yang merugikan secara emosional. Seperti yang disampaikan oleh Freedom House bagaimana perempuan sering menjadi sasaran utama dari pelecehan digital semacam ini, yang dapat merusak reputasi, karier, dan kesejahteraan mental mereka.

2. Penyusupan Privasi dan Pengawasan yang Mengerikan

Kemampuan AI dalam melacak dan menganalisis data secara besar-besaran membuka pintu bagi penyusupan privasi yang mengkhawatirkan. Perangkat pintar dan platform online dapat digunakan untuk memantau aktivitas. Menurut Human Rights Watch, teknologi pengenalan wajah dan sensor canggih lainnya dapat digunakan untuk mengintimidasi, mengawasi, dan bahkan membatasi gerak perempuan.

3. Penyebaran Propaganda dan Ekstremisme Online

Grup teroris semakin menggunakan teknologi AI untuk menyebarkan propaganda dan merekrut simpatisan. Perempuan sering menjadi target dengan pesan-pesan yang disesuaikan secara khusus untuk menarik mereka ke dalam jaringan ekstremis. Laporan dari United Nations Women menunjukkan bagaimana narasi-narasi yang dipersonalisasi dan manipulatif dapat memperkuat radikalisasi dan kekerasan berbasis gender.

Dalam menghadapi ancaman ini, langkah-langkah perlindungan dan respons yang kuat diperlukan dari pemerintah, lembaga penegak hukum, dan masyarakat. Kesadaran akan risiko yang terlibat dalam penggunaan teknologi AI harus ditingkatkan, bersama dengan penerapan regulasi yang ketat untuk melindungi hak-hak perempuan.

Organisasi-organisasi seperti UN Women dan Amnesty International telah mengambil tindakan yang lebih tegas dalam melindungi perempuan dari ancaman digital. Termasuk pengembangan pedoman etis untuk penggunaan teknologi AI, penguatan keamanan digital, dan penegakan hukum yang lebih ketat terhadap penyalahgunaan teknologi.

Partisipasi aktif perempuan dalam pengembangan dan implementasi teknologi AI juga menjadi penting. Pastikan suara mereka didengar dalam setiap tahap proses, kita dapat memastikan bahwa produk-produk dan kebijakan yang dihasilkan lebih memperhitungkan kebutuhan dan kepentingan perempuan.

Ancaman terorisme dari teknologi AI terhadap perempuan adalah masalah yang kompleks dan mendesak. Hanya dengan kerjasama pemerintah atas hukum dan upaya bersama, kita dapat melindungi perempuan dari konsekuensi yang merugikan dan memastikan bahwa teknologi AI digunakan untuk mendorong kemajuan dan kesetaraan, bukan untuk mengancam dan menekan.

Bagikan :
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments